Buruh PT APL Tagih Upah Sesuai UMK, Lakukan Aksi Mogok Kerja

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 208

Buruh PT APL Tagih Upah Sesuai UMK, Lakukan Aksi Mogok Kerja
MOGOK KERJA - BHL yang bekerja di perusahaan sawit PT APL yang berada di Rasau Jaya saat melalukan mogok kerja, Kamis (7/8). (SP/Abdul)
Karyawan PT APL
"Kemarin kami mogok kerja selama 4 hari. Selama ini kami digaji di bawah dari UMK."

KUBU RAYA, SP - Perusahaan perkebunan sawit, PT Asia Palm Lestar  (APL) yang berlokasi di Rasau Jaya membayar upah kepada Buruh Harian Lepas dibawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) sejak awal 2017 hingga Mei 2018. Akibatnya sejumlah BHL diperusahaan itupun melakukan aksi mogok kerja.

"Kemarin kami mogok kerja selama 4 hari. Selama ini kami digaji dibawah dari UMK," kata seorang buruh harian lepas PT APL yang enggan disebutkan namanya, Rabu (8/8).

Mogok kerja yang dilakukan itu, kata buruh tersebut merupakan bentuk protes keras. Karena perusahaan lamban merespon pelunasan upah yang diminta buruh sesuai standar UMK.

Dalam aksi mogok kerja selama empat hari itu, para buruh mendesak perusahaan agar segera membayarkan sisa upah mereka selama ini. 

"Jadi, kita menuntut upah kami dari awal 2017 hinggal Mei 2018 yang selama ini belum sesuai UMK itu, agar segera dibayarkan sisanya," katanya.

Menurut dia, per Juni 2018, pihak perusahaan baru menyetujui pembayaran upah buruh sesuai UMK, pasca dilakukannya aksi mogok kerja secara massal tersebut. 

"Meski demikian, kita tetap menagih, agar perusahaan ini juga melunasi tunggakan upah kami dari awal 2017 hingga Mei 2018 sesuai standar UMK tadi," pungkasnya.

Ketua Sarikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Kubu Raya, Sujak mengatakan, pihaknya akan ikut mengawal hak buruh yang bekerja di PT APL tersebut agar perusahaan bisa segera membayar tunggakan upah buruh sesuai standar UMK.

"Memang pada bulan Juni dan Juli 2018 upah yang diberikan perusahaan ke buruh sudah sesuai UMK. Hanya saja dari awal 2017 hingga Mei 2018 tidak sesuai dengan UMK. Nah inilah yang mereka tuntut. Kami dari SBSI terus berupaya menegosiasikan ini dengan pihak perusahaan, agar perasoalan  ini cepat selesai," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak perusahaan belum dapat dikonfirmasi untuk dimintai tanggapan atas desakan buruh yang meminta perusahaan segera melunasi sisa upah tersebut sesuai standar UMK.

Suara Pemred sudah berupaya melakukan konfirmasi ke pihak perusahaan, melalui telepon. Namun pihak yang bersangkutan tak memberi jawaban. (abd/jek)

Mesti Ada Keterlibatan Pemkab 

Tokoh Pemuda Kubu Raya, Jamaludin mengatakan, terkait persoalan ini, mesti ada keterlibatan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, khususnya instansi terkait untuk mencari solusi agar persoalan ini dapat diselesaikan.

"Jika tidak ada keterlibatan dari Pemkab, saya perkirakan tidak akan ada kesepakatan, antara keduanya. Persoalan ini pasti kembali terulang," ujar Jamaludin.

Selain dari itu, kata Jamaludin, Pemkab Kubu Raya juga harus tegas terhadap perusahaan yang beroperasi di Kubu Raya, terutama yang berkaitan dengan penghasilan atau gaji yang diterima oleh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.

"Persoalan gaji ini sangat riskan. Oleh sebab itu harus ada andil dari Penkab setempat. Setidaknya memberikan peringatan bagi perusahaan yang membayar upah di bawah UMK Kubu Raya," kata Jamal. 

Menurut dia, seluruh perusahaan yang beroperasi di Kubu Raya sudah seharusnya memberikan upah kepada karyawannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, terlebih perusahaan perkebunanan kelapa sawit yang cukup banyak memperkerjakan orang. 

"Itu sudah menjadi aturan, setiap Kabupaten atau Kota sudah ada ketetapan UMK nya. Perusahaan harus memenuhi ini, apalagi UMK ini merupakan Keputusan Gubernur Kalbar," kata Jamaludin. 

Ia mengatakan sesuai dengan aturannya, suatu perusahaan yang menerima karyawan baru, atau memiliki karyawan yang belum memiliki masa kerja satu tahun, maka penetapan besaran gaji harus berdasarkan pada besaran UMK Kubu Raya.

"Jika UMK Kubu Raya Rp2 juta, maka harus dibayar sebesar itu pula. Tidak boleh kurang dari itu, kalau lebih besar boleh," ujarnya (jek)