Pembangunan Tugu Mangrove Dikritik, Penentuan Ikon Harus Melalui Pengkajian

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 365

Pembangunan Tugu Mangrove Dikritik, Penentuan Ikon Harus Melalui Pengkajian
WISATA MANGROVE – Sejumlah warga menjelajahi alam melalui ekowisata hutan mangrove Tapak Tugurejo, Kota Semarang, baru-baru ini. Kubu Raya sendiri memiliki kawasan hutan mangrove yang cukup luas. (Net)
Ketua LPPD Kubu Raya, Dede Junaidi
"Kubu Raya yang sampai hari ini belum memiliki ikon, jangan sampai tergiring untuk kemudian buru-buru membuat simbol yang tak berpengaruh pada perkembangan geliat ekonomi,"

KUBU RAYA, SP - Rencana Pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang akan membangun Tugu Mangrove dan Benteng sebagai ikon daerah di bundarang Jalan Arteri Supadio, Sungai Raya, mendapat sejumlah kritikan.

Yang paling menonjol datang dari Ketua Lembaga Pemantau Pembangunan Daerah (LPPD) Kubu Raya, Dede Junaidi. Dia tak sependapat tentang ide pembangunan Tugu Mangrove dan Benteng tersebut jika dijadikan ikon Kubu Raya.

Selain itu dalam menentukan ikon sebuah daerah, mestinya harus dilakukan kajian-kajian yang komprehensif, yang kemudian ditetapkan melalui sebuah peraturan daerah atau Perda.  

"Iya memang harus dibuatkan peraturan daerahnya," kata Dede saat ditemui, Kamis (22/3). 

Selain itu, menurut dia, ikon sebuah daerah mesti mempunyai sisi yang bisa menimbulkan daya tarik untuk membangun geliat perekonomian masyarakat. Bukan hanya sekadar lambang yang hanya sebatas memuat suatu identitas karakter daerah saja. 

"Kubu Raya yang sampai hari ini belum memiliki ikon, jangan sampai tergiring untuk kemudian buru-buru membuat simbol yang tak berpengaruh pada perkembangan geliat ekonomi," katanya. 

Dia pun berpendapat, Kubu Raya yang memiliki sungai dan laut dengan bentangan mangrove yang menghijau, sangat potensi untuk mendukung aktifitas keramba bagi masyarakat.  

"Karena itu saya kira, ikon Kubu Raya sangat tepat yaitu 'Kabupaten Sejuta Keramba'. Ini menurut saya yang menarik. Karena sekaligus bisa menjadi perangsang pengembangan keramba di Kubu Raya. Selain itu, sejuta keramba juga sejalan dengan program Kementerian Perikanan," katanya. 

"Jadi, kalau kita bicara ikon, tentu harus memberikan multi efek bagi pengembangan daerah," tutupnya. 

Sebelumnya, Bupati Kubu Raya Rusman Ali mengatakan, setiap daerah biasanya punya ikon tersendiri. Misalnya Pontianak dengan Tugu Digulis, Taman Alun-alun Kapuas dan Tugu Khatulistiwa nya yang sangat dikenal. Kini Kubu Raya yang masih terbilang sebagai kabupaten baru juga berencana membangun sebuah tugu sebagai ikon daerah.

Tugu yang akan dibangun sebagai ikon Kubu Raya yakni berbentuk replika mangrove dan benteng. Menurutnya, pemilihan tugu replika mangrove ini sangat tepat. Pasalnya, secara geografis, Kubu Raya di kelilingi oleh sungai dan laut. Di sepanjang sungai dan pesisir laut yang dimiliki, turut terhampar tumbuhan mangrove yang menghijau. 

Kekayaan alam ini pun diyakini akan menjadi potensi ekowisata di Kubu Raya berskala internasional. Sebab itu, potensi ekowisata mangrove tersebut pantas dijadikan ikon Kubu Raya.

Sedangkan benteng merupakan lambang pertahanan sebuah daerah yang kokoh dan kuat. "Rencananya tugu replika manggrove dan benteng ini akan kita bangun di bundaran Jalan Arteri Supadio," paparnya. 

Dalam waktu dekat, desain Tugu Mangrove dan Benteng ini pun akan disayembarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan terbuka untuk umum. 

Bagi para desainer pun diundang untuk berkreasi mengikuti sayembara dalam merancang Tugu Mangrove dan Benteng tersebut. 

Hasil karya terbaik, tentu akan dipilih untuk dijadikan konsep dalam pembangunan Tugu Mangrove dan Benteng, sebagai ikon Kabupaten Kubu Raya yang kini telah berusia hampir lima belas tahun.

Ditemukan Spesies Langka


LSM Sahabat Masyarakat Pantai (Sampan) Kalimantan, mengklaim menemukan jenis mangrove langka, yakni spesies Tumuk Putih atau Bruguiera Hainesii di kawasan hutan mangrove betang pesisir Padang Tikar dan Dabung, Kabupaten Kubu Raya.

"Penemuan mangrove jenis Tumuk Putih itu merupakan penemuan pertama di kawasan hutan mangrove di seluruh wilayah Indonesia," kata Deputi Direktur LSM Sampan Kalimantan, Denni Nurdwiansyah di Pontianak, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, penemuan itu merupakan yang pertama kali di Indonesia. Tadinya, mangrove jenis ini hanya terdapat di tiga negara, yakni di Malaysia, Singapura dan Papua Nugini.

Ia menambahkan, bila merujuk pada www.iucnredlist.org, Tumuk Putih ini masuk dalam kategori terancam punah atau Critically Endangered (CN). Adapun jumlah populasi di tiga negara yang terdapat tanaman mangrove langka tersebut, tidak lebih hanya ada 203 pohon di dunia.

"Bruguiera Hainesii ini terdapat sebanyak 120 pohon di Papua Nugini, 80 pohon ada di Malaysia dan tiga pohon ada di Singapura," ungkapnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama Mangrove Specialist dari Sampan Kalimantan, Bekti Saputro menambahkan, penemuan spesies ini menjadi indikator bahwa ekosistem mangrove bentang pesisir Padang Tikar itu, masih dan tumbuh berkembang dengan baik. 

"Ini dapat kami buktikan dengan keberadaan tutupan hutan mangrove di zona-zona pantai bentang pesisir Padang Tikar dan kondisinya masih terjaga dengan baik," katanya.

Ia menambahkan, dengan ditemukannya tanaman Tumuk Putih, ada tiga spesies mangrove yang masuk dalam kategori mengkhawatirkan.

"Ketiganya yaitu Gedabu (Sonneratia ovata) dengan status Near Threatened (NT), Dungun (Heritieria globosa) yang masuk dalam status Endengered (EN) dan terumtum (Aegiceras floridum) dengan status Near Threatened (NT)," ungkapnya. (abd/ang)