Kamis, 19 September 2019


Sarbani Usulkan Pendirian Pabrik Karet di Kapuas Hulu

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 252
Sarbani Usulkan Pendirian Pabrik Karet di Kapuas Hulu

PUTUSSIBAU, SP - Pj Sekda Kapuas Hulu, H. Sarbani, berpendapat untuk meningkatkan harga jual getah karet, yakni dengan mendirikan pabriknya di wilayah Bumi Uncak Kapuas.

Dijelaskannya bahwa dulu, Pemda Kapuas Hulu sudah pernah merencanakan pengusulan pendirian pabrik karet, namun hal tersebut belum bisa terealisasi. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama semua pihak dalam mendongkrak harga karet.

"Jika harga karet stabil, maka diyakini akan mampu mensejahterakan masyarakat Kapuas Hulu," katanya, belum lama ini.
Ke depan, menurut Sarbani, pendataan produksi karet Kapuas Hulu harus disampaikan, sehingga diketahui berapa jumlah petani karet dan jumlah karet yang dihasilkan.

"Pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan mutu karet juga perlu dilakukan, sebab berimplikasi pada kenaikan harga komoditi karet yang menjadi mata usaha masyarakat," tuturnya.

Menurutnya, dulunya karet merupakan sumber mata pencaharian masyarakat di Kapuas Hulu. Namun karena harganya anjlok, jadi masyarakat beralih ke usaha lain.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kapuas Hulu, Abdurrasyid mengatakan, kegiatan pemberdayaan sudah dilakukan bekerja sama dengan pihak terkait, dalam hal ini Forclime dan Giz.

"Seperti di Kecamatan Mentebah, ada dua kelompok di sana yang didominasi oleh kaum ibu-ibu," katanya.

Tujuan kerja sama tersebut, kata dia, secara khusus untuk pemberdayaan petani bidang perkebunan karet, di mana upaya ini untuk meningkatkan harga komoditi karet yang masih anjlok.

"Kerja sama dalam rangka di bidang perkebunan karet. Guna meningkatkan mutu karet. Karena sampai sekarang harga karet memang anjlok, namun sampai hari ini hasil pengamatan kami ada peningkatan, karena karet dibeli agen ada tiga kategori harga karet, sesuai mutunya," paparnya.

Sebagai contoh, karet sadap dalam mangkok atau masyarakat biasa menyebutnya karet bakwan, karet sadap yang menggunakan bambu atau buluh tidak direndam, karet dengan kadar air rendah.

Salah satu petani karet, Darwin, meminta kepada Pemda agar menaikkan harga jual karet, serta menampung penjualan karet lokal yang kemudian diproduksi menjadi bahan olahan jadi atau setengah jadi.

"Kalau bisa, kita sudah jual dalam produk jadi, seperti sendal, sepatu, alas kaki, dan banyak lagi lainnya," ucapnya. (sap/lha)