Malam, Distanak Ketapang Basmi Hama Belalang

Ketapang

Editor sutan Dibaca : 443

Malam, Distanak Ketapang Basmi Hama Belalang
Petugas pertanian dibantu masyarakat sedang mempersiapkan bahan untuk pengendali dan pembasmi wabah hama belalang di Desa Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang, Selasa (2/8) malam. SUARA PEMRED/THEO BERNADHI
KETAPANG, SP – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Ketapang terus melakukan pengendalian, terhadap puluhan hektare lahan pertanian masyarakat di Desa Sungai Awan dan Desa Sukamaju, Kecamatan Muara Pawan yang terserang wabah hama belalang.

Sedikitnya 20 orang petugas, dibantu masyarakat sekitar,  melakukan pengendalian dengan cara menyemprot hama di malam hari, dari pukul 20.00 hingga 02.00 WIB.

Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir perkembangbiakan belalang kembara.
“Belalang berhenti beraktifitas di malam hari. Makanya, kita lakukan pengendalian di waktu itu,” jelas Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Ketapang, P Devie Frantito, Rabu (3/8).

Devie menerangkan, pengendalian hama bertujuan untuk mengatasi merebaknya wabah belalang di sejumlah lahan pertanian warga. "Tadi malam kita turun lagi kelapangan, untuk melakukan pengendalian. Kegiatan ini, juga dibantu masyarakat setempat," katanya.

Lebih lanjut, ia meminta kepada masyarakat, agar dapat lebih proaktif melaporkan kasus serangan hama di wilayahnya masing-masing ke Distanak. “Sekecil apapun wabah yang menyerang, saya imbau segera dilaporkan, agar dapat langsung dilakukan pengendalian, sebelum terlambat,” imbaunya.

Sementara itu, Staf Pertanian Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Hendri menjelaskan, serbuan hama belalang sudah berlangsung sekitar satu bulan lalu dan menyerang sekitar 75 hektar lahan milik warga.


Menurut pantauan di lapangan, serangan hama lebih banyak terjadi di lokasi padang rumput dan tanaman warga. Dirinya menerangkan, pengendalian dan pembasmian belalang kembara idealnya dilakukan pada malam hari, mengingat hewan yang bernama latin Locusta Migratoria ini  pasif di waktu tersebut.

"Jika upaya pengendalian dengan cara penyemprotan dilakukan siang hari, dikhawatirkan dapat membahayakan petani,” katanya.


Upaya koordinasi bersama masyarakat, tambah Hendri akan terus dilakukan, dalam hal membasmi hama belalang di lahan pertanian. Selain itu, ia berharap agar persoalan ini dapat menjadi perhatian serius oleh pemerintah daerah. Pasalnya, wabah ini telah membuat para petani resah dan khawatir alami gagal panen.

“Kita sangat berharap peran masyarakat dalam membantu mengendalikan serangan hama, sebab penyebaran belalang sangat cepat," tuturnya.

Berdampak pada Hasil Produksi

Mantan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Sukamaju, Yudo Sudarto (49) menerangkan, belalang kembara merupakan hama yang perkembangbiakannya sangat pesat selama musim kemarau. Namun, tidak menutup kemungkinan beranak-pinak pada musim hujan. "Kita khawatirkan populasinya semakin membesar, karena musim panas diprediksi masih terjadi sampai beberapa bulan ke depan," katanya.

Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin populasi belalang kembara akan semakin  membesar. Untuk itu, dirinya meminta kepada pemerintah melalui Dinas Pertanian Ketapang, agar lekas mengecek kondisi di lapangan dan mengambil langkah untuk menanggulangi serta memberantas hama belalang yang meresahkan masyarakat.

"Jangan sampai petani mengalami gagal panen, sehingga berdampak pada hasil produksi pertanian," katanya.

Terlebih belalang kembara kerap berkelompok dan berpindah-pindah. Hama ini menjadi salah satu momok menakutkan bagi seluruh petani.

"Serangan hama ini kerap terjadi di setiap tahun. Kita harap ada solusi dari pemerintah, terkait penanggulangan dan pemberantasannya,” tuturnya. (teo/bob/sut)