Kelurahan Sukaharja Tertinggi Kasus DBD, Dinkes Bentuk Pemantau Jentik Satu Rumah Satu Orang

Ketapang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 62

Kelurahan Sukaharja Tertinggi Kasus DBD, Dinkes Bentuk Pemantau Jentik Satu Rumah Satu Orang
DIRAWAT - Warga Mempawah, Musbar saat menemani anaknya bernama Muazizah yang terbaring lemah karena menderita DBD, di RSUD Mempawah. Di Ketapang Kasus DBD dari awal tahun 2018 hingga kini telah mencapai 150, dan bahkan ada yang sampai meninggal dunia. (Do
Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Rustami
"Khusus di wilayah Sukaharja karena jumlah kasus paling banyak, petugas melakukan penyuluhan hingga ke RT-RT. Saat ini sudah berjalan satu rumah satu pemantau jentik untuk wilayah tersebut"

KETAPANG, SP - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ketapang terus melakukan upaya mengantisipasi mewabahnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), khususnya di Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Delta Pawan yang jumlah kasusnya terbanyak.

Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Rustami mengatakan, pihaknya melibatkan masyarakat sebagai pemantau jentik di rumah masing-masing. Pihaknya juga telah melakukan imbauan baik melalui radio hingga ke puskesmas-puskemas.

"Selain itu kita juga sudah lakukan advokasi bersama stakeholder terkait mengenai penanganan dan penyadaran terhadap masyarakat soal DBD, khususnya di Puskesmas Kedondong yang kasusnya terdapat paling banyak di Kelurahan Sukaharja beberapa waktu lalu," ungkapnya, Kamis (24/5).

Ia melanjutkan, hingga saat ini jumlah kasus DBD sejak januari mencapai 150an dengan jumlah terbanyak di Kecamatan Delta Pawan, tepatnya di Kelurahan Sukaharja. Untuk itu guna mencegah meningkatnya kasus DBD, terlebih saat ini kondisi cuaca berubah-ubah dan berpotensi mempercepat perkembang biakan nyamuk, pihaknya melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat.

"Khusus di wilayah Sukaharja karena jumlah kasus paling banyak, petugas melakukan penyuluhan hingga ke RT-RT. Saat ini sudah berjalan satu rumah satu pemantau jentik untuk wilayah tersebut," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Ketapang, Jamhuri Amir meminta peran aktif masyarakat untuk dapat menjaga kebersihan baik di dalam rumah maupun lingkungan sekitar rumah. Terlebih saat ini cuaca tidak menentu yang kerap hujan kemudian panas.

"Air bekas hujan kalau tergenang kemudian ada panas mempercepat nyamuk berkembang biak. Jadi masyarakat harus peduli melihat kondisi lingkungan, jangan sampai ada kaleng, ember atau sampah menampung genengan air menjadi tempat nyamuk berkembang," ungkapnya.

Begitu juga di bak-bak mandi di rumah, harus dibersihkan serta tidak kalah penting menabur abate yang dibagikan oleh dinas terkait, jangan sampai abate yang dibagikan hanya disimpan.

"Peran aktif masyarakat penting, mulai menjaga kebersihan di dalam rumah hingga di luar rumah. Ini sebagai bentuk ikhtiar kita bersama dalam mencegah dan mengantisipasi mewabahnya demam berdarah," katanya.

Selain itu, ia juga meminta dinas terkait untuk pro aktif melakukan sosialiasi hingga melakukan pembagian abate dan melakukan fogging di lokasi-lokasi yang dinilai rawan terhadap DBD.

Harus Lebih Pro Aktif

Tokoh Masyarakat Ketapang, Yudo Sudarto mengatakan, Dinkes harus lebih pro aktif dalam menanggani kasus DBD, jangan sampai penyakit yang diakibatkan nyamuk tersebut terus meningkat.

"Kita apresiasi langkah Dinkes yang terus berupaya mengantisipasi mewabahnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun harus lebih di tingkatkan lagi," ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat waspada dengan musim penghujan dan pancaroba, karena berpotensi mempercepat perkembang biakan nyamuk.

"Lakukan gerakan 3M Plus (menguras, mengubur, menutup) plusnya memakai obat nyamuk, memakai kelambu saat tidur, Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk," pungkasnya. (teo/pul)