Difteri Berpotensi Meluas ke Seluruh Kalbar

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 450

Difteri Berpotensi Meluas ke Seluruh Kalbar
Grafis (Suara Pemred / Koko)
Oscar Permadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, 
“Tidak menutup kemungkinan jika ini bisa menyebar luas ke daerah Kalbar yang lain. Mengingat penyebaran bakteri penyakit ini memang sangat mudah, terutama melalui percikan ludah saat bersin atau batuk,”

Tiwi Ruhaeti, Warga di Pontianak
"Mungkin minimnya sosialisasi membuat kami yang orang awam meragukan vaksinasi campak Rubella. Apalagi, banyak orangtua siswa yang justru menolak dengan alasan ketakutan akan kandungannya,"

KUBU RAYA, SP – Penyakit difteri kembali mengancam wilayah Kalbar. Saat ini, difteri sudah mulai kembali mewabah di Kabupaten Kubu Raya. Empat tahun sebelumnya, 2013, Kabupaten Kubu Raya pernah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). 

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Virus ini tergolong berbahaya, bahkan juga mematikan. Difteri kembali mengancam, terutama bagi anak yang tak lengkap imunisasinya. 

Saat ini, penyakit difteri kembali ramai dibicarakan. Tahun 2017, Kubu Raya kembali menetapkan status KLB difteri. Pasalnya, sepanjang tahun ini, tercatat ada empat kasus difteri yang ditemukan. Satu diantara pengidapnya, telah meninggal dunia. 

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh, sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi, terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan menggigil. Sakit tenggorokan dan suara serak. Sulit bernapas atau napas yang cepat. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher. Lemas dan lelah. Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah. 

Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli tak menampik Kubu menetapkan status KLB. "Kalau difteri satu kasus saja, KLB," katanya kepada Suara Pemred, Minggu (10/12).

Dia menjelaskan, sampai saat ini di seluruh indonesa terdapat 94 kabupaten/kota yang juga telah menetapkan kasus difteri sebagai KLB. Satu diantaranya Kabupaten Kubu Raya.

"Penderita yang terserang difteri karena tidak lengkapnya imunisasi yang diberikan. Terutama kepada anak usia di bawah dua tahun," jelasnya. 

Menyikapi satus KLB difteri di Kubu Raya, Berli mengatakan, Pemkab telah menetapkan langkah selanjutnya. Yaitu, pemerintah akan mengendalikan secara komprehensif, melalui pemberian Outbreak Response Immunization (ORI). 

Sasarannya adalah anak usia 0-19 tahun yang harus dilengkapi imunisasi difterinya. Kendati Kubu Raya tak masuk dalam program ORI, Pemkab Kubu Raya tetap mengambil sikap secara cepat, sebagai respon terhadap status KLB difteri ini.

"Kebijakan dan strategi yang kami lakukan adalah, dengan melakukan akselerasi immunisasi, seperti yang dicanangkan Bupati pada 23 November 2017 lalu," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kubu Raya, Mahyudin menjelaskan, saat KLB tahun 2013, kasus difteri relatif tinggi ditemukan di Kecamatan Sungai Raya. 

“Penderitanya saat itu kebanyakan anak usia TK,” ujarnya. 

Dia menjelaskan, pencegahan virus difteria hanya bisa dilakukan melalui pemberian vaksin imunisasi secara lengkap terhadap anak. Oleh karenanya, dalam upaya mencegah penyebaran difteri, pemberian imunisasi terus ditingkatkan. Di Kubu Raya, booster imunisasi sampai saat ini masih relatif rendah. 

"Ini yang harus ditingkatkan oleh petugas-petugas Puskesmas yang ada," jelasnya.

Soal imunusasi, khusus di Kubu Raya, sampai saat ini memang belum semua masyarakat, paham tentang pentingnya vaksinasi tersebut. Bahkan, masih ada yang menganggap imunisasi itu hanya akan membuat anak sakit.

Bisa Menyebar


Terkait difteri, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Oscar Permadi menyebutkan, sepanjang medio Januari-November 2017, tiga kasus difteri ditemukan di Kabupaten Kubu Raya.
 
“Tidak menutup kemungkinan jika ini bisa menyebar luas ke daerah Kalbar yang lain. Mengingat penyebaran bakteri penyakit ini memang sangat mudah, terutama melalui percikan ludah saat bersin atau batuk,” kata Oscar, Minggu (10/12).

Apalagi dengan sisi mobilitas masyarakat yang tinggi. Keluar masuk orang cukup banyak di Kalbar, sehingga bakteri penyakit ini mudah sekali menyebar. Maka itu, guna mencegah penyakit ini, Oscar minta masyarakat di Kalbar, harus berperilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, tak kalah pentingnya adalah, membawa anak-anak untuk imunisasi.

