Tim Gabungan Translokasi Orangutan di Riam Berasap

Ketapang

Editor Andrie P Putra Dibaca : 137

Tim Gabungan Translokasi Orangutan di Riam Berasap
Kondisi individu Orangutan yang ditranslokasi di Riam Berasap. (ist)
KETAPANG, SP - International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Resort Sukadana dan Balai Taman Nasional  Gunung Palung, berhasil translokasi satu individu Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) dari kebun warga di Desa Riam Berasap, Kabupaten Kayong Utara, ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Kamis (4/1) lalu.

Menanggapi laporan dari Supri satu di antara warga Desa Riam Berasap, mengenai keberadaan Orangutan jantan dewasa pada Juli 2017 lalu, tim Orangutan Protecting Unit (OPU) IAR Indonesia segera mengirim tim patroli untuk memverifikasi laporan tersebut. Tim patroli pada waktu itu tidak menemukan orangutan yang dilaporkan.

"Akhirnya Orangutan kita temukan Kamis (4/1) kemarin di perkebunan milik warga di dekat jalan Ketapang-Siduk Km 8, saat itu Tim OPU IAR Indonesia segera menghubungi tim rescue dan berkoordinasi dengan pihak TNGP dan BKSDA untuk mentranslokasi Orangutan ini ke tempat asalnya di kawasan TNGP yang lebih aman," kata Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez.

Karmele menjelaskan, Orangutan yang datang kerap merusak kebun masyarakat, sehingga meminta untuk segera ditranslokasi. Menurutnya persoalan ini akibat kerusakan hutan yang merupakan habitat alami Orangutan.

"Di satu sisi masyarakat merasa dirugikan, satu sisi Orangutan masuk ke kebun karena habibat mereka rusak," katanya.

Ia menilai, konflik antara manusia dan Orangutan dinyatakan sebagai salah satu alasan terbesar atas perburuan dan pembunuhan Orangutan di Kalimantan. Orangutan dan manusia berkonflik untuk mendapatkan sumber daya yang sama. 

Riam Berasap dan lokasi sekitarnya seperti Kuala Satong, Semanai, Tanjung Gunung adalah lokasi hotspot konflik Orangutan. Sejak tahun 2015, IAR sudah menyelamatkan puluhan Orangutan dari seluruh lokasi tersebut. Pada Desember dan Januari ini, jumlah konflik semakin meningkat karena tanaman buah milik warga memasuki masa panen. (teo)