Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid: Keppres Sail Karimata 2016 Sudah Sampai di Kantor Seskab

Kayong Utara

Editor sutan Dibaca : 1159

Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid:  Keppres Sail Karimata 2016 Sudah Sampai  di Kantor Seskab
MENINJAU- Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid (kanan baju putih) dan Wakil Bupati Idrus ketika meninjau lahan di kawasan Pantai Pulau Datuk yang sedang dibenahi, Kamis (4/2). Jelang perhelatan akbar Sail Karimata, pemkab setempat mulai membenahi sejumlah in
 SUKADANA, SP – Meskipun Keputusan Presiden (Keppres) tentang Sail Karimata belum juga ditandatangani, namun Bupati Kayong Utara (KKU), Hildi Hamid mulai membenahi sejumlah infrastruktur dan sarana pendukung iven tersebut.  

 “Saya pekan kemarin ke Jakarta untuk menemui Menko Maritim. Ada perbaikan sedikit mengenai Keppres, saat ini sudah sampai di Seskab (Sekretaris Kabinet). Janjinya, Keppres ini akan keluar awal Februari," katanya saat meninjau lahan di kawasan Pantai Pulau Datuk, Sukadana,  yang sedang dibenahi, Kamis (4/2).

Menurut Hildi, Keppres menjadi sangat penting guna membangun segala infrastruktur Sail Karimata karena berfungsi sebagai  payung hukum.

Karena itu Hildi  berharap agar segala pembangunan yang masuk di wilayah KKU, dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
  "Ini sesuai dengan program pemerintah pusat, yakni, untuk meningkatkan mutu ekonomi masyarakat di daerah tertinggal, melalui kegiatan Sail Karimata," tambah Hildi.
 
Menurutnya,  Keppres tersebut juga sangat penting karena menjadi acuan atau dasar hukum bagi pihak kementerian maupun lembaga terkait yang ingin mengintervensi pembangunan di KKU.
 
Hildi menambahkan,  pemerintah daerah sudah mengalokasikan anggaran dari APBN untuk menata daerah. Terutama di wilayah perkotaan yang menjadi acara puncak Sail Karimata. Bahkan beberapa pekerjaan lelang bisa dilakukan dalam waktu dekat.
 
 
“Kami sudah mengalokasi anggaran untuk menata kota. Pembenahan infrastruktur dan pembebasan lahan mulai berjalan. Bahkan saya sudah menunjuk pihak event organizer  (EO) di  pameran nanti, dan akan segera melelang pelaksanaan EO secara keseluruhan,” tambah Hildi.
 
Mengacu pada kegiatan Sail Tomini, tambah Hildi, Presiden Joko Widodo memang kelihatan kurang puas atas berbagai kegiatan yang disuguhkan. Sebab, Sail Tomini identik dengan kegiatan kapal perang.
 

Karena itu berharap agar Sail Karimata dapat menjadi tempat berkumpulnya perahu yachter dan perahu nelayan masyarakat setempat.
 “Selama Sail Tomini kemarin, beliau (presiden) juga sempat kaget, karena kegiatannya diisi dengan parade kapal perang. Kapal nelayan dan yachter tidak ada. Inilah yang menjadi perhatian kita. Kemarin di Jakarta, saya juga berkoordinasi dengan operator Yayasan Bahari. Mereka siap mendatangkan para yachter ke Kayong Utara,” tuturnya.

 Sementara itu, Kepala Dinas Dinas Kebudayaan Pariwasata Pemuda dan Olahraga KKU, Mas Yuliandi memastikan bahwa yacht akan berlabuh di perairan Karimata pada puncak acara Sail Karimata. Yuliandi  mengaku sudah berkoordinasi dengan Direktur Eksekutif Yayasan Cinta Bahari Antar Nusa Raymond T Lesmana, terkait jadwal rute pelayaran yacht.

Bahkan saat ini, tambahnya,  sudah terdaftar 70 yacht yang akan melakukan perjalanan ke perairan Indonesia.

 “Saya memastikan, karena tahun lalu tidak ada yacht yang masuk. Jadi,  saya mencoba memastikannya dengan pak Raymond,” katanya.
 
Adapun lokasi-lokasi persinggahan  yacht tersebut, yakni Kabupaten Kota Waringin Barat Kecamatan Kumai di Kalimantan Tengah, serta Kabupaten Ketapang dan KKU di Kalbar.

 
“Rutenya,  mereka masuk dari Kalimantan, lalu singgah di Kumai, Ketapang, kemudian ke Sukadana (Kayong Utara). Saat berlabuh di Pantai Pulau Datuk, mereka akan naik ke darat, itu yang kita harapkan,” terang Yuliandi.
 
Menurut Yuliandi,  masih banyak warga yang belum memahami manfaat Sail Karimata. Padahal, seharusnya KKU yang ditunjuk sebagai tuan rumah, harus bersyukur karena banyak daerah lain yang ingin mengambil bagian.
 

"Apalagi  program pemerintahan ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan daerah tertinggal. Ini merupakan program keterpaduan lintas kementrian atau tingkat pusat, untuk percepatan pembangunan daerah tertinggal. Maka dibuatlah acara Sail Karimata ini. Banyak daerah yang berebut ingin menjadi tuan rumah, karena akan banyak pembangunan yang masuk,” imbuhnya.
 
Karena itu masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dan memanfaatkan Sail Karimata. "Pemerintah bahkan sudah melakukan pemberdayaan kepada kalangan pemilik penginapan, rumah makan,  dan lain sebagainya," tegas Yuliandi.

Kebudayaan Jadi Daya Tarik

Direktur Eksekutif Yayasan  Cinta Bahari Antar Nusa, Raymond T Lesmana menyatakan, ketika bangsa Indonesia mulai meninggalkan kapal layar (yacht), justru dunia membuat industri yacht.
  Para pemilik yacht  tersebar di berbagai penjuru dunia.

 Sebagian besar di antara mereka berprofesi sebagai pensiunan, pengusaha, pengembara, miliuner, surveyor atau pemilik bisnis kapal carter.

 “Mereka berlayar karena ingin mengenal budaya dan kehidupan bangsa lain. Mereka ingin melihat dunia, humaniter atau perjalanan kemanusiaan serta travelling revival,” ungkap

Raymond di Sukadana, beberapa waktu lalu. Saat berada di tempat persinggahan, tambah Raymond, biasanya para yachter membutuhkan keterangan mengenai titik labuh, koordinat, pasang surut, dasar laut, lingkungan alam serta sosial.

“Selain itu, mereka juga memerlukan sarana dan prasarana di laut  seperti mooring atau jangkar, atau sarana di darat seperti pusat informasi, jaminan keamanan, suplai bahan bakar dan jaringan telekomunikasi serta bank,” katanya. “Aksesibilitas, destinasi wisata dan nuansa budaya juga menjadi daya tarik mereka untuk hadir di Indonesia, khususnya KKU,” tambah Raymond.(ble/bob)