Bupati: Bakar Wangkang Aset Wisata di Kabupaten Kubu Raya

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 631

Bupati: Bakar Wangkang Aset Wisata di Kabupaten Kubu Raya
Ribuan warga Tionghoa melaksanakan ritual pembakaran Wangkang di area Pemakaman Tionghoa, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (18/8). SUARA PEMRED/Jaka Iswara
KUBU RAYA, SP – Pemkab  Kubu Raya (KKR) berencana menjadikan ritual Pembakaran Kapal Wangkang sebagai aset wisata.  Pasalnya, setahun sekali ribuan warga Tionghoa di Kalimantan Barat  melaksanakan ritual tersebut di area pemakaman Tionghoa di Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, KKR. 

Bersama masyarakat Tionghoa Kubu Raya dan Kota Pontianak, Bupati Kubu Raya, Rusman Ali bertekad akan mengemas ritual Pembakaran Kapal Wangkang yang menjadi tradisi masyarakat Tionghoa itu sebagai salah satu paket wisata di KKR. 

"Di masa mendatang ritual bakar Wangkang mesti dikemas dengan lebih baik lagi, sehingga menarik bagi wisatawan yang berimplikasi kepada keuntungan ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Kubu Raya," kata Rusman Ali saat menghadiri upacara pembakaran Kapal Wangkang di Yayasan Bhakti Suci Sungai Raya, Kamis (18/8) lalu.

Selama ini, kata Rusman Ali, ritual itu menyedot ribuan warga Tionghoa. Pasalnya, ritual Pembakaran Kapal Wangkang menjadi puncak dari kegiatan Sembahyang Rebut masyarakat Tionghoa. 

Antusiasme masyarakat yang cukup besar untuk menyukseskan kegiatan itu tentu menjadi modal utama untuk mengemasnya menjadi lebih baik. 

“Saya percaya ritual ini bisa jadi daya tarik bagi wisatawan karena di dalamnya sarat dengan makna ritual dan sangat unik," tutur Rusman Ali.

Rusman Ali menuturkan bahwa sembahyang rebut atau rampas atau biasa disebut Jie Lan Shin Fui dan pembakaran perahu atau tongkang atau Wangkang,  yang berawal dari peristiwa budaya yang sudah turun temurun dilaksanakan di Kalimantan Barat yang selalu dipusatkan di Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya. 
 
Rusman Ali meminta tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa Kubu Raya dan Pontianak yang tergabung dalam yayasan-yayasan yang ada,  agar dapat bekerjasama dengan pemerintah lewat instansi teknis, untuk mengemas kegiatan budaya tersebut menjadi salah satu wisata budaya di Kalimantan Barat.
 
“Jika dikemas dengan baik dan dikonsep dalam bentuk destinasi wisata budaya akan mendatangkan banyak wisatawan lokal maupun manca negara. Kemudian, akan membawa dampak bagi perekonomian masyarakat Kubu Raya, khususnya di Sungai Raya,” pungkas Rusman Ali.



Pengantar Arwah   

Budayawan Tionghoa Kalimantan Barat, Lie Sau Fat, mengatakan, kapal naga atau wangkang dimaknai sebagian besar masyarakat sebagai pengantar arwah ke dunia alam sesungguhnya.   Alasannya selama arwah itu bergentayangan dimana mana, kapal Wangkang ini juga memiliki arti Kapal yang hendak berlayar.

Kapal wangkang memiliki dua buah layar yang terbentang lebar serta bertuliskan bahasa Mandarin yang memiliki makna terpenting bagi kapal naga atau wangkang.


Layar pertama bertuliskan makna Berlayar Selamat Sampai Tujuan,  sedangkan untuk Layar yang kedua artinya Mencari Hasil Laut Dalam Keadaan Lancar dan Selamat Kembali Pulang.
 

Dikatakan Lie Sau Fat, tradisi bakar kapal naga atau wangkang berlangsung sejak lama. Dalam ritual pelaksanaan sembahyang kuburan atau disebut cung yuan dilaksanakan sebagian warga Tionghoa yang menganut ajaran Tridharma yaitu Budha, Khonghucu dan Taoiesme.  

Lie Sau Fat mengatakan, di hari penutupan atau terakhir dalam kegiatan sembahyang kuburan atau Cung Yuan diadakan nya upacara perebutan buah dan juga sayuran yang dinamakan Yi Lan Sen Hui. (
jek/aju/bah/sut)