Langganan SP 2

Polisi Antisipasi Masuknya Warga eks Gafatar ke Kabupaten Kubu Raya

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 497

Polisi Antisipasi Masuknya Warga  eks Gafatar ke Kabupaten Kubu Raya
Sejumlah ABK turun dari KRI Teluk Gilimanuk 531, satu dari tiga kapal perang TNI AL yang akan mengevakuasi warga eks Gafatar di dermaga Mako Lantamal XII Pontianak, Kalbar, akhir Januari 2016 lalu. (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
KUBU RAYA, SP – Kepolisian Sektor (Polsek) Sungai Raya memperketat pemantauan terhadap kedatangan warga asing ke Kabupaten Kubu Raya (KKR). Hal itu dilakukan sehubungan dengan pernyataan Kepala Kejaksaan Tinggi Kalbar, Watih Sadono yang memperkirakan ada 300 ribu eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) akan kembali ke Kalbar, beberapa waktu lalu.  

 "Kami hanya bisa memonitor dulu. Jika memang ada warga asing, melalui babinkamtibmas (Bintara pembinanaan dan keamanan ketertiban masyarakat) kami mengajak masyarakat agar mewaspadai serta berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengkrosceknya. Memastikan asal muasalnya serta tujuannya datang," ungkap Kapolsek Sungai Raya, Kompol Dwi Budi Murtiono, baru-baru ini.  

 Kapolsek menambahkan meskipun informasi kembalinya eks Gafatar cukup meresahkan warga, namun untuk wilayah KKR diperkirakan masih dapat teratasi. Ia memperkiraka tidak akan terjadi gejolak yang berlebihan dari warga KKR.   "Kita lihat saja waktu evakuasi eks Gafatar beberapa waktu lalu. Meskipun warga menolak eks Gafatar, tetapi evakuasi berjalan tertib dan aman. Bahkan mereka sempat menjual harta bendanya kepada warga setempat," ujarnya.  

Kapolsek juga berharap  adanya peduli bersama dari masyarakat dan semua aparat hingga pemerintah. Sebab, hal terpenting adalah suasana kamtibmas tetap terwujud di masyarakat.   "Karena sejak awal, pengalaman keberadaan Gafatar ini sudah ada. Koordinasi kita lakukan untuk proses pemulangan hingga keberadaan aset mereka yang kita upayakan tetap aman," tegasnya.  

Dituturkan, seluruh aset Gafatar sudah dikembalikan kepada mereka, tinggal bangunan berbentuk barak di atas lahan seluas 2 hektare.   "Kalau untuk aset yang bergerak seperti kendaraan sudah dijual mereka sendiri. Memang ada sembilan motor yang kita tampung di polsek. Lalu kita memfasilitasi untuk penjualan semuanya," tandasnya.  

Ia memastikan aset itu sejak awal sudah tidak ada. Sebab, pemulangan eks Gafatar di Kubu Raya merupakan imbas dari kejadian pemulangan warga eks Gafatar di Kabupaten Mempawah.   "Makanya mereka bisa siap-siap terlebih dahulu dengan menjual terlebih dahulu seluruh aset mereka yang bisa dijual cepat ke warga sekitar," terangnya.  

Sementara Kapolsek Rasau Jaya, AKP Haryono mengungkapkan hal senada. Untuk aset warga eks Gafatar yang bergerak sudah dikembalikan semua ke pemiliki melalui ekspedisi. Untuk wilayah Kecamatan Rasau Jaya, terdapat aset 14 unit kendaraan roda dua dan satu unit kendaraan roda empat.   "Semuanya sudah diambil, dikirim melalui ekspedisi kemarin. Yang ada untuk asetnya itu hanya lahan pertanian saja. Lahan yang tidak bergerak berupa lahan itu sekarang yang mengetahuinya pemda," kata Haryono.


Perketat Pengawasan

Bupati Kubu Raya, Rusman Ali meminta seluruh RT, desa dan kecamatan se-Kubu Raya memperketat pengawasan. Hal itu untuk mengantisipasi masuknya eks Gafatar maupun orang asing lainnya di Kubu Raya yang membawa dan mengajarkan aliran sesat.   "Jika ada pendatang baru yang bermalam lebih dari dua hari, maka harus lapor, apalagi yang dalam berbentuk kelompok. Dengan begitu kita dapat mengantisipasinya," katanya.  

Ia mengungkapkan, jika anggota eks Gafatar maupun pendatang lainnya yang masuk ke Kubu Raya sebagai Warga Negara Indonesia (WNI)  yang benar-benar ingin bercocok tanam, maka ia selaku kepala daerah tidak mempunyai hak untuk melarang, terlebih jika datang melalui prosedur yang benar.
  "Namun jika mereka datang membawa dan mengajarkan aliran yang tidak benar (ajaran sesat), maka jelas kami sangat melarang," pungkasnya. (jek/bah/sut)