“Imunisasi jangan malas. Karena memang potensial untuk mencegah penyakit ini. Imunisasi tersebut dengan DPT,” katanya.

Kesadaran berimunisasi perlu dimiliki warga Kalbar. Meskipun Kalbar tidak termasuk dalam daerah yang akan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI), yang akan dilaksanakan hari ini, Senin (11/12). ORI dilaksanakan di 12 kabupaten/kota di empat provinsi.  

Imunisasi bukan saja diberlakukan kepada anak-anak saja. Dewasa pun dapat melakukannya, guna menangkal penyebaran bakteri difteri ke tubuh.

Oscar menegaskan, status KLB, hal tersebut sebagai peringatan awal atas penyakit difteri. “Early warning, sehingga bisa waspada terhadap penyakit ini, bukan mewabah,” ujarnya.  


Harus Didata


Sementara itu, Anggota DPRD Kapuas Hulu Fabianus Kasim mengatakan, Pemda melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu, harus melakukan pendataan terkait penyakit difteri. Jika saat ini sudah tersebar di wilayah Bumi Uncak Kapuas, harus sesegera mungkin ditangani.

"Jika sudah ada korbannya harus segera didata, mulai dari jumlah korban, alamat dan usianya," katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga harus segera melakukan tindakan-tindakan seperti pengobatan, pencegahan penularan. Atau bila diperlukan korban perlu dilakukan pengisolasian, agar tidak menjangkiti masyarakat lainnya.

"Jika sudah ada yang terkena virus itu, medis wajib memberikan pengobatan sampai pasien tersebut sembuh," tegasnya.

Diterangkannya, bila yang menjadi korban virus tersebut merupakan anak-anak yang masih usia sekolah, hendaknya harus ada perlakukan khusus dalam penanganannya, agar anak tersebut tidak terganggu psikologinya.

"Kalau bisa anak itu jangan disuruh masuk sekolah dulu, namun harus diberikan pendampingan khusus, baik dari medis maupun sekolah sampai anak itu benar-benar sembuh," jelasnya.

Sementara itu, untuk mengetahui terkait perkembangan kasus difteri di Bumi Uncak Kapuas, Suara Pemred sudah mengirimkan pesan via Whatshapp kepada Kadis Dinas Kesehatan, Harisson, namun yang bersangkutan hanya membaca, dan tidak membalas pesan yang dikirimkan. 

Di Sekadau, Abun Tono, Anggota DPRD Sekadau mengatakan, terkait penyakit difteri dia mengharapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau, harus investigasi kondisi di Sekadau, apakah sudah ada penyakit tersebut di tujuh kecamatan di Sekadau.

“Hal itu adalah upaya pemerintah agar masyarakat Sekadau, terdeteksi bila kena penyakit tersebut," ujarnya.

Pemerintah sebelum menyiapkan vaksinisasi kepada anak-anak, harus mengecek bahan-bahan yang membuat vaksin tersebut. Artinya, pemerintah harus jeli dengan produk-produk obat tersebut, apa saja bahannya. 

“Hal itu dilakukan supaya imunisasi atau vaksin bisa memberikan manfaat kepada masyarakat, anak-anak menjadi sehat dan daya tahan tubuh meningkat bukan justru sebaliknya,” ujarnya. (abd/akh/and/bob/eko/sap/rah/lis)

Warga Minim Sosialisasi


Seorang ibu rumah tangga, Erni Wati (28), ditemui Suara Pemred di rumahnya di Gang Keramat, Desa Kuala Dua, Kubu Raya, mengaku tak pernah memberikan imunisasi kepada anaknya.

Bahkan, anak bungsunya yang kini baru berusia 17 bulan, juga tak diimunisasi. Dia beralasan, tak tega melihat anak sekecil itu harus disuntik dan dimasukkan bahan kimia ke tubuhnya.

"Tak tega. Karena masih kecil sudah harus di suntik," katanya kepada Suara Pemred, Minggu (10/12). 

Akibat tak diimunisasi, baru-baru ini, anak Erni terserang virus campak, dan sempat dirawat di Rumah Sakit Angkatan Udara Supadio Pontianak. "Tapi sekarang sudah sehat," ungkapnya. 

Saat dokter bertanya, kenapa anaknya tak diimunisasi, dia pun mengatakan tak tega. Dia pun tak begitu cemas, meski anaknya tersebut tak mendapatkan imunisasi. "Saya punya anak dua. Dua-duanya tak ade yang diimunisasi," ujarnya. 

Warga lainnya, Erna (35), tidak memberikan vaksinasi difteri terhadap anaknya. Padahal, dia tahu mengenai vaksin difteri. Namun, ketiga anaknya tidak ada yang diberi vaksin. Anaknya berusia 11 tahun, 6 tahun dan 10 bulan. 

