Petikah, Sejarah Penjajahan Jepang yang Terlupakan

Kapuas Hulu

Editor Angga Haksoro Dibaca : 341

Petikah, Sejarah Penjajahan Jepang yang Terlupakan
Upaya penggalian sejarah Petikah
Putussibau, SP - Belakangan Desa Nanga Dua, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu menjadi pusat perhatian lantaran akan menjadi lokasi usaha pertambangan perusahaan asing.   

Diyakini perut bumi Desa Nanga Dua mengandung emas. Berdasarkan penelusuran masyarakat setempat, tidak hanya emas yang terkadung di sana tapi juga batu sinabar (bahan pembuat merkuri) yang oleh warga setempat disebut batu tungau.  

Terlepas soal potensi pertambangan di Nanga Dua, tidak banyak orang yang tahu desa itu pernah menjadi saksi sejarah kekejaman Jepang semasa Perang Dunia II.  

“Di sini (Petikah) dulu pernah terjadi pembantaian manusia oleh Jepang,” kata pemandu sejarah Petikah, Simon Supeno, Sabtu (3/11).  

Supeno menyayangkan, sudah 73 tahun Indonesia merdeka tapi Desa Nanga Dua sebagai tempat bersejarah belum diperhatikan pemerintah. “Banyak bukti sejarah peninggalan Jepang, salah satunya tiang bangunan kantor Japang masih ada sampai sekarang,” tuturnya.  

Menurut Supeno tidak hanya warga Desa Nanga Dua saja yang menjadi korban kekejaman Japang. Warga dari daerah lain juga ada yang menjadi korban pembantaian tersebut. “Tujuan Jepang ke Nanga Dua itu dulunya untuk mencari batu tungau.”  
Dalam upaya mencari batu sinabar, Jepang memperkerjakan paksa warga pribumi. Warga dipaksa menggali lubang, mengangkut batu, dan membuat jalan. “Lubang-lubang bekas galian dan jalan yang dibuat jaman Jepang juga masih ada,” kata Supeno.  

Tidak hanya itu, tentara Jepang juga memperkosa perempuan warga desa di tempat pemandian sungai Petikah. “Yang diperkosa mereka itu, para pekerja paksa dari China, India, dan warga pribumi,” jelasnya. (sap)