BBM Subsidi Nelayan Dijual Mahal

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 535

BBM Subsidi Nelayan Dijual Mahal
BBM SUBSIDI – Nelayan antri untuk membeli BBM jenis solar untuk keperluan melaut. Di Kubu Raya, para nelayan mengeluh BBM subsidi dijual dengan harga tinggi. Net

Harga Jual Per Liter Mencapai Rp9.000


Nelayan Padang Tikar, Adi
Tentunya harga ini sangat tidak sesuai dengan kemampuan dan penghasilan nelayan, kalau harga segitu namanya bukan BBM subsidi

KUBU RAYA, SP - Nelayan di Kecamatan Batu Ampar mengeluhkan pendistribusian dan harga jual bahan bakar minyak (BBM) subsidi nelayan jenis solar yang dikelola oleh dua koperasi di kecamatan tersebut.
   
Salah satu nelayan Desa Padang Tikar Satu, Kecamatan Baru Ampar, Aldi (35) menilai penyaluran BBM subsidi nelayan di delapan desa dikelola oleh dua koperasi, yakni Koperasi Berkah Usaha di Rasau Jaya, dan Koperasi Produsen Bina Usaha Pratama di Desa Padang Tikar Satu semrawut dan mempersulit nelayan. 

Dalam proses penyalurannya, Koperasi Produsen Bina Usaha Pratama bertugas mengakomodir penyaluran BBM subsidi dengan cara mengumpulkan kartu nelayan dari delapan desa di Kecamatan Batu Ampar.

Setelah kartu nelayan terkumpul, dan mendapat rekomendasi dari pemerintahan pemerintahan desa, Koperasi Produsen Bina Usaha Pratama kemudian mengajukan BBM subsidi nelayan ke Pertamina, atas rekomendasi dari Dinas Perikanan Kabupaten Kubu Raya.

“Dalam satu bulan jumlah BBM yang didapat mencapai 16 ribu-hingga 24 ribu liter solar yang diperuntukan bagi nelayan di delapan desa,” kata Aldi di Sungai Raya, Minggu (27/8).
 
BBM yang dikeluarkan Pertamina tersebut tidak langsung diantar ke Koperasi Produsen Bina Usaha Pratama, melainkan melalui Koperasi Berkah Usaha di Rasau Jaya. Koperasi ini membeli BBM subsidi nelayan kepada Pertamina seharga Rp5.400 per liter.

"Setelah itu baru BBM diantar ke Koperasi di Padang Tikar dengan harga jual Rp5.800 per liter," jelasnya.  

Di sinilah kemudian terjadi masalah. Setelah mendapat pasokan BBM subsidi dari Pertamina, dijelaskan salah seorang nelayan di Padang Tikar, Adi (40), Koperasi Produsen Bina Usaha Pratama yang bertugas mendistribusikan BBM subsidi ke nelayan ternyata menjual BBM subsidi seharga Rp7.000 hingga Rp7.500 per liter.

Bahkan ironisnya, ketika terjadi kelangkaan BBM di pasaran, harga BBM subsidi yang dimaksudkan untuk membantu nelayan ternyata harga jualnya juga ikut naik, yakni mencapai Rp8.500 hingga Rp9.000 per liter. 

"Tentunya harga ini sangat tidak sesuai dengan kemampuan dan penghasilan nelayan, kalau harga segitu namanya bukan BBM subsidi," sesalnya.

Parahnya lagi, lanjut Adi, BBM subsidi nelayan yang di distribusikan melalui koperasi ini tidak sesuai dengan nama saat pengajuan BBM melalui Koperasi Produsen Bina Usaha Pratama, distribusi BBM subsidi nelayan ini diindikasi hanya memanfaatkan kartu nelayan dan manipulasi data nelayan.

"Misalnya data yang diajukan si A, tapi yang mengambil BBM si B, jika nelayan mengetahui namanya diajukan, maka nelayan tersebut tidak bisa membeli dengan jumlah yang sedikit, sedangkan kemampuan nelayan terbatas," terangnya.  

Selain itu kata dia, juga ada indikasi sebagian BBM subsidi nelayan dijual ke beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di daerah itu. (jek/jee)