Demam Berdarah, Bocah di Ketapang Meregang Nyawa

Ketapang

Editor K Balasa Dibaca : 1026

Demam Berdarah, Bocah di Ketapang Meregang Nyawa
Endang Supriyadi ayah Ramadhan, bocah meninggal akibat DBD saat ditemui wartawan, Senin (9/4). (SP/Theo)
KETAPANG, SP – Sejak Januari hingga Maret, sedikitnya terdapat 150 Kasus Demam Berdarah DenguE (DBD) di berbagai wilayah Kabupaten Ketapang.

Dari kasus-kasus tersebut, terdapat satu korban meninggal dunia. Sementara satu lainnya dirujuk ke rumah sakit di Pontianak, akibat kritis lantaran alat pemisah trombosit di RSUD Agoesdjam Ketapang tidak berfungsi.

Endang Supriadi, ayah dari Ramadhan Al-Irham Riadi, bocah 11 tahun yang meninggal dunia akibat DBD, tak menyangka anak bungsunya meregang nyawa, Sabtu (7/4) akibat penyakit dari gigitan nyamuk tersebut.

Warga Jalan Mulia, Kelurahan Sampit, Kecamatan Delta Pawan ini menceritakan, Senin pekan lalu ketika anaknya pulang sekolah, mengeluh tidak enak badan sehingga pada hari Selasa tidak masuk sekolah.

"Karena panas badannya kita beri obat penurun panas paracetamol seperti biasa, hanya panasnya tidak turun, kemudian kita bawa ke dokter praktik pada Selasa malam, di sana diberi obat dan surat pengantar untuk periksa darah pada hari Jumat," ceritanya.

Namun karena rentang waktu, anaknya masih panas. Sehingga pada hari Kamis, dirinya membawa sang anak ke dokter praktik lainnya sebagai bentuk ikhtiar agar anaknya segera sembuh.

Kendati demikian, pada Jumat (6/4) Ramadhan kembali mengeluhkan sakit. Ketika buang air besar mulai menghitam seperti darah, kemudian pada sore harinya sesuai jadwal pemeriksaan darah dibawa ke laboratorium. Usai itu, naknya langsung dibawa ke Rumah Sakit swasta Fatima lantaran sudah lemas.

"Jam lima sore saya bawa kemudian jam sembilan malam masuk ICU, sekitar jam 01.00 WIB dinihari anak saya muntah darah, kemudian buang air besar keluar darah dan sekitar pukul 02.00 WIB dirujuk ke Rumah Sakit Pontianak dengan didampingi perawat dan peralatan lainnya,” kisahnya.

"Namun dalam perjalanan menuju ke Pelabuhan Teluk Batang anak saya mengeluh sakit perut, kemudian istri saya menelepon guru ngajinya untuk dibacakan yasin, tidak lama kemudian anak saya meninggal sekitar pukul 09.00 WIB," lanjutnya.

Dia berharap, kejadian yang menimpanya ini menjadi pelajaran bagi masyarakat, akan bahayanya Demam Berdarah. Dia meminta pihak terkait untuk dapat menyediakan peralatan medis bagi para pasien demam berdarah, tak hanya menyediakan tetapi juga merawat dan mengelola secara profesional.

"Semoga ini menjadi pelajaran beharga bagi masyarakat agar lebih waspada dan sigap terhadap demam berdarah," tandasnya. (teo)