IAR dan BKSDA Translokasi Dua Individu Orangutan

Ketapang

Editor Andrie P Putra Dibaca : 109

IAR dan BKSDA Translokasi Dua Individu Orangutan
Translokasi dua individu Orangutan. (ist)
KETAPANG, SP - International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) SKW I Ketapang berhasil melakukan translokasi dua individu orangutan (Pongo pygmaeus) yang bernama Mama Ris dan Baby Riska dari Desa Tempurukan, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang ke hutan Sentap Kancang di Kecamatan Muara Pawan, Kamis (12/4).
 
Manager OPU IAR Indonesia, Catur mengatakan dari informasi warga setempat, individu Orangutan sempat terlihat masuk ke perkebunan warga sejak tahun 2013 lalu. 

Tim mitra desa yang dibentuk oleh IAR Indonesia langsung melakukan penghalauan untuk mengurangi resiko konflik. Terlebih dengan adanya perubahan fungsi lahan dan kebakaran lahan yang menyebabkan akses Orangutan ini ke hutan tempat asalnya menjadi terputus.

Pihaknya melalui tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia melakukan kajian lebih dalam terkait Orangutan dan kondisi hutan dan lahan di sekitar Desa Tempurukan dan Kalibaru. 

"Dari hasil kajian, Orangutan berada dalam kawasalan terfragmentasi dan terisolir. Dengan jumlah makanan yang sedikit sehingga potensi Orangutan masuk ke kebun warga cukup besar," ungkapnya, Senin (16/4).

Untuk itu, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, IAR Indonesia bersama dengan BKSDA Kalimantan Barat sepakat untuk melakukan translokasi induk dan anak orangutan yang diberi nama Mama Ris dan Baby Riska ini. 

Namun translokasi tidak mudah lantaran tim patroli OPU yang bertugas mengawasi Orangutan ini sempat kehilangan jejak sehingga kegiatan translokasi sempat ditunda. 

"Translokasi berjalan lancar, Orangutan dibius terlebih dahulu untuk alasan keselamatan tim translokasi. Kemudian dilakukan pemeriksaan oleh tim medis IAR, diketahui kondisi induk dan anak Orangutan ini dalam kondisi yang sehat dan langsung ditranslokasi ke kawasan hutan Sentap Kancang," terangnya.

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez mengatakan, dari beberapa translokasi dilakukan, penyebabnya tidak jauh berbeda diantaranya hutan yang terdegradasi dan terfragmentasi membuat perjumpaan manusia dengan Orangutan menjadi lebih sering. Ini artinya kemungkinan terjadinya konflik lebih besar.

Menurutnya, translokasi hanyalah solusi sementara karena tidak menjamin kasus seperti tidak terjadi lagi. Solusi sebenarnya bagaimana semua warga dan pemangku kepentingan termasuk pihak pemerintah dan perusahaan, bekerja sama menghentikan deforestasi dan degradasi lahan. 

"Harapan kami adalah warga dan Orangutan dapat hidup berdampingan tanpa saling menganggu," mintanya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor, menyatakan bahwa kasus-kasus semacam ini bukan sekadar tanggung jawab dari sektor kehutanan maupun mitra yang khusus menangani satwa liar dilindungi. 

Ia menilai banyaknya konflik satwa liar dan manusia saat ini seharusnya sudah cukup membuat kita lebih sadar. 

"Sudah terjadi kerusakan yg masif terhadap habitat satwa. Sudah saatnya kita bereskan akar masalahnya bukan hanya sekadar menyelesaikan konflik demi konflik," pungkasnya. (teo)