Anak Korban Mutilasi Kirim Pesan ke Jokowi

Ketapang

Editor Kiwi Dibaca : 661

Anak Korban Mutilasi Kirim Pesan ke Jokowi
Ilustrasi
KETAPANG, SP - Yuliana Astuti, anak bungsu korban pembunuhan dengan cara mutilasi terhadap pasangan suami istri (pasutri) Suharso (50) dan Armaniah (49) pada 25 Agustus 2010 silam, melayangkan pesan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui media sosial Facebook.

Ia berharap presiden dapat membantu pengungkapan kasus yang menimpa kedua orangtuanya.
Yuliana mengadu bahwa kasus pembunuhan sadis terhadap orangtuanya yang terjadi di Jalan Rahadi Usman, Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Ketapang, tujuh tahun silam hingga kini belum terungkap.

Ia ingin mengetahui penyebab dan pelaku pembunuh orangtuanya. Pesan tersebut bertuliskan "Kepada Yth Bapak Presiden Joko Widodo, Sya seorang anak dri korban pembunuhan mutilasi ingin meminta bantuan Bapak Presiden agar sya bisa mngetahui penyebab pembunuhan dan pelaku pembunuhan orang tua sya. Pihak keluarga sya telah melaporkan peristiwa pembunuhan ini kepada yang berwajib sejak 7 Tahun yang lalu namun blum juga ada hasilnya.

Sya hanyalah orang kecil yang mengininkan keadilan atas kjadian yang menimpa keluarga saya. Mngingat peristiwa ini adalh peristiwa yang sangat serius karena menyangkut nyawa manusia, sya dan kluarga ingin skali agar kasus ini segera terungkap dan terselesaikan agar sya dan keluarga tidak lgi dhantui rasa takut akan dibunuh juga.

Mohon ketegasan dan kepedulianya Pak Presiden. Terimakasih #2017INDONESIAKERJANYATA". Yuliana Astuti warga Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS) ini mengaku sengaja menuliskan pesan ke Presiden Jokowi agar mengetahui dan bisa membantu supaya kasus ini bisa terungkap.

"Beberapa hari lalu saya mengirim pesan messenger ke facebook Pak Presiden, itu sengaja saya lakukan dengan harapan agar Pak Jokowi bisa tahu kejadian yang menimpa kedua orangtua saya dan peduli terhadap orang kecil seperti kami," ungkapnya, Minggu (24/9).


Ia melanjutkan, pasca kejadian tanggal 25 Agustus 2010 lalu, memang tidak ada titik terang terkait kasus pembunuhan yang menimpa kedua orangtuanya, bahkan selama ini dirinya maupun pihak keluarga belum pernah dihubungi pihak kepolisian terkait perkembangan kasus tersebut.

"Baru kemarin saya dapat tanggapan dari Polres Ketapang melalui akun facebook Humas Polres Ketapang yang ikut memberikan komentar terhadap unggahan pesan facebook saya ke Pak Presiden, di situ Humas Polres menyatakan ada hambatan di lapangan karena bukti yang masih sedikit, serta pihaknya masih mencari bukti baru yang dapat mengarah kepada pelaku," katanya.


Yuliana mengaku, dirinya sendiri memang belum pernah berkomunikasi langsung dengan aparat kepolisian lantaran pada saat kejadian dirinya masih berusia 15 tahun dan belum mengenal media sosial. Namun seiring waktu dan tanpa ada kejelasan mengenai kasus kedua orangtuanya, dia memberanikan diri menyampaikan harapan terkait kasus yang menimpa kedua orangtuanya.

"Sejauh ini saya hanya bisa menyampaikan harapan melalui media sosial, sebenarnya saya ingin mendatangi Polda, Polri bahkan Presiden namun karena masalah ekonomi sebab untuk berangkat butuh biaya, selain saya sendiri masih was-was dan trauma dengan kejadian yang menimpa kedua orang tua saya," tuturnya.

"Apalagi saya tidak tahu dimana pelaku pembunuhan, bisa saja mereka mengintai kami dan menghabisi kami, untuk itu saya takut untuk berpergian jauh," lanjutnya. Saat dikonfirmasi Waka Polres Ketapang, Kompol Reza Simanjuntak mengarahkan agar menghubungi Kasat Reskrimnya, AKP Rully Robinson Polli. Namun ketika dihubungi hingga berkali-kali Rully tak menjawab panggilan awak media dan tak membalas pesan melalui handpone yang dirim wartawan. (teo/ind)