LPA Kalbar dan Orangtua Korban Minta Penjelasan Polisi

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 723

LPA Kalbar dan Orangtua Korban Minta Penjelasan Polisi
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalbar, Husnan, mendampingi orangtua korban penganiayaan, masing-masing (dari kanan) Nawir, Holil, Muhammad Hanafi, mendatangi Polsek Sungai Ambawang untuk mendapatkan penjelasan penanganan perkara, Sabtu (30/7). SUAR
KUBU RAYA, SP - Kekerasan terhadap anak kembali terjadi di Kabupaten Kubu Raya (KKR). Tiga anak, masing-masing Hr (12), Iy (8) dan Yk (8), yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Desa Pasak, Kecamatan Sungai Ambawang, KKR, mengalami penganiayaan dengan cara dipukul dan ditampar oleh Br,  warga setempat, yang tidak lain tetangga korban.

Penganiayaan itu terjadi pada Senin (20/6) atau 33 hari sebelum peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli. Kejadian bermula,  saat ketiganya bersama dua anak lainnya yaitu Fz (8) dan Sy (15) bermain di lahan kebun sawit PT NJP/ANS Desa Pasak.

Saat asyik bermain, ada Br yang tiba-tiba langsung memarahi korban. Tak cukup memarahi, Iy dan Yk dipukul menggunakan pelepah kelapa sawit hingga pelepah tersebut patah, dan Hr ditampar.

Sementara dua anak lainnya, Fz dan Sy tidak mengalami penganiayaan lantaran Fz merupakan anak dari pelaku, sedangkan Sy saat itu bersembunyi karena mengetahui Br akan menganiaya mereka.

"Kelima anak ini bersembunyi di semak-semak saat mengetahui Br datang mencari mereka. Br mengancam mereka, kalau tidak mau keluar akan dijewer. Hr ditempeleng, Iy dan Yk dipukul menggunakan pelepah kepala sawit. Anaknya (Fz) dibawa pulang, sedangkan Sy karena sudah SMP, dia tahu akan dipukul, jadinya dia bersembunyi," ujar orang tua Iy.

Muhammad Hanafi (51) kepada Suara Pemred saat ditemui di Polsek Sungai Ambawang, Sabtu (30/7) bersama kedua orang tua lainnya, Holil (ayah Yk) dan Nawir (paman Hr).


"Ndak tahu kesalahan apa yang dilakukan anak kami sehingga Br menganiaya mereka," ucapnya.

Hanafi menjelaskan, akibat penganiayaan tersebut anaknya mengalami luka memar. "Dipukul di bagian paha, memar. Lima hari anak saya merasakan perih kesakitan," ungkapnya. "Anak saya juga," timpal Nawir.

Tidak terima anak mereka dianiaya, Hanafi bersama orang tua lainnya mengadukan perbuatan Br ke kepolisian setempat. Namun sebelumnya, terjadi upaya mediasi antara kedua belah pihak.

Tapi mediasi itu gagal, lantaran pihak korban tidak ingin pelaku bebas begitu saja tanpa adanya proses hukum. "Saya dan orang tua lainnya tidak mau pelaku dibiarkan begitu saja, karena pelaku memang sering memukul orang. Dulu pernah memukul orang sampai pingsan," beber Hanafi.

Perlakuan Berbeda


Usai dilaporkan ke pihak yang berwajib sesuai laporan polisi LP/1897/VI/2016 dengan perkara penganiayaan terhadap anak, tertanggal 28 Juni 2016, akhirnya berdasarkan keterangan, alat bukti, dan keterangan pelaku, Br ditetapkan sebagai tersangka.

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, rupanya Br tidak ditahan dalam sel, melainkan hanya ditempatkan di Musala Baitul Musthafa, Polsek Sungai Ambawang. "Kami pernah lihat Br di musala lagi duduk santai. Harusnya kan disamakan dengan tersangka lainnya, ditahan dalam sel," ungkap Hanafi.

Tidak cuma itu, lanjut Hanafi, belum lama ini Br diketahui berkeliaran di sekitar lingkungan warga tempat ia tinggal. "Kata Yk, dia melihat sendiri Br ada lewat di depan rumahnya malam-malam (Kamis, 28/7). Lalu Yk mengunci pintu karena ketakutan, karena orang tuanya (Holil) sedang tidak di rumah," terang Hanafi dari cerita Yk, salah satu korban.

Merasa ada yang tidak beres,  lantaran Br bebas berkeliaran padahal pelaku  sudah ditetapkan  tersangka, ketiga orang tua korban yang didampingi oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalbar, mendatangi Polsek Sungai Ambawang untuk meminta penjelasan.

Saat ditemui di ruangannya, Kanit Reskrim Polsek Sungai Ambawang membantah adanya perlakuan berbeda terhadap Br. Menurutnya, walaupun ditempatkan di musala, tetap saja perlakuannya sama dengan tersangka yang berada dalam sel. "Sama saja, tetap dikekang di situ (musala)," kata Ipda Ihwan AD, mengklarifikasi kepada orang tua korban, Sabtu (30/7).

Sebelumnya, saat dihubungi Ketua LPA ihwal keberadaan Br yang masih berkeliaran di lingkungan warga, awalnya Kanit tidak percaya. Namun setelah dicek, benar saja Br tidak berada di Polsek. "Saya bukan bohong ya, karena saya memang tidak tahu, karena saya yakin ada di sini (Polsek). Pas datang ke sini, eh ke mana nih (Br)," terang Ihwan tidak mengetahui, karena sempat mengikuti pelatihan.

Terkait keberadaan Br di luar sel tahanan, Penyidik Polsek Sungai Ambawang, Kaldius menjelaskan, bahwa sudah ada perintah dari atasan setelah yang bersangkutan memohon izin pulang,  untuk menjenguk salah satu anaknya yang sedang sakit. "Kerena ada anaknya sakit. Saya sih apa perintah komandan (Kapolsek)," klarifikasinya kepada orang tua korban.

Ketua LPA Kalbar, Husnan mengatakan, pihak kepolisian dapat menahan orang yang sudah ditetapkan tersangka.  Namun, dengan ditempatkannya Br di musala dan diberikannya izin pulang, tentu ini sangat disayangkan.

"Mestinya Br diperlakukan sama dengan tersangka lainnya. Soal pulang, mestinya ini dilarang. Sebab, korban saat ini ketakutan dengan pelaku," katanya.

Sesuai keterangan para orang tua korban, jelas Husnan, korban mengalami trauma yang sudah  mengkhawatirkan. Pasalnya, setelah melihat pelaku, korban mengunci pintu. Dan anak-anak saat pergi dan pulang sekolah, mereka maunya diantar dan dijemput.

"Nah ini yang kita khawatirkan. Tersangka tidak ditahan dan bebas berkeliaran,  sementara korban semuanya ketakutan, bisa saja tersangka akan melakukan hal serupa. Ini sudah bisa jadi dasar tersangka harus ditahan," ucapnya.

Husnan berharap, Polsek Sungai Ambawang bersikap tegas atas kasus ini. Sebab, korban yang masih anak-anak, benar-benar mendapatkan perlindungan dan keadilan.

"Undang-undang Perlindungan Anak sudah menegaskan bahwa soal kekerasan terhadap anak ini perlu menjadi perhatian lebih dan tidak bisa disamakan dengan perkara pidana lainnya," tegasnya.
  (umr/bah/sut)