Sudah Hidup Susah di Gubuk Reot, Ditipu Pula, Ibu 10 Anak Ini Butuh Perhatian Pemerintah

Kubu Raya

Editor Indra W Dibaca : 5946

Sudah Hidup Susah di Gubuk Reot, Ditipu Pula, Ibu 10 Anak Ini Butuh Perhatian Pemerintah
Gubuk Asnawir di Desa Kakap, Kecamatan Kakap, Kubu Raya. (SP/Abdul)
KUBU RAYA, SP - Asnawir (63) hanya bisa meratapi penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Badannya sudah kurus. Tinggal kulit dan tulang. Otot kakinya pun telah mengering. Berdiri juga sudah tak bisa. 

Di gubuk yang hanya beratap daun, dengan dinding yang bolong, pria renta ini hanya bisa merintih menahan sakit yang dideranya selama dua tahun terakhir. 

Rabu (18/7) sekitar pukul 13.00 WIB, Suara Pemred berkunjung ke kediaman Asnawir di Jalan Hidayat, Dusun Merpati, Desa Kakap, Kecamatan Kakap, Kubu Raya. 

Mencari alamat rumah Asnawir cukup rumit. Bahkan harus bertanya dulu ke warga, baru rumahnya bisa ditemukan. Pasalnya, gubuk Asnawir berada di pinggir sungai di belekangan rumah warga. Akses menuju ke rumah Asnawir hanya jalan setapak.

Saat tiba di gubuk Asnawir yang berukuran 2x6 meter, terlihat beberapa anak kecil sedang bermain. Suara walet dari gedung yang mengapit gubuk Asnwir membuat suasana bising di siang hari.

Sementara Asnawir terbaring lemas di dalam rumah yang didindingnya tembus cahaya matahari. Tak lama kemudian, seorang perempuan berkerudung  dari dapur yang hanya bersekat kain keluar menghampiri saya. 

Perempuan itu ternayata istri dari Asnawir. Dia bernama Saedah (38) tahun.

"Masuk lah mas," ajaknya mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya. 

Saedah pun lantas duduk bersimpuh, di samping sang suami yang sedang terkungkung batuk. Sembari memijit suami, Saedah mulai bercerita tentang kondisi penyakit suaminya.

"Suami saya ini sebenarnya sudah delapan tahun sakit. Awalnya sakit paru-paru. Sempat menjalani pengobatan rutin dari puskesmas selama enam bulan. Sempat sembuh. Tetapi dua tahun terakhir ini penyakitnya kambuh lagi. Malah makin parah. Sekarang sudah tak bisa berdiri. Makan pun sudah harus disuap," katanya. 

Hidup dalam kondisi ekonomi terbatas, Saedah pun tak bisa berbuat banyak tuk mengobati sang suami ke dokter secara rutin. Jangankan BPJS, fasilitas Askes dari pemerintah saja dia tak punya. 

"Pernah bawa suami berobat ke Rumah Sakit Bayangkara Pontianak, karena di suruh sama puskesmas. Itu pun pakai jalur pelayanan umum. Karena ekonomi susah,  sekarang saya hanya mengobati suami dengan memanggil Mantri ke rumah. Karena suami saya sudah tak bisa digonceng ke puskesmas," katanya.  

Dengan kondisi suami yang sakit, Saedah harus banting tulang untuk mencari uang. Ada sepuluh anaknya yang juga masih kecil-kecil, yang  harus dihidupi. 

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, siang hari Saedah mangkal di Pasar Kakap membuka jasa sol sepatu. Sementata sore hari dia bekerja menjadi pembantu rumah tangga di daerah Kota Baru Pontianak. 

Bekerja menjadi pembantu rumah tangga, Saedah hanya digaji Rp600 ribu per bulan. Gaji tersebut sangat tak cukup  buat makan dan jajan anaknya yang sekolah. 

"Buat tambah-tambah, itulah saya sol sepatu di pasar," ungkapnya.  

Kondisi kehidupan keluarga Asnawir dan Saedah memang sangat memprihatinkan. Keluarga ini hidup di bawah garis kemiskinan. Ironisnya,  rumah yang ia tempati saat ini pun sudah nyaris roboh.  

Bangunan gubuk yang ia tempati sudah reok. Atap daun yang menaungi huniannya itu bertambal sulam dengan kantong plastik agar tak diguyur air saat musim penghujan. 

Sementara dindingnya juga sudah tembus pandang karena bolong. Asnawir yang kini sakit keras harus tidur di lantai tanpa kasur yang empuk. Begitu pula dengan 10 anak-anaknya, juga harus tidur melantai.

"Kami hidup di gubuk ini sudah puluhan tahun. Kalau hujan, kain lap dibentang supaya air hujan menyerap dan tidak menyebar ke seluruh lantai," kata Saedah. 

Saedah mengaku beberapa kali ada pendataan untuk program bedah rumah untuk memperbaiki gubuk deritanya itu. Bahkan suatu ketika, ada petugas yang meminta uang Rp300 ribu kepadanya agar program bedah rumah tersebut bisa dia dapatkan.  

"Uangnya saya kasih, tetapi sampai sekarang bedah rumahnya tidak ada.  Saya ditipu rupanya," ungkapnya kesal. 

Saedah berharap besar ada bantuan pemerintah untuk memperbaiki huniannya tersebut. Sebab kondisi rumahnya itu memang sudah tidak layak huni. (Abdul)