APDESI Kubu Raya: Banyak Pendamping Desa Tidak Paham Tupoksi

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 1708

APDESI Kubu Raya: Banyak Pendamping Desa Tidak Paham Tupoksi
ILUSTRASI- danadesa.info

Kubu Raya, SP –
Para pendamping dana desa di Kabupaten Kubu Raya dianggap kurang memahami masalah perdesaan, sehingga sulit bila berada di lapangan.
Hal itu diungkapkan Sekretaris Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kubu Raya, Musa menilai banyak pendamping desa yang ditempatkan di desa di Kubu Raya, tidak memahami tugas dan fungsinya sebagai pendamping desa.


“Bahkan, sarjana pendamping desa seringkali mencampuri urusan desa yang tidak semestinya dilakukan, karena bukan tugas dan fungsinya atau domain sebagai pendamping desa,” ujarnya.


Menurutnya, tugas pendamping desa adalah mendampingi desa-desa yang tidak memahami administrasi. Bagi desa yang sudah memahami administrasi, ia merasa tidak perlu adanya pendamping desa.  

Selain itu, sudah ada beberapa laporan yang masuk kepada pihaknya, beberapa orang pendamping desa yang ditempatkan di Kubu Raya, tidak dapat mengoperasikan komputer. Hal itu dikhawatirkan bertolak belakang dengan tugas yang seharusnya dilakukan sebagai pendamping desa.

“Jika kondisi pendamping desa seperti ini, saya yakin mereka juga tidak akan mampu mendampingi desa. Bukan mereka yang mendampingi desa, tetapi desa yang mendampingi mereka,” ungkapnya.  


Hingga saat ini, seluruh kepala desa di Kubu Raya belum mendapatkan paparan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) tentang sarjana pendamping desa.

“Saya berharap penyeleksiaan sarjana pendamping desa dapat dilakukan dengan baik. Perekrutan bukan hanya berdasarkan seseorang bertitelkan sarjana saja. Namun mesti memahami fungsi dan tugasnya, serta memahami aturan sebagai pendamping desa,” ujarnya.


Seorang pelamar dari Sumatera Selatan, Elvya Zulaeha mengirimkan testimoninya tentang pengalamannya mengikuti seleksi pendamping dana desa. Elvya mengirim surat lamaran ke Satker PMD Sumsel tahun 2015.

"Sebelumnya saya melihat kualifikasi yang diinginkan, dan ternyata saya bisa memenuhi kualifikasi
,” ujarnya.

 
Ia pernah bekerja sebagai pendamping di PNPM Mandiri pedesaan selama empat tahun. Usianya jauh dari batas maksimal. Karena merasa kualifikasi memenuhi, maka lamaran pun dikirimkan. Namun ia tidak mendapatkan panggilan.

"Saya tidak tahu masalahnya.
Menurut info dari teman-teman, malah yang lulus banyak yang belum ada pengalaman pemberdayaan. Berarti satu syarat tidak terpenuhi oleh mereka. Tapi bisa lulus seleksi administrasi dan bisa diterima,” ujarnya.


Sementara itu, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Marwan Jafar menegaskan, “Seleksi pendamping dana desa berkeadilan.” (jek/ant/det/lis)