75 Persen Siswa SD di Dusun Karya Baru, Kubu Raya Putus Sekolah

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 715

75 Persen Siswa SD di Dusun Karya Baru, Kubu Raya Putus Sekolah
Badarudin, satu-satunya guru di SDN 36 Pilial di Dusun Karya Baru/Sungai Manggis, Desa Muara Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, tengah merapikan buku pelajaran, Rabu (15/6). (Suara pemred/jaka iswara)
KUBU RAYA, SP – Sekitar 75 persen anak usia sekolah dasar di Dusun Karya Baru/ Sungai Manggis, Desa Muara Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya terpaksa harus putus sekolah. Sebab, sekolah di dusunnya, SD N 36 Pilial tak laik, baik dari segi bangunan maupun tenaga pengajar.

Berdasar pantauan Suara Pemred, Desa Muara Baru atau atau lebih dikenal dengan desa Buntut Limbung ini merupakan satu di antara desa yang berada di ujung wilayah Kecamatan Sungai Raya yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau. Desa Muara Baru ini  memilki tiga Dusun, yakni Dusun Terindak, Buntut Limbung dan Dusun Karya Baru.

"Dusun Karya Baru sendiri terdiri dari 1 RW dan dan 2 RT  dengan jumlah penduduk sebanyak 145 jiwa atau terdiri  dari 44 KK (kepala keluarga)," kata Kepala Dusun (Kadus)  Karya Baru, Desa Muara Baru, Pendi, Rabu (15/6).


Dari keseluruhan jumlah penduduk di Dusun Karya Baru ini, kata Pendi, ada 40 orang anak yang berusia sekolah dasar mulai dari usia 7 hingga 12 tahun. Dari 40 orang anak usia SD itu, hanya sekitar 25 persen saja bersekolah atau sebanyak 11 anak.
"Selebihnya berhenti, bahkan banyak yang tidak sekolah," ungkap Pendi.

Selain letak geografis yang jauh dari pusat kota, kondisi SDN 36 Pilial dan keadaan tenaga pendidik juga sangat memprihatinkan.

Bangunan sekolah berukuran 12 x 9 meter ini hanya memiliki dua ruang kelas, tanpa dinding pembatas, satu papan tulis, dan sejumlah kursi dan bangku siswa dalam keadaan rusak.
Bangunan sekolah ini sudah tampak usang dan rapuh, banyak terdapat lantai dan atap bangunan berlubang.

Selain itu sekolah ini juga tidak dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainnya seperti sarana dan prasarana olah raga, bahkan tidak terdapat toilet.

Di tempat yang sama, guru honorer SDN 36 Pilial, Badarudin (59) mengungkapkan, sejak berdirinya sekolah cabang dari SDN 35 Desa Pulau Limbung yakni pada tahun 2007 silam, ia menjadi guru honor. Tidak ada guru PNS maupun guru honorer lainnya selain dirinya.

Badarudin mengakui bahwa sebelum mengajar di sekolah ini, ia tahu bakal meninggalkan keluarganya. Ia juga tahu bakal menerima honor yang tidak sebanding dengan kerjanya, bahkan jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Namun, hal itu tetap saja ia lakukan dengan tujuan mengabdi dan berbakti kepada negara. “Karena masyarakat yang meminta, maka hati saya juga tergerak untuk mengajar di sini. Cukup memprihatinkan, sebab selain saya tidak ada yang bersedia mengajar di sini,” ungkap Badarudin.

Kepsek Malas

Diungkapkan, sejak berdirinya sekolah hingga saat ini, terhitung hanya dua kali kepala sekolah bersangkutan hadir ke sekolah. Dinas Pendidikan Kubu Raya juga tidak pernah meninjau keadaan maupun kondisi sekolah. Sehingga, baik ia selaku guru maupun masyarakat setempat, menilai Pemkab Kubu Raya tidak pernah memperhatikan pendidikan di desa ini. “Seingat saya hanya dua kali Pak Zulkifli (kepala sekolah) ke sini, itupun saat sekolah ini baru beroperasi,” kata Badarudin.

Sejak tahun ajaran 2007/2008 hingga tahun ajaran 2013/2014, Badarudin menerima honor yang bersumber dari Biaya Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp 150 ribu ditambah dengan bantuan dari pemerintah desa sebesar Rp 350 ribu per bulannya.

“Bantuan dari desa ini tidak menentu, kadang ada kadang juga tidak ada, tergantung dari ada tidaknya restribusi dari tambang pasir. Meskipun demikian, niat saya betul-betul ingin mengabdi,” kata Badarudin.

Pada tahun ajaran 2013/2104 itu, lanjut Badarudin, jumlah siswa semakin bertambah. Lantaran hanya seorang diri, ia pun membagi waktu mengajar yakni masuk pagi dan masuk siang. Honor yang ia peroleh dari dana BOS sempat mengalami kenaikan menjadi Rp 500 ribu.

Namun ia tidak lagi mendapatkan bantuan dari pemerintah desa karena restribusi dari tambang pasir sudah tidak ada. Badarudin dan masyarakat setempat sudah sering kali mengajukan agar dilakukan perbaikan bangunan sekolah dan penambahan tenaga pendidik, namun tidak pernah direspons oleh pihak terkait.

Pada tahun ajaran 2015/2016, ia mengajukan kenaikan honornya kepada kepala sekolah dari Rp 500 ribu menjadi Rp 1 juta, namun tidak disanggupi oleh kepala sekolah ”Karena kepala sekolah tidak menyanggupi, maka saya meminta agar siswa kelas 4 , 5 dan enam untuk pindah ke sekolah induk yang cukup jauh dari sini. Sehingga sekolah ini hanya bisa sampai kelas tiga saja saja,” beber Badarudin.

Seorang siswa, Andre (11) mengatakan, saat ia naik ke kelas 4, ia terpaksa pindah ke SDN 32 yang terletak di Dusun Tanjung Kasih Sayang, Desa Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya. Sebab, sekolah asalnya, SDN 36 Pilial tidak menerima siswa kelas 4. Dari desanya ke SDN 32, ditempuh dengan waktu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan sampan motor. “Saya menginap di rumah nenek yang ada di Desa Sungai Asam. Seminggu sekali baru saya bisa pulang dijemput bapak,” tutur Andre.

Berhak atas Pendidikan

Tokoh Pemuda Desa Muara Baru yang juga merupakan orang tua siswa, Hasanudin (31) mengungkapkan, masyarkaat Desa Muara Baru berhak mendapatkan pendidikan yang layak seperti halnya masyarakat di perkotaan.

   “Jika untuk mengenyam pendidikan saja kami sulit, sama saja kami di sini belum merdeka. Selama ini perhatian pemerintah maupun pihak terkait sangat minim sekali,” kata Hasanudin.

Menurut Hasanudin, selain memprihatinkan, kondisi SDN 36 Pilial sangat membahayakan. Pasalnya bangunan sekolah sudah tampak rapuh.

Dikhawatirkan sewaktu-waktu ambruk dan menimpa siswa maupun guru.  “Sudah sering anak-anak jatuh karena gertak menuju ke sekolah dan lantai-lantai kelas banyak yang berlubang. Bisa saja tiba-tiba sekolah ini ambruk,” pungkas Hasanudin. (jek/bah)