Plang Nama Jalan Bertuliskan Aksara China, Ratusan Warga Demo PT Ketapang Ecology

Ketapang

Editor Indra W Dibaca : 10102

Plang Nama Jalan Bertuliskan Aksara China, Ratusan Warga Demo PT Ketapang Ecology
Aksi unjuk rasa di Kantor perusahaan Ketapang Ecology and Agriculture Forestry Industrial Park, Kamis (19/7). (SP/Teo)
KETAPANG, SP - Ratusan masyarakat Ketapang bersama dengan Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK) melakukan unjuk rasa bertajuk Aksi Bela Negara 197 di Kantor perusahaan Ketapang Ecology and Agriculture Forestry Industrial Park yang merupakan perusahaan dari PT BSM, Kamis (19/7).

Pengunjuk rasa menuntut perusahaan agar mencabut plang nama jalan yang bertuliskan aksara China serta sebuah patung tokoh China setinggi enam meter yang disinyalir sebagai tokoh komunis yang dipajang di area perusahaan di Desa Sei Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.

Ketua FPRK, Isa Anshari dalam orasinya dihadapan perwakilan managemen perusahaan serta puluhan anggota Polres Ketapang yang berjaga, mengaku kesal dengan ulah oknum yang tidak bertanggung jawab yang diduga dengan sengaja merusak beberapa jembatan penghubung menuju lokasi perusahaan untuk menghambat aksi mereka.

"Saya ucapkan terimakasih kepada siapa saja yang mencoba menghalangi aksi kami. Tadi ada beberapa kayu dijembatan yang dirobohkan, supaya kami tidak bisa lewat, tapi kami tidak diam, kami sudah tahu makanya kami bawa kayu sendiri memperbaiki jembatan itu dan kami bisa melewatinya," ungkapnya dalam orasi, Kamis (19/7).

Ia melanjutkan, kalau kedatangan pihaknya guna menyampaikan tujuh tuntutan terkait polemik yang saat ini viral, bahkan menurut pihaknya memakan korban yakni Mantan Kapolres Ketapang, AKBP Sunario.

Pertama meminta PT BSM untuk angkat kaki dari Kabupaten Ketapang lantaran telah berani melecehkan, menghina harga diri bangsa kami dengan cara berkeingingan membuat Kantor Polisi Bersama sehingga seolah-olah menilai Polri tidak mampu menjalankan tugasnya.

Kedua, pihaknya meminta PT BSM untuk mengembalikan seluruh Tenaga Kerja Asing (TKA) Ilegal ke negara asalnya.

Ketiga menuntut PT BSM mencabut, menghilangkan simbol-simbol negara Tiongkok mulai dari plang nama jalan bertuliskan aksara Tiongkok, serta patung besar yang berdiri megah yang disinyalir sebagai tokoh komunis Tiongkok di lingkungan perusahaan.

Keempat, PT BSM diminta memperlihatkan persoalan izin. Kelima meminta pertanggungjawaban Pemerintah Daerah hingga pusat mengenai izin PT BSM termasuk izin pelabuhan khusus (Tersus).

"Jadi kami berharap ada tim ditugaskan menyelidikan hal ini agar tidak ada lagi korban lain seperti Kapolres sebelumnya," katanya. 

Keenam pihaknya mendesak pihak Imigrasi dan Bea Cukai memerika barang yang masuk yang dibawa oleh perusahaan berasal dari luar serta tenaga kerja asing yang bekerja di perusahaan. 

Ketujuh, mendesak perusahaan menghentikan seluruh pembelian barang dari Tiongkok mulai dari paku, palu dan lainnya yang seharusnya bisa dibeli di Indonesia. (teo)