Kisah Pengojek Mayat, antara Berkah dan Kutukan Tambang Emas

Ketapang

Editor K Balasa Dibaca : 682

Kisah Pengojek Mayat, antara Berkah dan Kutukan Tambang Emas
Yani ketika ditemui di warung kopi. (SP/Theo)

Kisah Tukang Ojek Pembawa Mayat (bagian satu)


Yani berkendara dengan sepeda motor menembus hutan malam hari. Ia tak sendirian. Seorang mayat tepat di belakangnya. Mayat dibawanya dari lokasi tambang emas, dengan digulung sebuah seng dan diikat di bagian belakang motor. Tak banyak yang berani melakoni pekerjaannya. Jika Anda mengaku berani, silakan membaca pengalaman Yani, sebelum mencobanya.


Siang itu, minggu terakhir Februari, Suara Pemred menghampiri satu dari beberapa pria paruh baya yang sedang berkumpul di warung kopi (warkop) di Jalan A. Yani, area Pasar Baru, Ketapang.
Tak ada yang mengira, lelaki yang duduk bersandar di dinding warna hijau itu, pernah melakoni pekerjaan dan memicu adrenalin. Butuh keberanian dan nyali besar.

Ya, lelaki itu bernama Yani. Umur 40 tahun. Ia tinggal di Kelurahan Kauman, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang.

Ada rasa sungkan ketika pertama kali melihatnya. Tatapan matanya tajam. Badannya kurus namun tegap. Kulit mengkilat cokelat kehitaman. Tingginya sekitar 163 cm. Sesekali wajahnya merekah, mencipta senyum. Tawanya kerap berderai. Memecah gerimis hujan yang sedang turun, siang itu.

Yani menggenakan baju kerah abu-abu. Sebuah topi sewarna baju bertuliskan "National Geographic". Ia menyalakan sebatang rokok kretek merk Dji Sam Soe. Asap membumbung dan berkisaran di wajahnya.

Pekerjaannya terdengar sederhana, ‘hanya’ membawa mayat keluar dari lokasi penambangan emas, menuju sebuah pelabuhan. Tak mesti memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Modalnya hanya nyali sekuat baja. Kemahiran bersepeda motor. Dan, tentu saja kelembutan dan kesabaran layaknya seorang ibu, mengasuh anak yang masih balita. Perlu kehati-hatian dalam pekerjaannya.

Ia mulai bercerita. Wajahnya tersenyum. Ia mengingat memori, dimana pertama kali jadi tukang ojek. Saat itu sekitar tahun 1998. Usianya 20 tahunan dan belum menikah.

Hampir setiap hari, ia mangkal di simpang Desa Pelang bersama dengan puluhan tukang ojek lainnya. Mereka menunggu penumpang yang hendak bekerja ke lokasi tambang emas, seperti di Indotani, Lembang Tujuh, Rengas Tujuh dan Padang Bunge.

"Tahun 1998 hingga 2000-an keatas, tambang emas lagi marak-maraknya. Jadi, banyak pekerja yang menggunakan jasa ojek, untuk pergi dan pulang dari lokasi tambang," ungkap bapak tiga anak ini.

Sebagian besar penambang dari luar Ketapang. Mereka berasal dari Kabupaten Sambas, Sintang, Sanggau, Pontianak hingga Pulau Jawa. Minimnya peralatan keselamatan dan besarnya risiko kecelakaan kerja, membuat para pekerja selalu diintai maut.

"Para pekerja dari luar membuat camp untuk tempat tinggal. Ada ratusan orang di lokasi tambang. Aktivitas seperti di perkampungan, siang dan malam sama saja. Ada warung, tempat hiburan malam hingga lokasi perjudian," katanya.

Sambil menghembuskan asap rokoknya, Yani mengaku tak pernah memikirkan untuk membonceng mayat di atas kendaraannya. Setahun setelah jadi tukang ojek, sekitar 1999, ia pertama kali menerima kerjaan sebagai ojek pembawa mayat.

Saat itu, dia sedang mangkal bersama rekan-rekannya di Simpang Desa Pelang. Hari sudah mulai sore. Seorang pekerja keluar dari lokasi tambang dengan nafas terengah. Pekerja itu mengabari, ada penambang tewas tertimbun tanah.

Pekerja itu orang suruhan kepala rombongan pencari emas. Dia ditugasi mencari tukang ojek yang bersedia membawa mayat. Didorong kebutuhan ekonomi, Yani menerima tawaran itu. Tugasnya, bawa jenazah dari tambang menuju Pelabuhan Teluk Batang, Kecamatan Teluk Batang (saat itu masih jadi bagian Kabupaten Ketapang. Setelah pemekaran, menjadi wilayah Kabupaten Kayong Utara).

Ia langsung memacu sepeda motor merk KTM yang shocknya sudah dimodifikasi menuju lokasi tambang. Sendirian. Butuh waktu tiga hingga empat jam dari lokasi mangkal menuju tambang. “Sepanjang jalan hanya hutan dan tanah kuning," ingatnya.

Sampai di lokasi tambang, ia tak langsung membawa mayat, layaknya ngojek orang hidup. Starter motor, naik langsung tancap gas. Perlu persiapan khusus sebelum membawanya.
Mayat terlebih dahulu dilapisi kain. Kemudian, dibalut terpal. Terakhir, mayat digulung dengan lembaran seng dan diikat menggunakan kawat.

"Seng itu gunanya, agar sepanjang perjalanan mayat tidak bergerak. Setelah digulung seng, terus diikat dengan getah beladar (ban dalam-red) di bagian shock dan besi pegangan belakang motor, posisi mayat melintang,” ujarnya.
Saat itu, ia dapat upah Rp800 ribu.

Butuh tujuh hingga delapan jam, bawa mayat dari lokasi tambang menuju Pelabuhan Telok Batang. Pengalaman pertama selalu melekat diingatannya. Bukan hanya rasa takut yang dihadapi. Rasa lelah harus dilawan. Butuh tenaga ekstra dan tangan kuat pegang stang motor, selama berjam-jam tanpa henti.

Membawa mayat jauh lebih sulit dibanding orang hidup. Tak hanya karena tak bisa diajak bicara selama perjalanan, berat tubuh mayat jauh lebih berat dibanding manusia hidup.

Setiba di Pelabuhan Telok Batang, kepala rombongan yang bertanggung jawab atas pekerja dari luar Ketapang sudah menunggu. Setelah diturunkan dari motor, mayat dinaikkan ke speedboat menuju Pontianak. (theo bernadhi/lis)