Tujuh Desa di Kubu Raya Rawan Karhutla

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 741

Tujuh Desa di Kubu Raya Rawan Karhutla
Dua petugas pemadam kebakaran sedang memadamkan api yang membakar lahan. Tim terpadu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melaksanakan patroli api ke tujuh desa rawan kebakaran di Kabupaten Kubu Raya (KKR), Selasa (3/5). (IST)
KUBU RAYA, SP- Tim terpadu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melaksanakan patroli api pada tujuh desa rawan kebakaran di Kabupaten Kubu Raya (KKR), Selasa (3/5). Patroli itu dilakukan untuk mencegah karhutla.

Operasi patroli dimulai dari markas Manggala Agni, Rasau Jaya hingga ke tujuh desa di KKR yang rawan karhutla. Tujuh desa itu antara lain Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya 2, Punggur Kecil, Panca Roba, Teluk Bakung, Mekar Sari dan Limbung.

Sementara tim terpadu terdiri atas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat desa yang bersangkutan.

Adapun personel yang dilibatkan di antaranya 21 personel Manggala Agni, tujuh personel Babinsa, dan tujuh personel Masyarakat Peduli Api (MPA). Aksi ini merupakan bentuk dari keseriusan semua pihak dalam pencegahan karthutla di Kubu Raya dan Kalbar pada umumnya.

Sementara Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Pontianak, Taufikurahman menjelaskan, pelaksanaan patroli api di desa-desa rawan karhutla bukan kali pertama  dilakukan.

Namun, pelaksanaannya baru terprogram pada tahun ini.
"Kepedulian masyarakat secara bersama sudah muncul. Terbukti sampai saat ini hotspot jauh menurun dibandingkan tahun lalu. Ini sebagai dampak dari upaya yang telah kita lakukan bersama" ungkap Taufik.

Taufik menuturkan bahwa program terpadu berlangsung sepanjang tahun melalui berbagai tahapan yang tidak monoton pada satu kegiatan. Kebetulan Kubu Raya memiliki tujuh desa sebagai launching pertama dimulainya patroli terpadu.


"Pelaksanaan ini dilaksanakan serentak ke seluruh desa rawan kebakaran di Kabupaten Kubu Raya," terang Taufik.

Taufik menambahkan, dengan keterlibatan berbagai pihak, tentunya akan menjadi perhatian masyarakat. Sehingga memunculkan kepedulian untuk turut bersama-sama peduli api dan tidak lagi melakukan pembakaran lahan.

"Ini juga sebagai upaya merubah mindset masyarakat secara bertahap bahwa mereka bisa sama-sama menjaga. Dan bagi pelaku, ada rasa takut tatkala hendak membakar lahan. Makanya di sini kita libatkan TNI dan Polri," pungkas Taufik.

60 Desa

Adapun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pusat, Ferdian Krismanto mengungkapkan, patroli terpadu menjadi program nasional dengan menunjukkan hasil yang sangat baik.

"Pergerakan yang kita lakukan ini tidak main-main. Kebakaran hutan dan lahan ini memang harus kita perangi bersama. Kita juga ingin tunjukkan kepada masyarakat dan dunia bahwa kita sangat serius dalam penanggulangan serta pencegahan karhutla ini," tutur Ferdian.

Sesuai data, wilayah Kalbar memiliki 60 desa rawan kebakaran dan menjadi target pihaknya untuk mencegah karhutla melalui tim terpadu. Jika 60 desa itu sudah dapat terjangkau dalam program, karhutla akan bisa tertangani.

"Artinya jangkauan kita untuk target ada 60 desa yang harus kita jaga. Jika se-Indonesia berkisar 773 desa yang rawan kebakaran. Selama setahun penuh kita akan laksanakan program terpadu ini," ungkap Ferdian.

Untuk itu, isi dari pelaksanaan program terpadu ini menyasar masyarakat, mengutamakan pencegahan karhutla dengan merangkul dan merubah kebiasaan, seperti membakar lahan, serta ketidak pedulian terhadap api.

"Makanya kita akan kerja sama dengan semua instansi. Di bidang pertanian, misalnya, akan dilaksanakan cara pembukaan lahan tanpa membakar. Dan program dari dinas pertanian ini sudah ada, tinggal pelaksanaannya saja,” pungkas Ferdian.


Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus mengungkapkan, pemadam kebakaran swasta yang dikelola oleh yayasan-yayasan dan organisasi di KKR diharapakan dapat membantu pemerintah daerah menangani karutla. 

“Pemerintah daerah tentu akan sangat merasa terbantu. Hingga saat ini jumlah pemadam kebakaran terus bertambah, baik yang dikelola yayasan maupun yang dikelola oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau LSM dan organisasi lain yang bergerak di bidang pemadaman api,” kata Hermanus.


Hermanus juga memuji para relawan pemadam kebakaran yang telah rela merogoh uang dari kantong pribadi sendiri hingga mencapai ratusan juta rupiah untuk membeli, meremajakan dan memodernisasi armada pemadam yang mereka miliki.

 “Untuk itu saya berpesan kepada petugas pemadam kebakaran, lakukan tugas dengan baik. Bekerja bukan untuk mencari penghargaan, tetapi pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Hermanus. (jek/bah/sut)