Desa SP2 Sukaharja, Puluhan Tahun Hidup Tanpa Listrik

Ketapang

Editor sutan Dibaca : 1006

Desa SP2 Sukaharja, Puluhan Tahun Hidup Tanpa Listrik
Ilustrasi
KETAPANG, SP – Suwito (65) warga Dusun Gelambang, Desa SP 2 Sukaharja, Kecamatan Singkup meminta kepada pemerintah dapat mempercepat pemasangan jaringan listrik di wilayahnya. Pasalnya, warga desa tersebut sejak tahun 1993, hidup tanpa penerangan listrik.

"Sudah 24 tahun tinggal di  sini, sampai sekarang belum ada listrik yang masuk. Makanya, kami memohon kepada para pejabat, agar dapat memperhatikan warga yang berada di pelosok, khususnya terkait penerangan ini," ungkapnya kepada wartawan, Senin (6/2).

Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari,  warga desa harus memiliki genset dan membeli bahan bakar minyak (BBM). 
 Satu hari memerlukan tiga liter solar,   satu liternya mencapai Rp 10 ribu. 

"Bagi warga yang memiliki anak usia sekolah, terkadang harus merogoh kocek lebih dalam. Setiap malam mereka dituntut belajar dan menyelesaikan tugas sekolah, sehingga pengeluaran solar akan semakin besar," ungkapnya.  

Suwito mengungkapkan saat ini,  telah terpasang tiang-tiang jaringan listrik  PT PLN yang masuk ke daerah SP 1, yang tidak jauh dari wilayahnya, bahkan sudah ada yang teraliri listrik.  

Selama ini, ia mengatakan, pemerintah maupun petugas PLN hanya bisa memberikan janji kepada masyarakat, tanpa memastikan kapan jaringan listrik tersebut dapat terealisasi.

“Biasanya ada petugas datang, dan bilang lebaran tahun lalu bisa masuk listrik. Tapi ini sudah mau lebaran lagi, listrik pun tak kunjung masuk," pungkasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Ketapang, Ignasius Irawan meminta kepada pemerintah, khususnya PT PLN Area Ketapang, segera merealisasikan  pemasangan jaringan di desa-desa yang memang belum teraliri listrik, seperti di wilayah SP 2 Kecamatan Singkup.

"Jangan sampai karena alasan jarak dan lokasi jauh, pihak pelaksana di lapangan menaikkan harga pemasangan, dan membebankan masyarakat. Persoalan seperti itu harus menjadi perhatian PLN," katanya.
 (teo/bob)