Jembatan Apung Desa Padi Dilirik Orang Malaysia (bagian 2)

Kubu Raya

Editor hendra anglink Dibaca : 385

Jembatan Apung Desa Padi Dilirik Orang Malaysia (bagian 2)
JEMBATAN APUNG - Acai (58) membuat jembatan apung dengan uangnya sendiri, untuk mempermudah akses yang menghubungkan empat desa di Kecanmatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya. (Jek/SP)
Jempatan apung yang dibuat Acai, dilirik teknologinya oleh orang Malaysia. Bahkan, orang itu sering datang dan memperhatikan konstruksi jembatan yang ada. Hal itu membuat Acai merasa risih, dan mengadukan hal ini kepada kepala desa setempat.

"Setelah saya lapor kepada kepala desa, lalu dibuatkanlah surat seperti hak paten untuk tingkat desa," ujarnya

Ia memaparkan, sejak lima tahun terbangunnya akses penyeberangan menggunakan jembatan apung dengan sistem buka tutup ini, ia belum mendapatkan bantuan dan dorongan apa pun dari pemerintah Kabupaten Kubu Raya, mulai dari pembuatan hingga perawatan. Padahal, ia menggunakan dana pribadinya.

"Saya berharap keberadaan jembatan ini tetap dipertahankan, karena memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat," katanya. 

Di tempat yang sama tokoh masyarakat Desa Padi Jaya, pengguna jembatan, Sudirman (34) mengaku keberadaan jembatan itu sangat membantu warga setempat, terutama sebagai akses penghubung antar desa.

"Kami sangat terbantu dengan adanya jembatan ini, terutama aksses bagi warga untuk mencari nafkah, atau mengangkut hasil pertanian. Jembatan ini akses satu-satunya untuk ke desa lain atau ke Kota Pontianak," ujarnya.

Ia memaparkan, sebelum terbangunnya jembatan, masyarakat kesulitan untuk menyeberang, karena motor air yang digunakan sudah terjadwal, sehingga jika warga yang ingin menyeberang namun telambat, harus menunggu lama untuk penyeberangan berikutnya.

Sementara itu, Camat Kuala Mandor B Yansen Sibarani menuturkan ada dua lokasi jembatan apung dengan sistem buka tutup ini. Yakni di Desa Sungai Enau dan Padi Jaya, desa pemekaran dari Desa Kubu Padi.

"Kita berharap kedepannya keberadaan jembatan ini dapat diadopsi oleh desa lain di Kubu Raya, karena wilayah perairan yang ada di Kubu Raya cukup luas," ujarnya. 

Ke depannya, ia berharap keberadaan jembatan ini dapat dikelola oleh Pemerintah Kabupatern, untuk dijadikan Badan Usaha milik Daerah Kubu Raya, atau Badan Usaha Milik Desa.

"Pada Musrenbang atau rapat-rapat kerja lainnya nanti akan kami sampaikan, agar teknologi ini dapat dikembangkan untuk wilayah-wilayah lainnya yang ada di Kubu Raya," ujarnya.

Anggota DPRD Kubu Raya, daerah pemilihan Kuala Mandor B, Rohmad mengatakan, pemerintah Kabupaten Kubu Raya juga harus memperhatikan, dan turut membangun wilayah terpencil. Untuk penyeberangan yang menghubungkan beberapa desa di Kecematan Kuala Mandor B ini, diperlukan jembatan yang bersifat permanen untuk menunjang dan dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

"Jembatan apung inikan sistemnya buka tutup, kami harap kedepannya dapat dibangun jembatan permanen,” ujarnya.

Kalaupun belum bisa membangun secara permanen karena keterbatasan anggaran, maka jembatan apung harus didesain yang dapat memberikan rasa aman bagi penggunanya, sehingga desa lain juga tidak ragu membuat jembatan yang sama.

Rencana pembangunan jembatan permanen ini di lokasi ini, sudah dibahas pada APBD Kubu Raya. Untuk itu, ia minta pemerintah daerah dapat menindaklanjutinya, dengan merealisasikan pembangunan jembatan permanen.

"Sejauh ini kita belum tahu, apakah jembatan apung ini aman atau tidak. Apalagi jembatan ini milik pribadi dan digunakan siang dan malam. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena konstruksinya yang membahayakan," pungkasnya. (jaka iswara/lis)