Pemkab KKU Gelar Apel Hari Berkabung Daerah

Kayong Utara

Editor Kiwi Dibaca : 451

Pemkab KKU Gelar Apel Hari Berkabung Daerah
UPACARA - Wakil Bupati Kayong Utara, Idrus memimpin Apel Hari Berkabung Daerah (HBD) di Balai Paraja, Kantor Bupati Kayong Utara, Kamis (6/7).
SUKADANA, SP - Zaman pendudukan Jepang lebih menyeramkan dari pada masa pendudukan Belanda. Peristiwa mandor terjadi akibat ketidaksenangan penjajah Jepang terhadap para pemberontak. Karena ketika itu Jepang ingin menguasai seluruh kekayaan yang ada di bumi Kalbar.  

Demikian disampaikan Wakil Bupati Kayong Utara, Idrus saat memimpin Apel Hari Berkabung Daerah di Balai Praja, Kantor Bupati Kayong Utara, Kamis (6/7).  

Apel berkabung dihadiri Anggota DPRD KKU, Rawi Naim dan Buchori, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta para pejabat dan staf di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kayong Utara.   

Apel yang seyogyanya dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Kayong Utara, namun terpaksa dipindahkan ke Balai Praja. Pasalnya, hingga apel berlangsung hujan tak kunjung reda. Akibatnya, Banyak peserta tidak bisa mengikuti upacara, mengingat ruangan yang tersedia tidak mampu menampung ratusan orang  

Hari Berkabung Daerah (HBD), dikatakan Idrus merupakan peristiwa Mandor berdarah, yakni peristiwa pembantaian sekitar 21.037 masyarakat Kalbar oleh kekejaman tentara Jepang pada 72 tahun silam atau tanggal 28 Juni 1944.   

"Peristiwa Mandor adalah sebuah sejarah masa kelam yang pernah terjadi di Kalbar, peristiwa itu terjadi pada tahun 1943 sampai 1944 di daerah Mandor Kabupaten Landak," terangnya.  

Menurut sejarah hampir terdapat 21.037 jumlah masyarakat yang di bunuh oleh Jepang. Namun, dibantah oleh pihak Jepang, yang menganggap korban hanya berkisar 1.000 orang.    

"Peristiwa Mandor tersebut ditetapkan sebagai Hari Berkabung Daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2007 yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat," kata Idrus. (ble/hms/bob)
 

Komentar