Langganan SP 2

Tahun 2016, Kayong Utara Surplus Beras Hingga 26 Ribu Ton

Kayong Utara

Editor sutan Dibaca : 452

Tahun 2016, Kayong Utara Surplus Beras Hingga 26 Ribu Ton
ILUSTRASI Petani (bisnis.news.viva.co.id)
SUKADANA, SP – Sejak tahun 2014 hingga sekarang, Kabupaten Kayong Utara terus mengalami surplus beras. Kondisi ini, membuat kabupaten tetangga menjadi daerah sasaran pemasaran hasil tani, seperti Ketapang dan Kubu Raya.

“Hingga 2016, surplus mencapai kira-kira hampir 26 ribu ton,” kata Fathul Bahri, Kepala Seksi Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Perternakan Kabupaten Kayong Utara, .

Menurut Fathul, ada sejumlah faktor yang mempengaruhinya di antaranya laju alih fungsi lahan tidak terlalu cepat, termasuk pembukaan kebun dan segala macam lainnya. Pasalnya, dari tahun 2014 hingga 2016 tidak ada penambahan lahan pertanian baru.

  
“Dari Kecamatan Seponti dan Pulau Maya mereka memasarkannya ke Kubu Raya. Sementara Kecamatan Sukadana memasarkan ke Kabupaten Ketapang. Kecamatan Teluk Batang hanya untuk memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri,” ungkap Fathul.

Sedangkan Kecamatan Simpang Hilir justru memperoleh stok dari Teluk Batang dan Sukadana. Ini dikarenakan wilayah di kecamatan hulu Kayong Utara ini diisi oleh lahan perkebunan, dan rata-rata produksi pertaniannya rendah. “Sehingga belum bisa memenui kebutuhan masyarakatnya,” ungkapnya.

Fathul mengatakan, permintaan pasar akan beras yang dihasilkan oleh Kayong Utara ini, tergantung dari permainan pasar. “Tingginya permintaan beras, dikarenakan petani baru habis panen dan baru mulai musim tanam. Tetapi pada saat seluruh petani yang ada di Kayong Utara mengalami musim panen, permintaan berkurang,” ungkapnya.

Jika berbicara kualitas, lanjut Fathul,  beras yang dihasilkan oleh petani Kayong Utara, sama dengan wilayah lainnya, seperti Ketapang.  
 

Menurut Fathul, jika produktivitas beras sampai lima ton, itu sudah mendekati tingkat Nasional.  Artinya, kualitas dan produksi beras Kayong Utara sudah hampir selevel dengan pulau Jawa.

“Kayong Utara masih dikisaran 2,7 ton hingga 3 ton per hektare, masih di bawah standar Nasional. Tetapi untuk kebutuhan masyarakat, karena jumlah penduduknya masih sedikit, Kayong Utara termasuk daerah surplus beras,” katanya.


“Kita terbantu dengan luas lahan dan luas tanam. Harga jual beras yang diambil dari tangan penggiling seharga Rp.8.500 per kilogram. Sementara gabah hanya sekitar Rp. 4.000 hingga Rp.4.200 per kilogramnya,” tuturnya. (ble/bob
/sut)

Komentar