Rabu, 29 Januari 2020


Kasus Korupsi Tanjung Pasar Dilimpahkan ke Kejari

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 204
Kasus Korupsi Tanjung Pasar Dilimpahkan ke Kejari

Konferensi pers – Aparat Kejaksaan Negeri Ketapang saat menggelar konferensi pers dengan wartawan terkait pelimpahan dua tersangka kasus Dana Desa (DD) dan Anggaran Dana Desa (ADD) di Desa Tanjung Pasar, Kecamatan Muara Pawan. ist

KETAPANG, SP – Kasus dugaan korupsi Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) Desa Tanjung Pasar, Kecamatan Muara Pawan telah memasuki tahap dua. Tersangka dalam kasus ini yakni, mantan penjabat Kepala Desa dan Bendahara  Tanjung Pasar, M Hasan dan Heri Yunanda. Keduanya telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Ketapang dengan dugaan tindakan korupsi yang merugikan negara Rp689 juta.

“Keduanya melakukan penyalahgunaan kewenangan dengan tidak melaksanaan beberapa item pembangunan atau pembangunan fiktif, namun membuat laporan palsu untuk mencairkan dana sehingga negara mengalami kerugian sebesar Rp689 juta,” jelas Kasi Intel Kejari Ketapang, Agus Supriyanto, Kamis (28/11).

Saat ini kedua tersangka sudah diamankan oleh Jaksa Penuntut Umum untuk kemudian mengikuti proses hukum lanjutan, dan akan dibawa ke Lapas Pontianak untuk kemudian dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pontianak.

“Rencana hari ini kedua tersangka kita bawa ke Pontianak untuk dilakukan penahanan di Lapas Pontianak,” akunya.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Eko Mardianto melalui Anggota Unit Tipikor Polres Ketapang, Aiptu Manurung, mengaku kasus dugaan korupsi DD dan ADD terungkap dari informasi masyarakat. 

Polisi kemudian menindaklanjuti laporan tersebut. Hasil penyelidikan menemukan adanya penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan tersangka, dengan melakukan pembayaran pekerjaan tahun 2016 menggunakan anggaran tahun 2017.

“Selain itu setelah diselidiki lebih lanjut ditemukan adanya tiga pembangunan fiktif atau tidak dilaksanakan, di antaranya pembangunan jembatan, rehab jalan rambat beton serta rehab gedung serbaguna yang laporan mereka untuk pencairan 100 persen pekerjaan itu selesai,” tuturnya.

Selain itu, juga ada sejumlah uang yang tidak disilpakan, namun dipegang oleh tersangka dengan alasan untuk membeli bahan-bahan untuk keperluan pembangunan. 

“Setelah diperiksa oleh saksi ahli diketahui jumlah kerugian akibat perbuatan para tersangka mencapai Rp689 juta,” terangnya. (teo/jee)