PN Ketapang Vonis Terdakwa Cabul 13 Tahun Penjara

Kayong Utara

Editor sutan Dibaca : 802

PN Ketapang Vonis Terdakwa Cabul 13 Tahun Penjara
ILUSTRASI (news.viva.co.id)
SUKADANA, SP – JL (35) pelaku pelecehan seksual terhadap anak tirinya, yang terjadi di Kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara (KKU), awal tahun lalu. Akhirnya divonis hukuman kurungan penjara selama 13 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ketapang. Hal ini dibenarkan Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kayong Utara, Syaeful Hartadi, Kamis (30/6). “Ia benar. Sesuai putusan Pengadilan Negeri Ketapang, Selasa (28/6) kemarin. Hakim telah memutuskan hukuman kurungan penjara selama 13 tahun terhadap JL (35) pelaku pelecehan seksual terhadap anak tirinya,” katanya. Korban diketahui merupakan salah seorang siswi sekolah di Pulau Maya, kini tengah hamil enam bulan akibat perbuatan ayah tirinya. Menurutnya, putusan yang ditetapkan oleh hakim sudah cukup berat. Hal tersebut dilihat dari prilaku tersangka yang tega melakukan perbuatan tidak terpuji terhadap anak tirinya. Untuk itu, dirinya berharap, agar kasus serupa tidak terulang kembali di wilayah KKU. “Dalam persidangan, hakim menyatakan Indonesia saat ini sudah dalam kondisi darurat kekerasan seksual terhadap anak. Satu di antaranya, terjadi di Pulau Maya,” ungkap Syaeful Hartadi. Menurutnya, proses persidangan berjalan dengan baik, selaras dengan apa yang diharapkan semua pihak. Hanya saja, usai persidangan sempat terjadi keributan kecil, terkait putusan yang diterima oleh tersangka. "Proses persidangan alhamdulillah dapat berjalan lancar. Sesuai dengan apa yang kita harapkan. Keluarga korban dan korbannya pun saya rasa cukup puas atas putusan yang ditetapkan oleh hakim,” ucapnya. Untuk saat ini, korban dalam perlindungan pihak keluarga. Sembari menunggu proses melahirkan. Bahkan, jika masih dimungkinkan, korban berhendak inginan kembali ke sekolah, pasca persalinan. “Usai melahirkan, jika memang dapat kembali sekolah, korban ingin kembali bersekolah. Itu informasi yang saya dapat tentang korban untuk saat ini. Saya rasa keinginannya untuk kembali belajar masih cukup tinggi di dalam dirinya (korban-red),” terang Syaeful Hartadi. Terkait peristiwa ini, dirinya berharap ada upaya pencegahan. Seperti dibentuknya satgas perlindungan anak di masing-masing desa. "Kita harapkan ada satgas perlindungan anak di masing masing desa. KPAD sendiri tentunya memiliki keterbatasan tenaga. Dan itu tentunya sangat membantu kita semua,” tuturnya. (ble/bob/sut)

Komentar