Langganan SP 2

83 Guru Ikuti Workshop Anak Usia Emas

Kayong Utara

Editor Kiwi Dibaca : 138

83 Guru Ikuti Workshop Anak Usia Emas
WORKSHOP - Dr. Chairil Fuad memberikan materi workshop, terkait pentingnya memahami kepribadian anak pada fase “Golden Age” (usia emas) dalam meningkatkan pendidikan karakter anak usia dini, kemarin.
SUKADANA, SP - Sebanyak 83 orang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kayong Utara mengikuti workshop, terkait  pentingnya memahami kepribadian  anak pada fase “Golden Age” (usia emas) dalam meningkatkan pendidikan karakter  anak usia dini.

  Acara digelar sejak tanggal 19-20 Oktober 2017 ini, diikuti oleh kepala sekolah dan guru PAUD serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) se-Kayong Utara.  

“Sedikitnya ada 79 PAUD se-Kayong Utara hadir pada kegiatan ini. Bahkan, acara ini juga diikuti oleh sejumlah guru dan kepala sekolah serta rekan-rekan dari PKBM,” kata Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Kabupaten Kayong Utara, Rahma Idrus, kemarin.    Melalui workshop ini, diharapkannya mampu meningkatkan kemampuan tenaga pengajar, terutama dalam memaksimalkan usia emas anak – anak didik di setiap PAUD maupun PKBM yang ada di Kabupaten Kayong Utara.  

“Kalau masalah kualitas tenaga pengajar untuk di Kayong Utara ini masih rata- ratalah  kemampuannya. Untuk itu, melalui kegiatan ini, kita harap para tenaga pengajar dapat meningkatkan kompetensinya lagi, sehingga dapat bersaing dengan pendidik dari daerah lainnya,” kata Rahma.  

Sebagai pemateri, Dr. Chairil Fuad menyampaikan, periode emas ini merupakan masa kritis bagi anak -  anak, dimana pertumbuhan yang diperoleh dalam periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan masa berikutnya sampai dewasa.  

“Karena periode emas ini hanya datang sekali untuk dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.   Sementara itu, Ahli gizi, Fiastuti Witjaksono menyebutkan, status gizi saat embrio sangat memengaruhi peluang munculnya penyakit yang mungkin diidap saat dewasa kelak.  

“Kondisi ini disebut fetal programming ,” kata Fiastuti.   Dia menuturkan, bayi di kandungan memang sangat bergantung pada status gizi ibunya.

Untuk trimester pertama, organ-organ sudah terbentuk seperti jantung dan otak. Sementara pada trimester kedua, organ-organ ini mulai membesar dan fungsinya meningkat. Karena itu, jika pada masa ini bayi tidak memperoleh asupan nutrisi yang tepat dan baik, maka dapat mengakibatkan masalah pada pertumbuhan dan perkembangannya.

Fiastuti mengingatkan, kendati ukuran perut bayi lebih kecil dibandingkan orang dewasa, nyatanya kebutuhan nutrisinya jauh lebih besar ketimbang orang dewasa. Namun, bukan kuantitas yang dibutuhkan anak-anak, melainkan kualitas dari makanan yang diperoleh. Sebagai contoh, protein yang dibutuhkan anak-anak lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Dengan begitu, kandungan nutrien dalam makanan perlu diperhatikan.

Zat gizi bukan hanya kalori, juga meliputi zat makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan juga mikronutrien (vitamin, mineral). Apabila orang dewasa mengalami kekurangan gizi, maka efeknya mengalami kelaparan atau status gizinya berkurang.

  
Di lain pihak, jika hal ini terjadi pada bayi, maka akan timbul berbagai kelainan. Ia memaparkan, bayi membutuhkan banyak protein, karbohidrat, dan lemak. Karena sampai berumur satu tahun, 60 persen energi makanan bayi digunakan untuk pertumbuhan otak. Selain itu, bayi dan balita membutuhkan vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, seng, AA, DHA untuk ketajaman penglihatan dan kecerdasannya.

Dia mengatakan, pada masa emas, sel-sel saraf otak balita berkembang sangat pesat. Terbukti dari penambahan berat otak maupun lingkar kepala balita. Ketika bayi lahir, beratnya sekitar 25 persen dari otak orang dewasa. Kemudian pada usia setahun, beratnya sudah mencapai 70 persen usia otak dewasa.

“Proses perkembangan otak ini berlangsung sangat cepat hingga balita berusia tiga tahun. Setelah masa ini, proses akan berjalan melambat, yakni pada usia sekolah dan usia remaja,” ujarnya.
 

Karena itu, dia menyarankan agar orang tua memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang berharga ini. Nutrisi yang lengkap dan seimbang sejak dalam kandungan sampai usia tiga tahun akan menambah banyak jumlah sel otak bayi.

Semakin bagus pula kualitas percabangan sel-sel otak, termasuk fungsi sinaps antara sel-sel otak bayi dan balita. Bukan hanya nutrisi, stimulasi pun tak kalah penting. Berikan stimulasi sebanyak-banyaknya sejak dini. Stimulasi yang diberikan pada masa ini sangat efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan balita. Sebaliknya, stimulasi yang kurang akan memengaruhi kecerdasan balita. (hms/ble/bob)