Kapolres Tindak Anggota Indisipliner, Diduga Aniaya Sekelompok Pelajar

Kayong Utara

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 350

Kapolres Tindak Anggota Indisipliner, Diduga Aniaya Sekelompok Pelajar
BUKTI FISIK - Salah seorang siswa menunjukkan garis panjang bekas kalung yang ditarik oknum Anggota Polres Kayong Utara, kemarin. (Ist)
SUKADANA, SP - Kapolres Kayong Utara, AKBP Arief Kurniawan mengaku akan menyelidiki informasi yang beredar di tengah masyarakat, terkait tindak kekerasan yang diduga dilakukan oleh bawahannya terhadap sekelompok remaja, kemarin.

Menurutnya, ada kesalahpahaman yang terjadi di tengah masyarakat terhadap upaya preemtif yang dilakukan oleh anggota kepolisian saat menindak aksi tawuran antar pelajar sekolah di Sukadana.

"Awalnya, kita mendapat informasi akan adanya kegiatan tawuran. Menurut keterangan salah seorang pelajar yang diamankan, dia mengaku sedang dicari oleh pelajar dari SMAN 3, tidak tahu terkait masalah apa.  Kemudian dia meminta bantuan kawan-kawannya,  mungkin karena rasa solidaritas akhirnya mereka berkumpul," terangnya, kemarin.

Ia mengatakan, pengamanan yang dilakukan untuk mengantisipasi adanya aksi tawuran sesuai laporan masyarakat,  karena memang saat ini antara siswa beda sekolah tersebut sedang ada masalah dan akan bertemu di suatu tempat. 

"Kalau saja, saat mereka berkumpul dan anggota kita terlambat mengantisipasi,  mungkin hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi," tambahnya. 

Namun, ia mengaku tidak akan tinggal diam mengenai adanya informasi oknum anggota yang melakukan pemukulan. Selain melakukan pertemuan untuk menyelesaikan persoalan ini,  ke lima oknum anggota yang diduga melakukan pemukulan juga akan diperiksa oleh pihak Provos Polres Kayong Utara, untuk mendapatkan sanksi disiplin sesuai perbuatannya. 

"Kita pun sudah berkumpul, disitu dihadiri siswa, guru,  kepala sekolah, orangtua dan KPAID. Kita sepakat untuk mencari solusi yang terbaik. Anggota kita yang melanggar tentu akan kita ambil tindakan tegas,  diperiksa oleh pihak Provos dan  Propam.  Kalau memang terbukti, maka akan diambil tindakan tegas," tegasnya.

Peristiwa pemukulan oleh oknum yang diduga anggota Polres Kayong Utara terkuak, setelah para korban mengeluhkan apa yang dialaminya kepada bapak kos, dimana para korban bertempat tinggal.

AH, salah satu korban penganiayaan, menceritakan sebelumnya mereka sempat berseteru dengan kelompok pelajar lainnya, namun itu hanya sebatas kesalahpahaman. Tetapi diakuinya, konflik tak berujung pada pertikaian, melainkan damai. 

Namun, upaya damai itu disalah artikan oleh masyarakat yang melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian sebagai upaya tawuran antar pelajar.

“Kami sudah damai dan bersalaman di pantai, namun tiba tiba ada polisi datang dengan membawa mobil dan motor. Setelah kami diberhentikan dan kunci motor diambil, kawan saya ada yang ditabrak pakai mobil sedan patrolI,” katanya.

Tanpa ada penjelasan, empat dari pelajar berhasil ditangkap pihak kepolisian dan menerima perlakuan kasar mulai dari ditendang, ditampar dan ada juga yang badannya dibenturkan ke bagian depan mobil patroli sebelum mereka diangkut ke Mapolres Kayong Utara.

“Kami diminta menunjukan dimana lokasi kawan- kawan yang lainnya, kemudian kami tunjukan dan sebelas kawan ikut diangkut ke Mapolres,” imbuhnya.

Dari versi yang disampaikannya ini, tindakan yang dilakukan oknum kepolisian tersebut, yakni tidak adanya surat penangkapan, pemukulan, “dipiting” terus terjadi sejak penangkapan di indekos.

“Kami dibariskan di parkiran Mapolres Kayong Utara. Ada yang ditintu di perut, ditampar, ditendang seperti binatang,” katanya.

Abdul Hamid menceritakan, dirinya tidak hafal berapa banyak oknum anggota yang melakukan penganiayaan terhadap mereka, namun yang diingatnya ada satu orang yang menggunakan seragam polisi. Tetapi oknum tersebut tidak melakukan pemukulan, hanya intimidasi dengan perkataan yang kasar.

Sementara itu, orangtua korban, Abdul Somad terkejut mendengar anaknya menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum aparat. 

“Ya, saya terkejut dan saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti binatang,” kesalnya.

Selama ini, dirinya sebagai orangtua belum pernah memukul sang anak, jika yang bersangkutan nakal. Jikapun memukul hanya bagian kaki dan itupun hanya sebatas untuk mendidik, namun dari penuturan anaknya, sang anak dipukul di bagian leher dan kepala.

“In Sha Allah, saya akan buat laporan ke polisi,” ujarnya.

Dua Orang Masuk Kategori Usia Anak


Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAD) Kayong Utara, Syaeful Hartadin yang sempat datang langsung menemui para korban, mengaku sudah memintai beberapa keterangan dari korban dan dua di antaranya masuk dalam kategori usia anak.

“Dari 11 korban, yang masuk kategori anak ada dua orang,” kata Syaeful.

Institusi yang kerap mendampingi terhadap kasus kasus anak ini menjelaskan, pihaknya sudah melihat beberapa korban yang menerima perlakukan tersebut dan menjumpai adanya luka dan bekas penganiayaan, mulai dari luka lebam dan terdapat benjolan di bagian antara tulang rusuk.

“Kita berharap, oknum yang terlibat dalam pemukulan ini diberikan sanksi atau diproses secara hukum, biar ada efek jera,” katanya. (ble/bob)