Polisi Ungkap Kematian Almarhum Hepni

Ketapang

Editor Kiwi Dibaca : 686

Polisi Ungkap Kematian Almarhum Hepni
ilustrasi
KETAPANG, SP – Misteri kematian Hepni (55) pegawai PT Multi Langgeng yang diduga keluarga korban akibat dianiaya, akhirnya terungkap, setelah Polres Ketapang menerima Surat Keterangan Penyebab Kematian (SKPK) korban dari RSUD Soedarso Pontianak.

Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Rulli Robinson Poli mengatakan, berdasarkan keterangan dokter, almarhum meninggal bukan karena dianiaya atau dikeroyok.

Ia menerangkan, pihaknya telah meminta keterangan dokter di Rumah Sakit Soedarso Pontianak yang menangani almarhum pada Sabtu (17/6) lalu.

"Dari keterangan dokter, almarhum ada riwayat sakit stroke. Saat itu, katanya stroke yang mengakibatkan pembuluh darahnya di otaknya pecah," ungkapnya, Rabu (21/6).

Pernyataan tersebut membanta keterangan dari pihak keluarga yang menyatakan almarhum dianiaya, sehingga tengkorak kepalanya pecah, padahal dari pemeriksaan dokter tidak terjadi.

"Artinya keterangan keluarganya salah, soal tengkorak otak pecah, karena dokter menegaskan tidak ada tengkorak otak yang pecah, melainkan pembuluh darah dalam otak yang pecah," jelasnya.

Kemudian mengenai luka di pelipis mata almarhum yang diduga akibat dianiaya , ternyata diduga akibat almarhum terjatuh di kamar mandi sehingga pelipisnya terbentur.
Sedangkan, mengenai badan almarhum yang membiru, ternyata keterangan dokter ketika awal almahum masuk ke rumah sakit badannya tidak lebam.

"Waktu di RSUD Pontianak tidak ada biru lebam badannya, setelah meninggal baru membiru yang disebabkan pecahnya pembuluh darah di otak," tuturnya.

Sementara itu, terkait kondisi bagian belakang tubuh korban yang terdapat luka lecet, menurut keterangan dokter akibat terlalu lama berbaring di atas ranjang selama di rawat di rumah sakit, sehingga berdampak pada sistem organ tubuh yang melemah.

"Seperti kita tidur, kalau kelamaan pasti ada bekas-bekas," katanya.

Hasil keterangan medis ini, bertolak belakang dengan dugaan penganiayaan yang disampaikan oleh keluarga korban.
“Saat dirawat, korban sempat ditanya olah pihak keluarga apakah dikeroyok, dan almarhum menganggukkan kepala. Menurut keterangan dokter, pasien dalam kondisi drop tidak bisa diajak bicara, hanya dapat menggerakan sebagian tubuhnya,”terangnya. Sementara itu, kuasa hukum keluarga korban, Rustam Halim meminta penyidik Polres untuk memanggil dua saksi baru agar kasus ini segera terungkap, yang mana dua saksi sudah disampaikan pihaknya ke penyidik.

Hal tersebut lantaran menurutnya hasil pemeriksaan dokter bukan penentu akhir terhadap kematian Hepni.

"Karena almahum dihadapan keluarganya waktu masih dirawat di rumah sakit mengaku dikeroyok," jelasnya.

Sampai saat ini, pihak keluarga belum menerima hasil keterangan dokter dari Polres Ketapang. Terlebih, almarhum tidak memiliki riwayat sakit apapun termasuk stroke. (teo/bob)