Kepala BNPB: Media Punya Peran Strategis

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 776

Kepala BNPB: Media Punya Peran Strategis
Suasana pelatihan wartawan peduli bencana digelar BNPB di Gardenia Resort and Spa, dimulai Senin (23/8) dan berakhir Kamis (25/8). SUARA PEMRED/Jaka Iswara
KUBU RAYA, SP – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangile, mengatakan, wartawan melalui produk jurnalistiknya mampu mempengaruhi keputusan politik pemerintah.

Hal itu disampaikan Willem Rampangile pada pembukaan pelatihan Forum Wartawan BNPB, untuk peningkatan kapasitas wartawan dalam penanggulangan bencana di Gardenia  Resort and Spa, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (23/8) kemarin.

Hadir dalam pembukaan, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat, Titus Telus Ali Nyarong.

Ini, ujar Willem, fakta di semua kawasan, termasuk di Indonesia. Karena itu, peran media massa menjadi sangat strategis bagi BNPB untuk memberitakan berbagai hal konstruktif di seputar penanggulangan darurat bencana.

“Keilmuan media sangat diperlukan dalam hal penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana,” ujar Willem, dalam kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (25/8).

Menurutnya, banyak sekali kebijakan dan keputusan yang diambil pemerintah, baru bisa dieksekusi apabila mendapat tanggapan positif dari masyarakat, melalui pemberitaan di media massa cetak dan elektronik.

Bencana menimbulkan dampak yang sangat besar yakni sangat merugikan kehidupan sosial manusia, seperti kesehatan akan terganggu, pendidikan akan terhambat, dan lain sebagainya.

Bencana mengganggu perekonomian nasional, dan merusak lingkungan.
  "Pada tahun 2015 saja akibat kebakaran hutan dan lahan, Indonesia mengalami kerugian Rp 221 Triliun. Belum lagi kerugian berupa upaya penanggulangan dan pencegahannya," kata Willem.  

Willem menambahkan derap langkah penanganan bencana dilalui dengan berliku, dan penuh dinamika di tengah tren bencana yang terus meningkat. Permaslahan dan tantangan penanggulangan bencana kian kompleks dan terus berkembang dari masa kemasa dan selalu bergerak dinamis.  

"Perlahan dan pasti penanggulangan bencana di Indonesia telah menuju ke arah yang lebih baik," tutur Wilem.

  Dikatakan Willem, dalam beberapa tahun terakhir, BPNB sengaja menggelar pelatihan bagi wartawan di setiap provinsi di Indonesia, agar bisa menselaraskan pemberitaan di berbagai aspek di bidang penanggulangan bencana.

Willem mengatakan, sebaik dan sebagus apapun program pemerintah, termasuk di bidang penanggulangan bencana, tanpa bantuan media massa melakukan sosialisasi di lingkungan masyarakat, tidak bisa berjalan sesuai harapan.

BNPB, ujar Willem, memandang media massa memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi kepada masyarakat terkait penanggulangan bencana, baik pra, saat dan pascabencana.


Penyebaran informasi, lanjut Willem, dilakukan dengan akses yang sangat luas dalam bentuk media cetak dan elektronik. Media elektronik tercatat sangat pusat dalam perkembangan ragam media online, seperti terkait dengan teknologi dan internet.

Penggerak media massa adalah para wartawan yang notabene memiliki  beragama latar belakang pendidikan, pengalaman, dan sebagainya. Menjadi tantangan utama, ketika berita terkait bencana justru memunculkan kebingungan, salah pengertian, ataupun kepanikan.

Di pihak lain, etika jurnalisme juga menjadi komponen penting dalam reportase pada konteks penanggulangan bencana. Diungkapkan Willem, latar belakang ini mendorong BNPB untuk menyelenggarakan forum komunikasi wartawan dengan kegiatan yang melibatkan wartawan peduli bencana.

DIREKTUR Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Junjungan Tambungan, menilai, wartawan juga harus mengetahui potensi bencana yang terjadi.   Bukan hanya Kebakaran Hutan dal Lahan (Karhutla), namun bencana lainnya seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya, sehingga  dengan memahami potensi bencana, minimal dapat terhindar dari bencana sejak dini  

"Selain itu ketika terjadi bencana minimal kita bisa menyelamatkan diri sendiri dan orang lain di sekitar kita, sehingga tidak terjadi kematian," ujar Junjungan.
 

Junjungan menuturkan, kehadiran wartawan sangat dibutuhkan di dalam membentuk kesiap-siagaan masyarakat dalam menghadapi bencana upaya pemberdayaan masyarakat agar mampu berinisiatif untuk melakukan tindakan.  

Kesiap-sigaan masyrakat dapat dilkukan melalui pembekalan pengetahuan dan informasi menegenai bencana dan keterapilan untuk pengelolaan bencana.   “Dengan kesiapsigaan masyarakat, semua potensi dan sumber daya masyarakat dapat dimobilisasi oleh masyarakat itu sendiri untuk menghadapi bencana,” ungkap Junjungan.   (jek/aju/sut)