Kubu Raya Masih Rawan Stunting, Ibu Hamil Diminta Rutin Periksa ke Bidan

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 597

Kubu Raya Masih Rawan Stunting, Ibu Hamil Diminta Rutin Periksa ke Bidan
PERIKSA – Seorang ibu gamil memeriksakan kesehatan kehamilannya kepada seorang tenaga bidan. Kasus Stunting di Kubu Raya terbilang tinggi. Berdasarkan pantauan status gizi yang dilakukan Dinas Kesehatan Kubu Raya, tahun 2016. (Net)
Rusman Ali, Bupati Kubu Raya
"Beberapa hari lalu kami pun telah dipanggil ke Jakarta, untuk membahas kasus Stunting di Kubu Raya. Karena kasus Stunting ini adalah isu nasional. Dan semua daerah diminta untuk bertindak cepat untuk menekan ini,”

KUBU RAYA, SP - Hingga saat ini, isu Stunting terus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya, berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia negara kelima dengan penderita terbanyak.

Kasus Stunting di Kubu Raya terbilang tinggi. Berdasarkan pantauan status gizi yang dilakukan Dinas Kesehatan Kubu Raya, tahun 2016 kasus Stunting mencapai 24,1 persen dari seluruh balita yang ada.

Bupati Kubu Raya, Rusman Ali kembali meminta masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menekan Stunting dengan cara rutin konsultasi dengan pihak kesehatan terkait perkembangan gizi anak.

Dia pun memastikan, Pemerintah Kubu Raya telah memberikan pelayanan yang prima untuk meningkatkan gizi anak di Kubu Raya, melalui berbagai program kesehatan. 

Menurutnya, kasus Stunting bukan hanya rentan menimpa anak dengan latar belakang keluarga dengan status perekonomian rendah, tetapi kasus Stunting juga bisa menimpa semua anak dari berbagai status sosial. 

Karena persoalan Stunting tersebut terjadi akibat kurang aktifnya orangtua mengontrol gizi anaknya. Sebab itu mayarakat harus membiasakan diri hidup sehat dan memberikan asupan makanan yang bergizi kepada anak-anaknya. 

“Kalau pola makannya dijaga, saya yakin, anak akan tumbuh sehat dan terhindar dari Stunting," jelasnya.

Rusman menegaskan, hingga saat ini, persoalan Stunting di Kubu Raya masih menjadi perhatian serius untuk diminimalisir sekaligus dicegah.  

"Beberapa hari lalu kami pun telah dipanggil ke Jakarta, untuk membahas kasus Stunting di Kubu Raya. Karena kasus Stunting ini adalah isu nasional. Dan semua daerah diminta untuk bertindak cepat untuk menekan ini,” ucapanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani pun mengakui, potensi kasus Stunting di Kabupaten Kubu Raya sampai saat ini masih relatif tinggi. 

Karena itu, jajaran petugas kesehatan hingga tingkat bawah terus bekerja untuk menekan angka Stunting di Kubu Raya. 

Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan jajaran Dinas Kesehatan dalam menekan Stunting yakni dengan gencar melakukan sosialisasi pemberian asupan gizi bagi bayi. 

"Pemberian asupan gizi ini wajib di lakukan sejak bayi masih dalam kandungan ibunya. fokus program gizi adalah pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) bayi, yang dihitung sejak usia kehamilan ibu 22 minggu sampai usia anaknya mencapai usia dua tahun.  Di masa-masa inilah program gizi harus diperhatikan,” terangnya

Berli meyakini, jika masyarakat berperan aktif menjaga asupan  gizi anaknya, maka kasus Stunting bisa dicegah. Menurutnya untuk menekan kasus Stunting tersebut, tentu tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah saja. 

"Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam menekan Stunting. Oleh karena itu, kita berharap, kalau petugas kami bersama kader Posyandu berkunjung ke rumah-rumah warga untuk mengetahui kondisi kesehatan warga, jangan ditolak,” pungkasnya. 

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. 

Menurut UNICEF, Stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (Stunting sedang dan berat) dan minus tiga (Stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. 

Selain pertumbuhan terhambat, Stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Rendahnya Kesadaran Masyarakat


Kader Posyandu Desa Medan Mas, Kecamatan Kubu Raya, Suryani menilai, hingga saat ini kesadaran ibu hamil dalam menjaga asupan gizi masih tergolong rendah. 

"Bahkan, ada sebagaian oknum ibu hamil yang kita temukan seolah tak mau memeriksakan kehamilannya secara berkala ke bidan desa. Ada pula semacam tak peduli. Padahal, sudah kita beri pendampingan dan penjelasan tentang pentingnya melakukan pemeriksaan secara rutin," kata Suryani.

Menurutnya, hal seperti itu yang menjadi kendala utama dalam memberikan pendampingan ibu hamil. Petugas kesehatan yang menemukan kasus seperti itu pun menjadi dilemma.

Di satu sisi, setiap ibu hamil menjadi tanggung jawab petugas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan secara rutin, supaya jika terjadi masalah dalam kehamilan, bisa segera ditangani. Tetapi di sisi lain, ada pula oknum ibu hamil yang tak menganggap pemeriksaan itu penting. 

"Tetapi, kalau sudah ada masalah, baru semua (Kader Posyandu dan Bidan Desa)  disalahkan. Jadi ada kasus seperti ini. Itu yang kadang membuat kita serbasalah," katanya. 

Untuk memberikan pemahaman kepada seluruh warga agar aktif memeriksakan kesehatan memang bukan perkara mudah. Sebab itu, semua pihak harus memahami, berbagai persoalan di lapangan, sehingga tak mudah saliing menyalahkan. (abd/ang)