DG Tega Setubuhi Anak Difabel, Pelaku Iming-Iming Korban dengan Uang

Ketapang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 92

DG Tega Setubuhi Anak Difabel, Pelaku Iming-Iming Korban dengan Uang
DIPERIKSA – Suasana pemeriksaan korban (kerudung berwarna biru) oleh aparat Polres Ketapang, Kamis (9/8). Korban mengakui disetubuhi pelaku yang merupakan tetangganya sebanyak lima kali. (SP/Theo)
Kapolres Ketapang, AKBP Yuri Nurhidayat
"Ketika dipergoki, pelaku langsung melarikan diri melalui pintu belakang, kemudian abang korban bertanya kepada korban, apakah pernah diperlakukan serupa dan diakui korban pernah sebanyak lima kali dari bulan puasa 2018"

KETAPANG, SP – Kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali terjadi di wilayah hukum Polres Ketapang. Seakan tak ada habisnya, kali ini DG (40) warga Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS), tega menyetubuhi tetangganya sendiri yang merupakan penyandang difabel. Dari pengakuan korban, pelaku sudah lima kali berbuat tak senonoh itu.

"Pengakuan korban sudah lima kali disetubuhi oleh pelaku dan kejadian tersebut berulang-ulang kali sejak bulan puasa hingga setelah Lebaran," kata Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Ketapang, Harlisa saat mendampingi korban, Kamis (9/8).

Dia menceritakan, pelaku pertama kali berbuat keji mengiming-imingi korban dengan sejumlah uang. dan pelaku selalu melakukan askinya di dapur rumah korban ketika rumah korban dalam keadaan sepi.

"Korban tinggal bertiga sama ibu dan adiknya, sang adik juga difabel sedangkan ibunya kerja ke ladang dari pagi sampai sore, jadi pelaku selalu menjalankan aksinya ketika ibu korban pergi bekerja," terangnya.

Pelaku sendiri menurutnya, telah memantau kondisi dan situasi rumah korban. Pasalnya dari pengakuan warga setempat, pelaku sering duduk-duduk di depan rumah korban. Diduga memantau situasi sekitar dan memastikan ibu korban sudah pergi ke ladang.

Aksi bejat pelaku akhirnya mulai tercium, ketika korban yang awalnya takut dan berteriak pelaku kembali mengganggu, sehingga menimbulkan kecurigaan bagi keluarga korban. Aksi pelaku terbongkar, ketika dipergoki langsung ibu korban yang melihat pelaku di dalam rumah dan hendak membaringkan korban.

Saat itu, pelaku mengira ibu korban sudah ke ladang. “Jadi dia masuk hendak melakukan perbuatannya, dari situlah semua terbongkar. Hingga akhirnya abang kandung korban langsung melaporkan kejadian ini ke kepolisian setempat," jelasnya.

Kapolres Ketapang, AKBP Yuri Nurhidayat mengatakan, kejadian tersebut pertama kali dilaporkan oleh abang kandung korban pada Minggu (5/8) di Mapolsek MHS. 

"Ketika dipergoki, pelaku langsung melarikan diri melalui pintu belakang, kemudian abang korban bertanya kepada korban, apakah pernah diperlakukan serupa dan diakui korban pernah sebanyak lima kali dari bulan puasa 2018," katanya.

Dia menerangkan, setiap kali melakukan perbuatan, pelaku selalu membujuk korban dengan mengiming-imingi memberikan imbalan sejumlah uang.

"Barang bukti yang sudah diamankan uang tunai sebesar sebesar Rp12.000 yang digunakan untuk mengiming-imingi korban. Pakaian korban serta hasil visum. Untuk pelaku sendiri sampai saat ini masih dalam pengejaran," katanya.

Pembinaan Secara Preventif

Tokoh masyarakat Ketapang, Yudo Sudarto mengaku prihatin dengan banyaknya kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak belakangan ini. Dia menilai, perlu penanganan serius menanggulangi dan mengantisipasi hal-hal seperti ini agar tak terjadi kembali.

"Tak hanya sanksi maksimal bagi pelakunya, tetapi perlu ada pembinaan secara preventif yang dilakukan Pemda melalui pihak kecamatan kepada masyarakat di wilayah binaan kecamatan tersebut," katanya.

Dia menilai, ironisnya kasus-kasus menyasar terhadap anak-anak yang seharusnya dilindungi dan merupakan aset daerah. Seakan-akan menjadi kecenderungan anak-anak sebagai tempat pelampiasan bagi para pelaku. 

Untuk itu, dia mengajak seluruh orang tua, tokoh agama, masyarakat serta Muspika di wilayah yang kerap terjadi kekerasan seksual terhadap anak, untuk bersama-sama membina secara preventif kepada warga.

"Anak aset bangsa wajib dididik, dilindungi bukan dijadikan korban perbuatan kejahatan," pungkasnya. (teo/and)