Langganan SP 2

Data Base Potensi Ikan

Kayong Utara

Editor Kiwi Dibaca : 91

Data Base Potensi Ikan
Sigit Sugiardi Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia
Pengelolaan perikanan di Kalbar saat ini memang punya sejumlah kendala. Pertama, data base potensi ikan. Kita tidak tahu jumlah pasti. Selama ini asumsinya banyak karena melihat air. Air kita memang cukup bagus jika dilihat dari alam. Sungai dan laut asumsinya luar biasa. Walau sekarang sepertinya berkurang. Karena dulu, parit-parit di Pontianak saja punya ikan yang banyak. Faktor penyebabnya karena alam dan degradasi lingkungan.

Kedua, dari sumber daya manusia (SDM). Di Kalbar kualitas SDM belum seperti di pulau Jawa. Di mana di sana banyak sekolah khusus perikanan. Ketiga, sarana prasarana. Di sini sangat terbatas dibanding yang lain. Contohnya, Keramba Jaring Apung saat ini sudah banyak. Lalu apakah komoditas yang dihasilkan jadi komoditas substitusi. Ketika bahan makanan lain tidak ada, apakah hasil ikan mereka bisa menggantikan. Padahal potensi luar biasa dari segi sungai dan sebagainya.

Kenapa pula kita hanya bicara soal produksi. Padahal jika bicara soal pasar, ketika komoditas ini tidak dibatasi, saat panen, harga akan turun. Saat ini ketika membudidayakan nila, semua budidaya nila. Satu pelihara ikan mas, semua pelihara mas. Tidak ada yang mencoba dengan ikan khas Kalbar. Untuk nelayan tangkap, hampir semua tempat pendaratan ikan di pesisir, menyebar. Lebih banyak tempat pendaratan ikan yang kecil-kecil. Karena nelayan kita kapalnya juga kecil. Pada saat bicara tentang lelang, kayaknya mustahil.

 Daya beli kita terbatas dan tempat pendaratan ikan banyak. Kalau kita mau dikumpulkan, armada kita kecil. Katakan di daerah Kakap, untuk sampai ke sana dari laut perlu satu setengah jam. Belum waktu kembali. Akhirnya ongkos mahal. Makanya mereka mendaratkan ikan di tempat mereka. Dan hampir di semua muara, terdapat tempat pendaratan. Kemudian soal bantuan pemerintah, ketika bicara kapal kecil, maka akan beroperasi di wilayah kecil juga.

Bantuan coba dipacu sampai di atas 12 mil. Balik ke SDM, belum tentu mereka yang biasa melaut sehari dua hari, ketika dibawa ke sana, sampai hitungan mingguan, bisa tahan. Itu fakta. Tapi bukan berarti tidak boleh dicoba. Namun memang hal itu tidak pernah dilakukan. Padahal alumni SUPM dipakai sampai ke luar negeri. Sementara bagaimana dengan di Pontianak sendiri? Masalah pokok, kita tidak pernah punya data berapa sumber daya ikan di Kalbar. Nelayan tentu tidak mampu melakukan riset ini. Akibatnya, nelayan terus menangkap.

Batasannya hanya ada pada cuaca. Jika dilihat dari industri perikanan, seperti cold storage, masalahnya ada pada bahan baku. Yang sudah-sudah, misalnya udang, dulunya juga didatangkan dari Tarakan. Kita tidak pernah melakukan itu, entah karena udang di Kalbar berpenyakit atau ada masalah sosial. Lalu untuk pasca panen, kendala ada di listrik. Dari 13 cold storage, sekarang tinggal beberapa buah.

Saat listrik padam, bahan bakar diperlukan. Masalahnya, listrik masih belum stabil. Kendala lain, pabrik es tidak semua ada. Ini jadi masalah di pesisir. Pabrik es lebih banyak di Pontianak. Ketika dibawa ke daerah, ongkos akan bertambah. Hal ini terjadi di Sukadana dan Ketapang.

Kalau tak ada es, ikan akan busuk. Jika pakai pendingin, imbasnya ke bahan bakar. Untuk membenahi semua ini, master plan yang sudah ada harus dijalankan dengan baik. Rantai nelayan, baik itu tangkap atau budidaya harus jelas. Misalnya budidaya lele, pakan akan sangat berpengaruh. Tapi selama ini, kebutuhannya dipenuhi dari Pulau Jawa. (bls/lis)