Dia mengatakan, sering membaca di internet mengenai manfaat dan mudarat dari vaksin. Erna menyampaikan, berdasarkan pengetahuannya, kebanyakan vaksin yang diberikan kepada anak-anak, berasal dari bahan-bahan yang tidak halal.

“Kalau kebanyakan vaksin-vaksin yang diberikan anak-anak itu kan, kebanyakan dari bahan-bahan seperti dari kera, b**i, itukan saya browsing-browsing dari internet. Setahu saya,” katanya.

Erna menyampaikan, lebih baik jika anak-anaknya tidak diberikan vaksin dikarenakan hal tersebut. 

Mengenai ada atau tidaknya kekhawatiran terjangkit virus atau penyakit jika anak-anaknya tidak diberikan vaksin, dia menuturkan bahwa ada sedikit ketakutan. Namun, dia pasrah dan berdoa saja.

“Kayak sih ada dikit. Tapi berdoa jak lah. InsyaAllah saya berdoa saja,” ujarnya.

Ibu tiga orang anak ini menceritakan, saat ini anak-anaknya semua sehat saja. Dia menyampaikan, cukup mengerti apa manfaat pemberian vaksin. Namun, dirinya lebih memilih tidak memberi vaksin, karena alasan keagamaan. 

Meski mengetahui bahwa, penyakit difteri sedang mewabah di beberapa daerah di Indonesia, serta mengetahui dampak dari virus tersebut, dirinya tetap kekeh tidak memberikan vaksin kepada anak-anaknya.

“Yang penting kita perilaku hidup sehat. Kalau di luar kita tinggal doakan jak lah. Di rumah kita usahakan perilaku hidup sehat,” ujarnya. 

Tak hanya di Kubu Raya, suara penolakan pemberian vaksin dan imunisasi secara serentak beberapa waktu lalu, muncul dari sejumlah orangtua siswa di Kota Pontianak. Satu di antaranya, salah orangtua murid di SDN 04 Pontianak, Wanti. 

Ia meragukan kandungan vaksin campak Rubella, akibat minimnya sosialisasi. "Saya memang menolak vaksinasi campak Rubella yang akan diberikan kepada anak saya," katanya.

Ia menduga kandungan vaksin campak tidak halal, dan mengandung unsur yang justru membahayakan kesehatan anaknya.

“Saya tolak dengan jelas dan nyata, karena vaksinasi itu belum bisa membuktikan fungsi dan tujuanya. Bahkan banyak kemudharatannya di dalam ramuan vaksin Rubella," ungkapnya.

Meski banyak orang yang menggunakan, ibu dua anak ini bersikukuh menolak pemberian vaksin terhadap anaknya.

"Pihak sekolah sempat memaksa, tapi tetap saya tolak,” tegas Wanti.

Sebagian orangtua, ia mengaku sudah mendengar terkait vaksinasi campak Rubella. Namun, sebagian orangtua khawatir kandungan vaksin dari bahan yang dilarang agama Islam.

Orangtua siswa lainnya, Tiwi Ruhaeti menyatakan, ia sudah mendengar tentang vaksin Rubella. Tujuannya untuk kesehatan anak. Tapi ia khawatir kandungan vaksin itu tidak benar.

“Mungkin minimnya sosialisasi membuat kami yang orang awam meragukan vaksinasi campak Rubella. Apalagi, banyak orangtua siswa yang justru menolak dengan alasan ketakutan akan kandungannya," ujarnya.

Ia berharap, pemerintah terlebih dahulu diminta melakukan sosialisasi secara menyeluruh, agar informasi yang diterima masyarakat tidak simpang siur. "Apalagi banyak orangtua siswa menyebutkan jika vaksin campak Rubella mengandung bahan dari babi," katanya.

Di samping itu, ia juga mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan sang anak yang tak mendapatkan vaksin dan imunisasi. Terlebih, saat ini muncul isu penyebaran virus difteri yang menyerang anak-anak usia sekolah.

"Tapi saya yakin, anak saya tidak akan terserang difteri, selagi kita hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan hidup di  lingkungan bersih," tuturnya. 

Warga Putussibau, Yuli mengaku sengaja tidak memberikan vaksin atau imunisasi terhadap bayinya, dikarenakan, vaksin tersebut menurut informasi yang diterimanya, mengandung enzim babi. 

"Dalam keyakinan saya babi itu haram, tidak mungkin saya memberikan barang yang haram kepada buah hati saya," tegasnya. 

Dijelaskannya, makanan yang dimasukkan dalam tubuh bayi akan mempengaruhi sifat, prilaku dan cara berfikir bayi kedepannya. Oleh karena itu, ia akan berusaha sekuat mungkin, memberikan makanan yang halal terhadap buah hatinya. (abd/umr/sap/lis)