Tiga Perusahaan Sepakat Normalisasi Sungai

Kubu Raya

Editor Kiwi Dibaca : 586

Tiga Perusahaan Sepakat Normalisasi Sungai
Terendam banjir – Salah satu rumah warga terendam banjir yang diduga karena beroperasinya perusahaan sawit di sekitar wilyah Desa Pasak, Pasak Piang, dan Bengkarek.
KUBU RAYA, SP – Sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di sekitar Desa Pasak, Pasak Piang, dan Bengkarek berjanji akan melakukan normalisasi parit dan sungai diwilayah tersebut dalam waktu dekat.

Komitmen yang disampaikan pihak perusahaan untuk menjawab keluhan masyarakat sekitar desa setiap tahunnya mengalami banjir akibat beroperasinya perusahaan sawit hingga mengakibatkan tanaman pertanian warga mati.

"Akan kami lakukan normalisasi secepat mungkin di Desa Pasak sekitar 6 kilo meter," ujar Humas PT GAN, Abang Vanda Sunandar saat mediasi bersama warga dengan tiga perusahaan sawit yang difasilitasi oleh DPRD Kubu Raya, belum lama ini.

Kendati berjanji akan melakukan normalisasi parit dan sungai seperti yang dikehendaki warga, Abang menyangkal banjir yang terjadi di pemukiman warga disebabkan karena beroperasinya perusahaan sawit. Ia meyakini bahwa banjir terjadi karena pendangkalan dasar sungai.

"Banjir yang terjadi ini memang terjadi sejak sebelum adanya perkebunan kelapa sawit, terutama untuk Desa Teluk Bakung dan Bengkarek, kita lihat di situ hampir setiap tahun terjadi banjir karena pendangkalan Sungai Loncek," jelasnya. Melihat kondisi itu, kata dia maka pihak PT GAN sebelumnya sudah melakukan normalisasi, dan hasilnya pada Desember 2016 lalu banjir tidak terjadi. Normalisasi kemudian terus dilakukan ke beberapa sungai lain sehingga banjir semakin berkurang.

"Dengan kita melakukan kegiatan normalisasi sungai, banjir mulai berkurang. Makanya kita sangat setuju untuk melakukan normalisasi. Hanya saja untuk melakukannya masih terkendala cuaca," tuturnya.
Sementara itu, Humas PT NJP, Haryoto mengatakan banjir yang terjadi bukan semata-mata kesalahan pihak perusahaan. Menurut dia, berkurangnya area resapan air, banyaknya pendirian bangunan, prilaku masyarakat yang membuang sampah di sungai, serta curah hujan tinggi menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir.

"Jadi bukan semata-mata  perusahaan yang yang menjadi penyebab terjadi banjir, namun kami tetap  setuju jika memang solusinya harus dilakukan normalisasi, hal ini akan kami kordinasikan, karena saya tidak bisa mengambil kebijakan" katanya. Humas PT PWA, Anwar Anas menyebutkan bahwa pihaknya sudah melakukan upaya normalisasi, namun terkendala karena kondisi air yang sedang dalam kondisi pasang sehingga  normalisasi tidak tuntas dilakukan.

"Banjir di Desa Pasak Piang bukan baru-baru ini saja terjadi, ini sudah terjadi sejak dulu, bahkan sawah masyarakat tidak bisa ditanami sejak tahun tahun 1960. Jadi bukan sepenuhnya karena kehadiran perusahaan,” katanya meyakinkan


Anggota DPRD Kubu Raya, Usman menjelaskan pertemuan yang dilakukan hari itu sengaja difokuskan membahas persoalan banjir yang kerap melanda Desa Pasak, Pasak Piang, dan Bengkarek.

“Kita bahas masalah banjir dulu, kalau permasalahan seperti tanaman yang mati dan lainnya itu kita bicarakan dengan dinas-dinas terkait. Karena harus diteliti dan dikaji dahulu. Sebab, pohon apa saja kalau terendam banjir lama-lama kan memang bisa mati," kata Usman.

Menurut Usman, banjir yang terjadi hampir setiap tahun ini disinyalir akibat terjadinya penyempitan pada alur sungai. Sehingga seluruh parit-parit dari aktifitas perusahaan mengalir ke sungai, dan menjadikan sungai meluap dan terjadilah banjir.

"Pertemuan ini bertujuan mencari solusi. Masyarakat meminta adanya normalisasi sungai terhadap pihak perusahaan. Ada yang sudah mau melakukan, tapi kendalanya masih karena cuaca," ujar Usman.

Pihak DPRD lanjut dia akan melakukan pemantauan terhadap kesanggupan dari pihak  perusahaan untuk melakukan normalisasi.
"Kita akan pantau terus sampai perusahaan melakukan normalisasi," pungkasnya. (jek/jee)