AKBP Sunario Akui Pernah Kunjungan ke Kepolisian Souzho, Tiongkok

Ketapang

Editor Indra W Dibaca : 5088

AKBP Sunario Akui Pernah Kunjungan ke Kepolisian Souzho, Tiongkok
Foto kunjungan Kapolres Ketapang dan jajaran ke Kepolisian Souzho, China 2017 lalu. (ist)
KETAPANG, SP - Setelah beredarnya foto plakat bergambar bendera Indonesia dan China yang bertuliskan Kepolisian Negara Republik Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Ketapang, Biro Keamanan Publik Republik Rakyat Tiongkok Provinsi Jiangsu Resor Suzhou, Ketapang Ecology and Agriculture Foresty Industrial Park, Kantor Polisi Bersama beredar di media sosial, kini tersebar foto kunjungan AKBP Sunario, mantan Kapolres Ketapang beserta jajaran ke kepolisian wilayah Souzho, Tiongkok 2017 lalu.

Saat dikonfirmasi, AKBP Sunario mengatakan foto-foto dirinya beserta jajaran di Souzho, Tiongkok terjadi tahun 2017 lalu. Kedatangan pihaknya ke sana untuk memenuhi undangan dari Kepolisian Souzho, Tiongkok.

"Kita diundang sama mereka, tapi di sana kita tidak ada diajak kerja sama. Mereka hanya menunjukkan inilah Kepolisian Souzho yang menangani banyak perkara kriminal, kemudian diperlihatkan mengenai kecanggihan pengamanan mereka, jadi di sana tidak ada kesepakatan cuma memenuhi undangan saja," ungkapnya, Jum'at (13/7).

Dia menegaskan pertemuan itu diketahui oleh Polda Kalbar dan Mabes Polri lantaran pihaknya telah meminta izin untuk memenuhi undangan tersebut.

"Saat itu kita ada izin ke Polda dan Mabes, jadi mereka tahu," tuturnya.

Terkait kedatangan polisi Souzho ke Ketapang, diakuinya karena di Ketapang terdapat salah satu perusahaan dari Souzho. Mereka tidak ingin perusahaan tersebut atau warga mereka yang ada di Indonesia khususnya di Ketapang melakukan tindak pidana atau pelanggaran.

"Jadi mereka pernah bilang mau ke Indonesia lihat perusahaan ini, dengan adanya kunjungan mereka kalau saya lihat dari perusahaan itu yang mengundang," akunya.

Sedangkan, terkait plakat yang viral, diakuinya kedatangan kepolisian Souzho mengajak kerja sama. Mereka datang mengajukan draf kerja sama, di mana jika terjalin nota kesepakatan, maka plakatnya seperti yang mereka bawa dan fotonya viral.

"Tapi itu baru sebatas ajuan mereka, karena tidak boleh, kami jelaskan kalau kerja sama harus dari Mabes Polri, makanya mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan Plakat kita amankan," tegasnya.

Kerja sama yang dimaksud yakni dalam bentuk pengamanan. Prinsipnya mereka tidak mau perusahaan yang berasal dari wilayah mereka melakukan suatu tindak pidana atau kegiatan Ilegal.

"Soal apakah mereka tahu atau tidak mekanisme kerja sama harus dengan Mabes Polri, saya rasa mereka tidak tahu dan kelihatannya tidak tahu," akunya. (teo/bls)