Kamis, 30 Januari 2020


27,7 Persen Anak di Kapuas Hulu Alami Stunting

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 128
27,7 Persen Anak di Kapuas Hulu Alami Stunting

WORKSHOP - Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammas Nasir, membuka Workshop Percepatan Penurunan Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan di wilayah Kapuas Hulu, di aula Bappeda Kapuas Hulu, Selasa (3/12). IST

PUTUSSIBAU, SP - Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammas Nasir, membuka Workshop Percepatan Penurunan Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan di wilayah Kapuas Hulu, di aula Bappeda Kapuas Hulu, Selasa (3/12).

Dalam kesempatan tersebut, Nasir menyampaikan keadaan gizi masyarakat Indonesia saat ini, masih belum mengembirakan. Satu di antara masalah tersebut adalah stunting (pendek). 

Dijelaskannya, stunting akibat kekurangan gizi yang terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tidak hanya menyebabkan hambatan pada pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, namun juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak. 

Hal itu juga menjadi risiko terjadinya gangguan metabolik yang berdampak pada risiko terjadinya penyakit degeneratif (diabetes melitus, hiperkolesterol, hipertensi) di usia dewasa.

”Prevalensi stunting merupakan salah satu masalah gizi terbesar pada balita di Indonesia. Hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018, menunjukkan sebanyak 30,8 persen balita menderita stunting. Proporsi status gizi pendek dan sangat pendek pada bayi di bawah dua tahun (baduta) mencapai 29,9 persen atau lebih tinggi dibandingkan target RPJMN 2019, yaitu sebesar 28 persen,"paparnya

Ia melanjutkan, hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) balita di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu pada 2019, terdapat 27,7 persen (sekitar 1.922) anak usia bawah dua tahun menderita stunting (pendek). 

Padahal, apabila stunting terjadi pada masa baduta, namun mendapatkan intervensi dengan benar sesuai dengan standar, akan mampu meminimalisasi segala dampak yang disampaikan di atas. 

"Tingginya prevalensi stunting saat ini, menunjukkan bahwa terdapat permasalahan mendasar, yaitu ketidaktahuan masyarakat terhadap faktor-faktor penyebab stunting dan pemberian pelayanan kesehatan yang belum sesuai standar, baik di tingkat masyarakat maupun di fasilitas pelayanan kesehatan yang mendorong terjadinya stunting,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk setiap kelompok sasaran sesuai perannya dalam pencegahan stunting menjadi penting. 

Dengan meningkatnya pengetahuan tersebut, diharapkan kelompok sasaran dapat melakukan perubahan perilaku yang mendukung pencegahan stunting. 

"Di tingkat masyarakat, tenaga pelayan kesehatan diharapkan memiliki pengetahuan yang baik tentang stunting, sehingga dapat memberikan informasi dengan benar, melakukan intervensi layanan kesehatan dengan tepat, serta membangun kepercayaan masyarakat agar akhirnya dapat terdapat perubahan perilaku pencegahan stunting yang signifikan," tuturnya.

Selain itu, permasalahan di tingkat kebijakan yang belum konvergen dan memberikan dukungan terhadap pencegahan stunting, juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya percepatan pencegahan stunting di Kabupaten Kapuas Hulu.

"Anak merupakan generasi penerus yang berpotensi untuk mewujudkan kualitas kelangsungan hidup bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa, anak harus dipersiapkan sejak dini dengan upaya yang tepat, terencana, intensif, dan berkesinambungan agar tercapai kualitas tumbuh kembang fisik, mental, intelektual, sosial, dan spiritual tertinggi,” pungkasnya. (sap/lha)