Langganan SP 2

Dua Bocah Marau Alami Lumpuh Layu

Ketapang

Editor Kiwi Dibaca : 196

Dua Bocah Marau Alami Lumpuh Layu
CAPTION : Rahmad Jawadi (8) dan adiknya Vika (7) dua kakak beradik warga Dusun Awatan, Desa Suka Karya, Kecamatan Marau diduga terserang lumpuh layu.
KETAPANG, SP - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ketapang menemukan kasus penyakit lumpuh layu yang dialami dua kakak beradik di Dusun Awatan, Desa Suka Karya, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang. Kasus yang menimpa kedua bocoh berusia 8 dan 7 tahun tersebut, diduga karena keduanya tidak melakukan imunisasi, Jumat (2/6) lalu.

Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Ketapang, Yulia Ningsih mengatakan, kedua anak yang mengalami lumpuh layu yakni, Rahmad Jawadi (8) dan adiknya Vika (7) yang merupakan warga Dusun Awatan, Desa Suka Karya, Kecamatan Marau. Keduanya mengalami lemah di kedua kaki dan sejak kecil tidak bisa berjalan.

"Penyakit kedua anak ini diduga terkena penyakit yang menyerupai polio. Pasalnya pihak keluarga memang tidak mau melakukan imunisasi, sehingga mengakibatkan reflex lutut negatif dan otot tungkai bawah mengecil,” ungkapnya, Minggu (4/6).
Kondisi ini menyebabkan keduanya tidak bisa berjalan. Namun untuk kepastian diagnosis, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel feses kedua anak ini, apakah positif polio atau tidak.

Setelah menemukan kasus ini, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Camat dan Kepala Puskesmas setempat untuk rencana merujuk kedua anak tersebut ke Ketapang.
Kedua anak ini diharapkan dapat direhabilitasi dan ditangani oleh Dokter Spesialis Syaraf.

"Untuk itu, masih banyak PR yang harus dilakukan, perlu koordinasi lintas sektor, terlebih status sosial mereka yang memang perlu didukung agar bisa direhabilitasi dan fisioterapi," tuturnya.

Ia menambahkan, dengan adanya kasus ini, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih memahami pentingnya imunisasi agar dapat meminimalisir terhadap penyakit – penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi.
“Anak sebagai generasi penerus bangsa, harus kita jaga, salah satunya dengan memberikan imunisasi,” katanya.

Untuk itu, pihaknya juga akan terus berupaya memberikan sosialisasi meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap  dan memberikan sertifikat IDL untuk bayi yang sudah lengkap imunisasinya. Sertifikat IDL tersebut, nanti akan dijadikan sebagai syarat masuk Sekolah Dasar (SD), TK atau PAUD.

"Rencananya ini akan diberlakukan dua tahun mendatang, karena saat ini kami masih mempersiapkan payung hukum berupa Perda Imunisasi," terangnya.

Di samping itu, pihaknya sudah mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terkejut ketika ini diberlakukan, dirinya juga akan melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk membicarakan hal ini.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Marau, Dr Khairul mengatakan, kedua orangtua korban diduga lumpuh layu mengaku tidak mau anaknya diimunisasi dengan berbagai alasan, di antaranya faktor jarak tempuh.

"Padahal jarak rumah dengan Puskesdes seperti jarak dari Pendopo ke Sukabangun. Bahkan, di dekat rumahnya selalu dilaksanakan Posyandu setiap bulannya," katanya.

Untuk saat ini, pihaknya sudah mengambil sampel feses kedua kakak beradik untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium, guna memastikan apakah ada ditemukan virus polio. Upaya ini semata untuk lebih memastikan diagnosa sebenarnya. (teo/bob)