Langganan SP 2

Ketapang Krisis Pupuk Subsidi

Ketapang

Editor Kiwi Dibaca : 135

Ketapang Krisis Pupuk Subsidi
PANEN - Petani di Desa Sungai Kinjil, Kecamatan Benua Kayong sedang panen padi, berapa waktu lalu. Sebagian besar petani di wilayah ini berharap adanya bantuan pupuk dan mesin air dari pemerintah. SUARA PEMRED/THEO BERNADHI
KETAPANG, SP - Sejumlah kelompok tani di Kabupaten Ketapang mengeluhkan ketersedian pupuk bersubsidi dan tidak adanya bantuan mesin air untuk mereka bercocok tanam.

Sarahadi, satu di antara petani di Kelompok Tani Berkat Usaha di Desa Sungai Kinjil, mengaku, kalau untuk pupuk, para petani membeli langsung di pasaran dan bukan merupakan pupuk subsidi, sehingga harganya dirasa cukup tinggi, mencapai Rp135 hingga Rp150 ribu per saknya.

"Kita tidak tahu, pupuk subsidi belinya di mana dan bagaimana cara mendapatkannya," ungkapnya, Kamis (10/8).

Ia mengatakan, sebagian petani membeli pupuk dengan menyesuaikan kebutuhan lahan. Diakuinya, meski harus merogoh kocek lebih dalam, asalkan stok pupuk tersedia. Menurutnya, untuk di Ketapang, di setiap menjelang musim tanam, petani kerap kesulitan memperoleh pupuk.

"Mungkin, karena saat musim tanam kebutuhan meningkat, sedangkan stok pupuk sedikit, makanya susah dicari," ujarnya.

Selama ini, pihaknya tidak pernah membeli langsung pupuk subsidi, namun pernah mendapatkan bantuan, seperti hazton, walaupun belum semuanya terbantu. Ia menerangkan, selain mengenai persoalan pupuk subsidi, pihaknya juga terkendala mengenai air. Tak jarang saat musim kemarau, petani mau tidak mau mesti beristirahat menanam.

"Harapan kita, selain bantuan pupuk subsidi, juga ada bantuan sarana prasaranan menunjang pertanian, khususnya mengenai persoalan air," harapnya.

Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Kelompok Tani Tanjung Pesisir di Desa Sungai Kinjil, yang sudah satu tahun tidak memperoleh bantuan pupuk subsidi.

"Untuk pupuk subsidi tahun kemarin kita ada dapat, tapi tahun ini tidak ada dapat. Terpaksa kita harus beli di pasaran," ungkap Ketua Kelompok Tani Tanjung Pesisir,
Mustayam.

Untuk harga pupuk di pasaran, ia mengatakan semua tergantung jenis dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp3 ribu hingga Rp 12 ribu perkilonya. Namun, diakuinya selama persediaan pupuk ada, petani selalu berusaha untuk mencari biaya, daripada gagal panen.

Terkait persoalan air, pihaknya telah mengajukan proposal, guna meminta bantuan mesin air pada tahun 2015 lalu, namun sampai sekarang bantuan tersebut tidak ada.
Untuk itu, dirinya berharap kepada Pemerintah Daerah (Pemda), agar dapat memberikan bantuan mesin air untuk menanggulangi persoalan air di lahan mereka. (teo/bob)