Buat Kantuk, Melky Minta Hentikan Full Day School

Kayong Utara

Editor Tajil Atifin Dibaca : 134

Buat Kantuk, Melky Minta Hentikan Full Day School
BELAJAR – Tampak suasa belajar-mengajar di SMA Negeri 1 Sukada, Kayong Utara, belum lama ini. Kebijakan sekolah sehari penuh
SUKADANA, SP – Kebijakan sekolah sehari penuh atau Full Day School (FDS) yang diterapkan di SMA Negeri 1 Sukadana, Kayong Utara mendapat keluhan dari siswa. Melky misalnya, satu di antara murid sekolah itu mengaku kelelahan mengikuti padatnya mata pelajaran yang ia terima setiap masuk kelas. "Pulangnya saja sudah sore.

Belum lagi harus ngerjakan tugas. Belum lagi kami mau istrahat di rumah. Bahkan saking lelahnya tidak jarang ada yang tertidur di kelas," kata Melky, kemarin.

Diakuinya , dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu dirinya sebagai siswa tidak bisa berbuat apa-apa. "Sebenarnya kami pun tidak bisa menolak apa yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Karena yang membuat aturan ini adalah pemerintah. Jadi kami hanya bisa ikut saja. Kalau lanjut, lanjut. Tapi kalau mau hentikan Alhamdulillah," ungkapnya. Dia mengatkan, jika diizinkan menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo dirinya berharap kebijakan sekolah sehari penuh ini dihentikan.

"Karena banyak siswa yang mengeluh. Apa lagi kadang ada yang tertidur di kelas, pulangnya terlalu sore. Kalau boleh jujur ndak apalah Sabtu sekolah asal ini dihentikan," pungkasnya. Sementara itu, pernyataan siswa ditepis oleh Kepala SMA Negeri 1 Sukadana, Erik Yuniastuti. Dia mengatakan, sebenarnya untuk pemberlakuan sekolah sehari penuh ini sudah berjalan sejak dimulainya ajaran baru.

"Sudah berjalan 3 bulan, sejak awal ajaran baru kemarin. Tentunya berdasarkan mandat dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar. Dan sekolah kami ini menjadi rujukan untuk di Kabupaten Kayong Utara," sambungnya.

Penetapan sekolah sehari penuh tentu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang selanjutnya disampaikan kepada pihak Dinas Pendidikan Kayong Utara. Dan mengenai arahan itu, sekolah kemudian mengambil kebijakan sekolah sehari penuh.

Dia menambahkan, terkait itu juga telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan, melalui Kabid Pendidikan Menengah dan telah disetujui.

“Bahkan ini pun telah kami sampaikan kepada teman-teman MKKS, ternyata di Kayong Utara ada 10 sekolah yang telah menjalani sekolah sehari penuh dari tingkat SMA dan SMK," lanjutnya. Namun diakui, penetapan ini adalah hal baru dan tentunya memiliki kendala. Apa lagi dalam penyelenggaraannya ada yang tidak komitmen.

"Sudah pasti, hal baru pasti ada kendala. Biasanya masalah komitmen. Karena ada beberapa orang yang tidak mampu dalam menjalankannya.

Dan pada prinsipnya kebijakan ini satu hari sebanyak delapan jam waktu belajar," tambahnya.

Dia menilai, saat ini siswa sudah dapat menjalani hal yang baru ini. Hal tersebut dengan adanya kegiatan hingga sore hari cukup antusias siswa mengikutinya.

"Untuk istrahatnya kita ada dua kali. Jadi ada makan siang, dan untuk waktu salat nya. Bahkan juga ada orangtua yang mengantarkan makan siang ke sekolah untuk anaknya. Dan saya rasa siswa cukup baik dalam menjalankannya," ungkap dia. (ble/ang)