Kabut Asap ‘Serang’ Supadio

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 169

Kabut Asap ‘Serang’ Supadio
KABUT ASAP - Sebuah pesawat terbang yang akan mendarat di Bandara Internasional Supadio Pontianak tampak menembus kabut asap tebal yang melanda Kalbar pada tahun lalu. Sementara kabut asap saat ini sempat menunda penerbangan, terutama di pagi hari. (Dok S

Penerbangan Pagi Rata-rata Ditunda


GM PT Angkasa Pura II, Jon Muktarita
"Sejak dua minggu ini kabut asap memang sedikit mengganggu kita. Biasa terjadi di pagi hari. Rata-rata di pagi hari itu sekitar pukul 06.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB. Agak terganggu kami. Sehinga ada beberapa flat kami delay,"

KUBU RAYA, SP - General Manager (GM) PT Angkasa Pura II Supadio Kubu Raya, Jon Muktarita mengaku, selama dua pekan terakhir, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio terutama di waktu pagi mengalami penundaan atau delay.

Hal itu lantaran kondisi jarak pandang terbatas akibat asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di wilayah Kubu Raya. 

"Sejak dua minggu ini kabut asap memang sedikit mengganggu kita. Biasa terjadi di pagi hari. Rata-rata di pagi hari itu sekitar pukul 06.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB. Agak terganggu kami. Sehinga ada beberapa flat kami delay," kata Jon Mukarita, Selasa (20/2).

Kondisi itu pun segera diantisipasi oleh tim dari Airland, sehingga tidak terlalu berdampak besar pada pjadwal penerbangan. Dia menegaskan, kondisi cuaca hingga saat ini masih relatif aman untuk aktivitas penerbangan. 

"Kalau gagal landing belum pernah. Tapi penundaan (take off), iya. Penundaan itu terkait dengan unsur safety nya, ya dari teman-teman Airland. Mereka menjustifikasi, jarak pandang harus save dulu,” tuturnya.

“Kita punya alat yang namanya instrumen landing system (ILS). Kalau jarak pandang masih dalam kisaran 800 meter, kita masih bisa take off dan landing," timpal dia.

Namun hingga saat ini jarak pandang masih dalam kategori aman untuk aktivitas penerbangan. "Paling di pagi hari saja antara pukul 06.00 WIB hingga 07.00 WIB. Kalau sudah siang jarak pandang sudah normal kembali," ucapnya. 

Dia menjelaskan, penundaan penerbangan di pagi hari sejak dua pekan terakhir karena asap. Namun tidak terlalu lama. Paling lama satu jam. "Paling delay nya sekitar tiga flat. Itu karena jarak pandang," ungkapnya.

Terlepas dari itu, Jon mengapresiasi langkah pemerintah melalui instansi terkait yang telah bekerja keras berusaha memadamkan sumber kebakaran. Sehingga kabut asap tidak terlalu parah.

"BPBD, Polri dan TNI saya apresiasi bekerja keras untuk menghentikan kebakaran hutan dan lahan ini. Semuanya bergerak cepat. Kami lihat itu, sangat baik," pungkasnya. 

Kepala Puskesmas Rasau Jaya, Kubu Raya, Wulyono menyebut, sejak seminggu terakhir, penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat drastis. Bahkan mencapai 60 persen dari hari-hari biasanya.

Peningkata penderita ISPA tersebut ditengarai akibat kabut asap yang mulai pekat. Karena itu pihak Puskesmas telah membuat kebijakan untuk mencegah penderita ISPA agar tak meluas di masyarakat Rasau Jaya. 

“Jadi untuk antispasi ISPA kita sudah membuat kebijakan bekerjsa sama dengan Manggala Agni Kalbar untuk membagikan 5000 masker ke masyarakat,” kata Mulyono, Senin (19/2).

Selain itu, dia pun mengimbau kepada seluruh masyarakat Rasau Jaya agar menjaga kesehatan, dan banyak mengkonsumsi air putih di musim kabut ini. Kemudian masyarakat yang berpergian keluar rumah agar selalu memakai masker anti septik.

Menurut Mulyono, sejak sepekan terakhir di Pusekesmas Rasau Jaya perhari rata-rata menerima sebanyak 20 hingga 25 orang pasien yang terserang ISPA. 

“Sebelum kabut asap ini, paling banyak penderita ISPA yang kita tangani 12 pasien. Tapi sekarang ini 25 orang, memang mengalami peningkatan yang sangat signifikan, mencapai 60 persen,” katanya.

Sekolah Terancam Diliburkan


Di lingkungan sekolah, kabut asap juga berpotensi menggangu aktifitas belajar mengajar. Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kubu Raya Firdaus pun mengatakan, pihaknya masih melihat perkembangan cuaca. 

Jika kondisi kepekatan asap terus meningkat di pagi hari, tentu tidak menutup kemungkinan sekolah akan diminta untuk membuat kebijakan untuk meliburkan sementara aktivitas belajar mengajar. 

"Sejauh ini kita masih memberikan imbauan, kepada sekolah agar anak-anak tidak bermain di luar. Untuk kebijkan meliburkan sekolah belum ada. Karena kondisi cuaca masih relatif aman,” ucapnya.

“Tapi kita akan melihat peekembangannya ke depan. Kalau memang kondisi asap semakin parah dan membahayakan, maka kita akan membuat kebijakan khusus," tegasnya. 

Untuk mencegah potensi ISPA terhadap siswa, Firdaus mengatakan pihaknya akan bekerjsama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan pembagian masker di sekolah. (abd/ang)