Astaga! 14 Hektare Lahan di MHS dan Kendawangan Terbakar

Ketapang

Editor Andrie P Putra Dibaca : 171

Astaga! 14 Hektare Lahan di MHS dan Kendawangan Terbakar
Pemadaman api di Desa Bakau. (ist)
KETAPANG, SP - Titik hotspot dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Ketapang mengalami peningkatan. Sejak 1 Januari hingga 11 Februari 2018 terdapat puluhan titik hotspot dan Karhutla seluas 14 hektare.

Kepala Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Ketapang, Rudi Windra Darisman mengatakan hotpsot yang terjadi sejak tanggal 1 Januari hingga 11 Februari di antaranya terpantau satelit Terra sebanyak tiga hotspot, satelit AQUA 10 hotspot, SNPP (LAPAN) 19 hotspot dan NOAA (Sipongi) dua hotspot.

"Yang paling signifikan peningkatan hotpsot terdapat pada tanggal 11 Februari sebanyak 15 hotspot yang tersebar di beberapa desa Kecamatan Kendawangan, yakni Desa Danau Buntar, Pembedilan, Air Hitam Hulu, Kendawangan Kiri, Kendawangan Kanan dan Bangkal Serai," ungkapnya, Senin (12/2).

Ia melanjutkan, selain hotspot terjadi Karhutla di Kecamatan Matan Hilir Selatan tepatnya di Desa Sungai Besar dan Sungai Bakau serta di Kecamatan Kendawangan di Desa Banjarsari.

"Semua dapat ditangani oleh Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Manggala Agni, TNI dan POLRI yang total luasannya mencapai kurang lebih 14 hektar," tuturnya.

Ia menambahkan, sesuai arahan Presiden pada Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Istana Negara pada Selasa (6/2) lalu untuk mengutamakan pencegahan dengan deteksi dini karhutla, pihaknya terus melakukan hal serupa dengan melakukan patroli rutin dan sosialisasi.

Untuk itu, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara untuk meminimalisir kegiatan atau aktivitas yang menggunakan api agar resiko terjadinya karhutla dapat ditekan.

Sementara itu, Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim & Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Kalimantan, Johny Santoso, menilai kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak akan berhasil dan optimal jika tidak dilakukan secara bersama-sama.

"Karena pencegahan lebih baik daripada memadamkan dan akan semakin baik dengan melibatkan masyarakat lantaran hal tersebut penting guna tercapainya tujuan Indonesia bebas asap," pungkasnya. (teo)