Mamin Berbahaya Beredar di Kubu Raya

Kubu Raya

Editor Kiwi Dibaca : 439

Mamin Berbahaya Beredar di Kubu Raya
Periksa - Bupati Kubu Raya, Hermanus dan Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani saat memeriksa makanan yang dijual pedagang saat sidak yang dilakukan di sejumlah toko sembako di Pasar Rasau Jaya, Kecamatan Rasau Jaya dan Pasar Kuala Dua di Kecam
KUBU RAYA, SP – Sejumlah makanan dan minuman (mamin) tidak layak konsumsi ditemukan dijual pedagang di sejumlah toko sembako di Kubu Raya. Selain kemasan yang telah rusak, mamin tersebut ternyata juga telah kedaluarasa, bahkan parahnya lagi juga ditemukan makanan dan minuman yang mengadung zat kimia borak yang sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia yang dijual oleh pedagang.

Temuan peredaran mamin berbahaya tersebut terungkap ketika dilakukan inspeksi mendadak (sidak) oleh Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus,  Dinas kesehatan, Dinas koperasi usaha mikro Perdagangan dan Perindustrian Kubu Raya serta Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kalbar terhadap sejumlah toko sembako di Pasar Rasau Jaya, Kecamatan Rasau Jaya dan Pasar Kuala Dua di Kecamatan Sungai Raya, Selasa (20/9).


"Cukup banyak mamin berbahaya yang ditemukan. Setiap tahunnya selalu kami temukan seperti ini, bahkan di tempat yang sama," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani.
Sidak yang dilakukan kali ini, dikatakan Berli merupakan agenda yang sudah terjadwal setiap menjelang hari raya terutama hari Idul Fitri. Sasaran sidak tidak hanya di toko penjual melainkan juga menyasar hingga tingkat distributor.

Terhadap mamin yang tidak layak tersebut dilakukan penyitaan dengan maksud agar pedagang tidak lagi memajang dan menjualnya.
"Kita juga meminta pemilik toko untuk melakukan pemusnahan di tempat," tegas Berli. Selain itu, lanjut dia, atas temuan-temuan tersebut juga dibuat berita acara yang di dalamnya menyebutkan item-item barang yang dilakukan penyitaan untuk dilakukan uji laboratorium.

  
"Terhadap pemilik toko kita berikan teguran secara tertulis dan kita akan tugaskan petugas puskesmas untuk melakukan pembinaan kepada pedagang secara rutin," ujarnya   Sementara Kepala Seksi Pemeriksaan BPOM Kalbar, Berti Nendri Dunar mengatakan bahwa pihaknya sebanarnya sudah melakukan pengawasan rutin terhadap distribusi mamin di masyarakat, bahkan BPOM ada program intensifikasi pengawasan pangan.

“Di bulan ini sudah masuk pada tahap kelima dan dimungkinkan akan berakhir bulan Juli mendatang," ujarnya.
Dunar mengakui Kalbar merupakan wilayah paling sering ditemukan mamin kedaluarsa dan tidak memiliki izin edar. Barang-barang tersebut paling banyak berasal dari Negara Malaysia. "Untuk barang kedaluarsa yang kita temukan ini, karena keteledoran dari pemilik toko,” yakinnya. (jek/jee)