Penangkapan Berlebihan, Ikan Kapuas Hulu Terancam Punah

Kapuas Hulu

Editor Angga Haksoro Dibaca : 366

Penangkapan Berlebihan, Ikan Kapuas Hulu Terancam Punah
Putussibau, SP - Ketua DPRD Kapuas Hulu, Rajuliansyah meminta masyarakat memperhatikan kelestarian ekosistem sungai dan danau. Populasi ikan di sungai dan danau Kapuas Hulu berkurang drastis.  

Menurut Rajuliansyah, dulu Kapuas Hulu adalah penghasil ikan air tawar terbanyak, saat ini kondisi tersebut berubah dimana ikan sulit didapat oleh para nelayan.  

“Dulu dalam sehari nelayan mampu menangkap ikan sampai puluhan kilo bahkan ratusan kilo. Sekarang mencari untuk konsumsi pribadi saja susah,” kata Rajuliansyah, Jumat (19/10).  

Populasi ikan saat ini jauh berkurang, untuk itu diperlukan kesadaran masyarakat untuk melestarikan ekosistem sungai dan danau. “Kita sudah membuat Perda terkait pengaturan alat tangkap ikan, tujuannya agar nelayan tidak menangkap ikan yang berukuran kecil, sehingga ikan itu bisa berkembang biak menjadi besar,” ujarnya.  

Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir menyampaikan, para nelayan mulai saat ini harus ikut memikirkan keberlangsungan ekosistem sungai dan danau. “Saat ini ada beberapa jenis ikan sudah mulai langka sebagai contoh ikan belidak dan ikan lainnya,” kata Abang Muhammad Nasir.  

Agar masyarakat tidak mengambil ikan sembarangan, diperlukan aturan soal alat tangkap dan ukuran ikan yang boleh dikonsumsi. “Termasuk sanksi bagi pelaku pelanggaran juga diatur,” katanya.  

Harga ikan di Bumi Uncak Kapuas saat ini tergolong mahal. Ikan gabus dijual Rp 50-60 ribu/kilogram, seladang Rp 150- 170 ribu/ kilogram, dan baong Rp 60-70 ribu/kilogram.  

“Saya biasa membeli ikan di Pasar Pagi Putussibau, harganya lebih mahal dari harga ayam yang hanya Rp 45-50 ribu/kilogramnya,” kata Bakri, warga Putussibau. (sap).