Senin, 17 Februari 2020


Senjakala Pasar Rangga Sentap, Pasar Induk Yang Mulai Terabaikan

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 1471
Senjakala Pasar Rangga Sentap, Pasar Induk Yang Mulai Terabaikan

DEMO – Pedagang Pasar Rangga Sentap di Kabupaten Ketapang demonstrasi di Kantor DPRD setempat, Senin (21/1). Mereka menuntut relokasi pasar.

KETAPANG, SP – Denyut jual beli di Pasar Rangga Sentap di Kelurahan Kantor, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang tiap tahun kian melemah. Para pedagang yang dahulu berjubel memadati lokasi tinggal cerita. Tiap hari ada saja pedagang bangkrut. Pasar Rangga Sentap kehilangan pembeli. Kini tercatat ratusan pedagang pailit.

 

Satu di antara pedagang, Mustafa (46) sedih, matanya berkaca-kaca saat menyampaikan keluhannya saat pendapatannya terus tergerus akibat kemunculan pasar-pasar lain yang ada di Ketapang.

 

Pasar induk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ketapang tersebut perlahan ditinggal para pembeli. Letak yang dianggap kurang strategis menjadi satu di antara pemicunya.

 

Dampaknya pendapatan para pedagang berkurang, bahkan ratusan pedagang yang dulu berdagang di pasar tersebut harus gulung tikar, termasuk Mustafa.

 

Mustafa yang pedagang pakaian di pasar tersebut mengeluh di depan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) pada saat audiensi yang dilakukan oleh ratusan pedagang Pasar Sentap di Aula Gedung DPRD, Senin (20/1).

 

Sorot matanya tajam penuh harap ketika menyampaikan keluhan. Ia tak sendirian, ada ratusan pedagang lain yang hadir dalam aksi damai yang digelar oleh pedagang Pasar Sentap yang merasakan dampak dari tergerusnya pasar induk milik pemerintah tersebut. 

 

“Tidak hanya pendapatan yang turun drastis, bahkan anak saya juga secara tidak langsung menjadi korban. Anak saya meninggal karena sakit dan kekurangan biaya, itu akibat tidak ada pendapatan memadai dari hasil berjualan saya karena pasar yang selalu sepi,” katanya dengan penuh kesedihan.

 

Sesekali ia menghela napas saat menyampaikan apa yang dirasakannya. Bapak tiga anak tersebut menceritakan bagaimana dirinya berjuang untuk bertahan sebagai pedagang Pasar Sentap sejak tahun 2004 silam.

 

Bahkan, sudah ada ratusan pedagang pakaian, sepatu dan aksesoris seperti dirinya yang saat ini telah gulung tikar. 

 

Ia menerangkan, puncak sepinya pasar terjadi sekitar tahun 2012 silam saat sudah banyak alternatif pasar lain termasuk pasar ilegal di Ketapang. Pendapatan normal yang dulu bisa mencapai hingga Rp500 ribu per hari, sejak tahun 2010 sampai saat ini jauh mengalami penurunan.

 

“Bahkan saat ini untuk laku satu saja sebagai penglaris itu susah, bahkan ada kawan saya itu dalam sebulan cuma laku satu saja,” keluhnya.

 

Di tengah kondisi tersebut, dirinya yang merupakan satu dari delapan pedagang pakaian, sepatu dan aksesoris yang masih bertahan terus melakukan berbagai upaya untuk tetap bertahan dari pekerjaan sebagai pedagang.

 

Hingga pada akhirnya dampak yang paling dirasakannya akibat pendapatannya yang menurun drastis, anak pertamanya yang berusia 16 tahun meninggal dunia akibat sakit.

 

“Anak saya mondok. Pas sakit saya bawa pulang Ketapang untuk berobat hingga akhirnya dirujuk oleh dokter untuk dibawa ke Pontianak. Saat itu kita terus berikhtiar untuk mencari biayanya, hingga akhirnya anak saya meninggal. Kejadiannya tahun 2016 lalu. Ini baru saya yang menyampaikan, masih banyak pedagang lain yang merasakan dampak dari sepinya pasar sentap ini,” tuturnya.

 

Untuk itu, ia menyampaikan harapan kepada pemerintah agar dapat peka melihat nasib para pedagang ini. Dulu, kata Mustafa, para pedagang, khususnya pedagang pakaian, sepatu hingga aksesoris, bisa mempekerjakan empat sampai lima orang untuk setiap toko sehingga membantu mengurangi pengangguran.

 

Namun saat ini itu tidak bisa dilakukan lagi. Bahkan sudah ada seratus lebih pedagang sepertinya yang bangkrut.

 

Sementara itu, Hen (29), satu di antara pedagang ikan merasakan hal yang sama. Dirinya mengaku saat ini untuk mengembalikan modal dagangannya kadang tidak bisa terpenuhi.

 

“Saya berjualan dari tahun 2013. Kalau dulu penghasilan kotor per hari bisa Rp200 ribu atau ketika pasar ilegal tidak buka pendapatan lumayan. Tapi kalau pasar ilegal atau yang letaknya lebih strategis buka, maka pendapatan saya sangat jauh bahkan menutupi biaya membeli ikan atau udang dari nelayan tidak tertutupi,” akunya. 

 

Hen membenarkan sudah ada ratusan pedagang yang sudah gulung tikar akibat kondisi ini, sehingga membuat dirinya beserta ratusan pedagang terus menuntut Pemda agar memberikan solusi atas kondisi ini.

 

“Namun belum ada kepastiannya, makanya hari ini kami beramai-ramai menyatakan sikap untuk diminta direlokasi dari pasar sentap,” katanya.

 

Sementara itu, Ketua Forum Pedagang Pasar Rangga Sentap, Maniri mengaku kalau kedatangan ratusan pedagang menuntut dilakukan relokasi, pemindahan terhadap para pedagang pasar rangga sentap ke lokasi baru yang dianggap lebih strategis.

 

“Karena Pasar Rangga Sentap ini sepi pembeli dan pengunjung. Kalau direlokasi kami ingin lokasi strategis sehingga bisa bersaing dengan pasar-pasar lain,” tegasnya. (teo/bah)