Angka Kemiskinan di Kabupaten Kubu Raya Urutan Ketiga Terendah di Kalbar

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 1031

Angka  Kemiskinan di Kabupaten Kubu Raya Urutan Ketiga Terendah di Kalbar
Outlook Target Ekonomi dan Kemiskinan Strategi Penanggulangan Kemiskinan 2012, 2015, 2020, 2025. (slideshare.net)
KUBU RAYA, SP – Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus mengungkapkan bahwa angka kemiskinan wilayahnya menempati urutan ketiga,  terendah setelah Kabupaten Sanggau dan Kota Pontianak di Kalimantan Barat.  

“Apa yang dilakukan oleh Pemkab Kubu Raya selama ini sudah menunjukkan hasil dalam penurunan tingkat kemiskinan seiring juga dengan peningkatan perekonomian masyarakat Kubu Raya,” kata Hermanus di Sungai Raya, Jumat (8/4). 

 Menurut Hemanus, untuk mencapai angka kemiskinan terendah, Pemkab Kubu raya telah melakukan berbagai program, baik di bidang infrastruktur, pertanian, pendidikan maupun program-program lainnya.

Tujuannya untuk meningkatkan skill agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan.   “Untuk mendorong menurunnya angka kemiskinan ini kami juga berupaya menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Hermanus.  

Hermanus menambahkan, agar angka kemiskinan di Kubu Raya terus mengalami penurunan, maka diperlukan sinergi dan dorongan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Kalbar.

Sehingga ke depannya bukan saja angka kemiskinan yang mengalami penurunan, namun disertai pula menurunnya angka pengangguran maupun permasalahan lainnya.   “Perlu adanya kebersamaan untuk terus melakukan upaya pengurangan angka kemiskinan. Mudah-mudahan ke depannya kita dapat menimalisir angka kemiskinan di Kubu Raya,” pungkas Hermanus.

Budidaya Lele

Sebelumnya Hermanus melakukan panen lele hasil budidaya kolam terpal di Desa Rasau Jaya Umum milik petani. Budidaya lele, baik yang menggunakan keramba apung maupun kolam dan menggunakan sistem bioflok, sangat efektif untuk mengangkat perekonomian masyarakat.

Namun, Hermanus lebih mendorong penggunaan sistem bioflok karena dapat meningkatkan produktivitas hasil panen lele. "Jika di kolam biasa satu meter kubik bisa dimuati 60 ekor lele, maka di kolam bioflok yang sama bisa berisi 600 lele," kata Hermanus.

Pada sistem bioflok, kata Hermanus, tidak diperlukan lahan kolam yang luas untuk budidaya lele, cukup kolam buatan menggunakan bahan terpal dengan rangka bambu atau besi. Namun dengan kualitas air yang ditingkatkan menggunakan mesin aerator yang memasok sirkulasi oksigen dalam kolam.

"Panen lele dengan sistem bioflok sangat melimpah. Kolam yang kecil saja bisa berisi lele siap konsumsi yang bertumpang tindih seperti cendol. Bila harga lele Rp 18-20 ribu per kg, pembudidaya lele untung besar," kata Hermanus.


Pihaknya berharap sistem ini dapat dikembangkan pembudidaya di Kubu Raya dengan berkoordinasi bersama petugas penyuluh perikanan, sehingga dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja baru. (jek/bah)



Komentar