Jelang Upacara Nyepi di Pura Giri Pati Mulawarman, Jalan Adi Sucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar.

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 1252

Jelang Upacara Nyepi di Pura Giri Pati Mulawarman, Jalan Adi Sucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar.
Dalam rangka menyambut Hari Raya pada 9 Maret 2016 atau tahun Saka 1938, umat Hindu menyelenggarakan berbagai ritual. Diantaranya, Melasti, keluarnya Ogoh-ogoh mengitari sekitar Pura Giri Pati Mulawarman, Jalan Adi Sucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Ray
Berbagai persiapan dilakukan umat Hindu sedunia untuk merayakan Hari Raya Nyepi pada 9 Maret 2016. Inilah hari kemenangan rohani bagi umat Hindu yang kali ini jatuh pada tahun Saka 1938. 
 
Di Kota Pontianak, umat Hindu menggelar upacara Nyepi di Pura Giri Pati Mulawarman, Jalan Adi Sucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perayaan ini sudah disiapkan.

Di antaranya, menggelar kegiatan ritual dan non ritual menjelang Hari Raya Nyepi. Seperti, Melasti, Tawur, dan Pengrupukan.   Melasti adalah proses pembersihan diri sembari memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan keharmonisan alam semesta. Ritual ini berlangsung pada 6 Maret di Pantai Kijing, Mempawah.  

 Sedangkan Tawur Kesanga digelar besok, pada 8 Maret 2016 yang diawali arak-arakan Ogoh-ogoh pada pukul 14.00 WIB. Rute pawai dimulai dari Pura Giri Pati Mulawarman di Jalan Adi Sucipto menuju Parit Baru, kemudian menuju perempatan lampu merah Tol Kapuas Dua.

Di situ, Ogoh-ogoh akan diputar tiga kali sebelum kembali ke Pura Giri Pati Mulawarman.   Malam harinya, akan diadakan Upacara Pecaruan pada pukul 18.00 WIB. Makna ritual ini adalah, memberikan sesaji kepada makhluk-makhluk di luar alam manusia.

Tujuannya, supaya terjadi keharmonisan antara manusia dan alam lingkungan.   Berlangsung pula ritual Pengrupukan. Inilah proses menaburkan nasi tawur sambil memukul-mukul kentongan, sehingga menimbulkan suara yang sangat gaduh.  
 Suara ini diyakini akan mengusir Buta Kala atau energi negatif yang timbul dari kegelapan di bumi, baik di lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.  
 Di Bali, Pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai Ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan sebelum dibakar. Tujuannya sama, mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar. 
 
Beberapa sesaji dan perlengkapan upacara sudah disiapkan oleh umat di Pura Giri Pati Mulawarman. Misalnya, sesajen yang disebut Sodan. Sesajen ini berupa nasi yang diletakkan di atas selembar daun janur yang sudah dibentuk menjadi nampan. Ada kacang merah, jeruk, sawo, pisang, dan bunga kamboja yang tersedia di nampan ini.  
 Adapun pembuatan Ogoh-ogoh kali ini dipersiapkan sejak sebulan yang lalu. Menurut Nyoman, Panitia Hari Raya Nyepi, Ogoh-ogoh ini dikerjakan oleh umat di Pura Giri Pati Mulawarman.  
 “Ogoh-ogoh merupakan simbol sifat-sifat tidak baik manusia di bumi. Misalnya, serakah, ego, pemabuk, pemakai narkoba, dan sifat-sifat buruk lainnya dari raksasa, mahluk jahat yang sifatnya memang negatif dan selalu ingin berkuasa,” ujar Pandita Putu Dupa Bandem kepada Suara Pemred di Pura Giri Pati Mulawarman, Senin (7/3).  

Bahan-bahan patung ini antara lain terdiri dari kayu dan besi untuk dijadikan kerangka. Sedangkan rambut Ogoh-ogoh langsung didatangkan dari Bali.   Ogoh-ogoh dengan tinggi dua meter ini, dirakit dan disimpan di dalam aula gedung baru, Pura Giri Pati Mulawarman. Selama puncak Nyepi yang jatuh pada 9 Maret 2016, umat Hindu wajib melaksanakan serangkaian ritual.  
Pertama, puasa 24 jam dengan tidak makan dan minum sejak Rabu (9/3) yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Puasa ini disebut Catur Brata Penyepian. Artinya masa penyepian. Tahapan ini terdiri dari Amati Geni, dimana umat dilarang menyalakan api. Maknanya, mematikan hawa nafsu dan sikap angkara murka  
Umat kemudian melakukan Amati Karya. Yakni, tidak bekerja secara fisik melainkan secara rohani. Selama itu umat berhubungan langsung dengan Tuhan sambil mengintropeksi diri.   Tahapan berikut, yakni Amati Lelungan. Dimana umat tidak boleh bepergian atau tidak keluar rumah. Umat diwajibkan berdiam diri di dalam rumah, agar bisa mengintropeksi diri sambil membaca kitab Weda.  
Selama itu umat dilarang berfoya-foya, dilarang menenggak minuman keras dan atau sifat-sifat negatif lainnya. Pada Kamis (10/3) berlangsung Ngembak Geni.   Inilah tahapan di mana umat Hindu saling mengucap syukur dan memaafkan (ksama) untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.  
Menurut Pandita Putu Dupa Bandem, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kalbar, umat Hindu merayakan Hari Nyepi dengan cara evaluasi dan introspeksi diri.  
Melalui Hari Raya Nyepi 2016, Pandita Putu Dupa Bandem mengimbau supaya hubungan antar manusia dan sesama daerah semakin ditingkatkan, dan lebih baik dari tahun sebelumnya.  
“Saya hanya berharap dan mengimbau hubungan antar manusia dan sesama daerah semakin ditingkatkan dan lebih baik, dan ogoh-ogoh besok didukung oleh cuaca,” pungkasnya (delviana purba/lis)