Harum Dupa Merebak di Kampung Bali, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat

Kayong Utara

Editor sutan Dibaca : 1559

Harum Dupa Merebak di Kampung Bali, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat
PENARI CILIK- Remaja putri di Kampung Bali, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar sedang menari Bali. (Dok. SUARA PEMRED)Kayong Utara
Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Rabu (10/2). Hari itu, umat Hindu asal Bali yang sudah puluhan tahun tinggal di Sedahan, memperingati Hari Raya Galungan.  

Sebagaimana di Bali dan wilayah-wilayah lain di Indonesia yang juga dihuni umat Hindu, berbagai acara ritual agama tersebut digelar pula di Kampung Bali. Di kawasan inilah,  warga asal Pulau Dewata tersebut sudah tak menganggap atau dianggap sebagai orang luar. 
 

Warga setempat dengan  tangan terbuka menerima kehadiran mereka  sehingga dua generasi asal Bali yang tinggal  sejak dekade 1960-an pun sudah merasa bagian dari warga KKU.

Karakter Suku Bali yang mudah bergaul, semakin mempercepat penerimaan warga terhadap mereka.
  "Mereka sudah menjadi bagian dari masyarakat Kayong," kata Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid ketika memimpin Press Trip Festival Karimata 2015 di Kampung Bali, Oktober lalu.  

Jika menilik sejarahnya, keberadaan Kampung Bali berawal dari kedatangan 38 kepala keluarga (KK) transmigran asal Pulau Dewata pada 1963 ke wilayah tersebut, yang kini bernama KKU. 

Perpindahan penduduk akibat meletusnya Gunung Agung pada 1963.
    Ribuan warga kala itu dipindahkan oleh pemerintah pusat ke Kalbar dan Sumatera. Kalangan transmigran ini sempat singgah di Kota Pontianak. Karena warga Bali ini adalah petani, mereka kemudian memilih menetap di KKU setelah melihat suburnya kondisi lahan di wilayah tersebut.

Sebagaimana diakui Ketut Sukawan, tokoh adat Kampung Bali, sejak itu pula kaumnya membuka lahan pertanian sekaligus pemukiman yang kemudian dinamakan Desa Sedahan Jaya.

Menurutnya, rumah-rumah yang awalnya berupa pondok akhirnya menjadi hunian yang semuanya layak pada 1977. “Tahun itu juga kami membangun Pura Giri Amertha Buwana. Sekarang kami sudah 125 KK. Kami seterusnya menetap karena semua warga merasa nyaman di sini karena warganya terbuka,” kata pemegang gelar adat Liang Banjar ini.

Upaya pengembangan seni dan budaya pun dipacu. Caranya,  antara lain mendatangkan para penari langsung dan  Bali.
Ketut Sukawan atas nama warga Kampung Bali juga mengaku, upaya itu lebih tertolong lagi ketika tokoh besar Kalbar, Oesman Sapta yang juga Wakil Ketua MPR RI dan anggota DPD RI, menyumbangkan seperangkat gamelan.
  Tak heran jika Desa Sedahan Jaya menjadi 'kawasan Bali'.

Di desa inilah setiap tahun berlangsung upacara Galungan. Hari raya itu untuk memperingati kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan Adharma (Kejahatan) dalam kepercayaan umat Hindu.

Rangkaian ritual Galungan ditandai dengan semerbak alunan dupa yang mengharumkan jagat.
  Umat Hindu menyambut Galungan  dengan keheningan tirta dan upaya menyucikan pikiran.

Mereka menyatu dalam cakupan tangan untuk bersyukur kehadapan Ide Sang Hyang Widi Wasa atas anugrah yang telah diberikan-Nya.
  Bagi umat Hindu, Hari Raya Galungan  mempunyai cerita sendiri.

Zaman dahulu, hidup seorang raja keturunan raksasa yang sangat sakti dan berkuasa bernama Mayadanawa. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa mampu berubah wujud menjadi apa saja.

Mayadenawa menguasai daerah yang luas, meliputi Makassar, Sumbawa, Lombok,  dan Blambangan. Raja ini terkenal kejam, dan tidak mengijinkan rakyatnya untuk memuja dewa serta menghancurkan semua pura yang ada. Rakyat tidak berani melawan karena
kesaktian Mayadenawa.

Alkisah, seorang pendeta bernama Mpu Kulputih sangat sedih melihat melihat kondisi rakyat sehingga bersemedi di Pura Besakih. Sang pendeta  memohon petujuk para dewa untuk mengatasi Mayadenawa. Mahadewa kemudian memerintahkan Mpu Kulputih beliau pergi menuju Jambu Dwipa (India) untuk meminta bantuan.

Singkat cerita, bantuan pasukan datang dari India dan kahyangan untuk memerangi Mayadenawa yang dipimpin Dewa Indra. Namun,  Mayadenawa sudah mengetahui kedatangan pasukan ini berkat banyaknya mata-mata. Perang dashyat pun terjadi dengan korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Pasukan Mayadenawa kocar-kacir dan melarikan diri meninggalkan sang. Namun,  Mayadenawa belum mau menyerah begitu saja. Pada malam hari kala jeda perang, Mayadenawa diam-diam menyusup ke tempat pasukan kahyangan dan memberi racun pada sumber air mereka. Agar tidak ketahuan, Mayadenawa berjalan hanya dengan menggunakan sisi kakinya. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan Tampak Siring.

Pagi harinya, pasukan kahyangan meminum air dan keracunan. Mengetahui racun itu berasal dari sumber air, Dewa Indra menciptakan mata air baru yang sekarang dikenal dengan Tirta Empul. Berkat Tirta empul, semua pasukan yang keracunan bisa pulih kembali. Sungai yang terbentuk dari Tirta Empul kemudian dikenal dengan nama Tukad Pakerisan.

Dewa Indra mengejar Mayadenawa yang melarikan diri dengan pembantunya. Dalam pelarian, Mayadenawa sempat mengubah wujudnya menjadi Manuk Raya (burung besar). Tempatnya berubah wujud sekarang dikenal dengan Desa Manukaya.

Namun,  Dewa Indra terlalu sakti untuk dikelabui sehingga selalu mengetahui keberadaan Mayadenawa walaupun sudah berubah wujud berkali-kali. Sampai akhirnya,  Dewa Indra mampu membunuh Mayadenawa. Darah Mayadenawa mengalir dan menjadi sungai yang dikenal dengan Tukad Petanu.

Sungai ini konon telah dikutuk. Bila airnya digunakan untuk mengairi sawah, padi akan tumbuh lebih cepat namun darah akan keluar di saat panen dan mengeluarkan bau. Kutukan akan berakhir setelah 1.000 tahun.

Kemenangan Dewa Indra atas Mayadenawa kemudian menjadi simbol kemenangan kebaikan (Dharma) melawan kejahatan (Adharma) yang diperingati sebagai Hari Galungan.(patrick ws)