Kubu Raya Butuh Transportasi Air Publik

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 79

Kubu Raya Butuh Transportasi Air Publik
Grafis Koko (Suara Pemred)
Tokoh Masyarakat Kubu Raya, Busrah Abdullah
"Makanya, kami berharap pemerintah ada solusi untuk menekan, agar biaya transportasi air bisa lebih murah," 

Plt Kadishub Kubu Raya, Damhuri
"Kami ada menargetkan kapal itu dapat terealisasi. Di mana itu tercantum dan dimasukkan di dalam RPJMD Kubu Raya"

KUBU RAYA, SP – Meski Kabupaten Kubu Raya memiliki 39 pulau, pemerintah setempat belum menyediakan transportasi air yang mumpuni. Pengelolaan sepenuhnya diserahkan pada swasta. Pengadaan transportasi publik justru dilakukan di darat dengan enam trayek bus perintis.

Padahal, sebagian besar masyarakat hidup di pesisir. Pulau-pulau pun banyak yang tak terhubung satu sama lain. Keberadaan transportasi publik air semestinya jadi aspek penting. 

Tokoh Masyarakat Kubu Raya, Busrah Abdullah mengatakan hampir 70 persen wilayah kabupaten itu perairan sungai dan laut. Selain transportasi darat, tentu masyarakat perlu transportasi jalur sungai maupun laut. Terutama untuk anak sekolah dan mengakses layanan rumah sakit.

"Transportasi laut juga diperlukan terutama di wilayah pulau. Seperti pulau-pulau di  Kecamatan Sungai Kayu, lalu Padang Tikar, itu memang transportasinya laut atau sungai," jelasnya, Selasa (6/11). 

Selama ini warga yang memiliki sampan bermesin terkendala Bahan Bakar Minyak (BBM). Walau sebenarnya ada, BBM dikhususkan untuk nelayan. Padahal, peruntukannya penting untuk transportasi.

Hingga kini belum ada program pemerintah, khusus transportasi air. Sarana yang ada hanya berasal dari swadaya masyarakat, seperti motor tambang maupun speed boat. 

"Memang ada pemerintah membangun dermaga. Hanya saja, dermaga-dermaga masih harus banyak dibangun, terutama di daerah pesisir-pesisir dan transportasi juga harus disediakan," ujarnya.

Biaya transportasi sungai saat ini tergolong mahal. Sebagai contoh, motor tambang untuk setengah jam perjalanan, masyarakat harus membayar Rp15-20 ribu per tiket. Sedangkan untuk transportasi darat seperti opelet, paling mahal hanya Rp5-7 ribu.

"Makanya, kami berharap pemerintah ada solusi untuk menekan, agar biaya transportasi air bisa lebih murah," tutur dia.

Jalur lintasan sebenarnya sudah terbentuk alami. Pemerintah tinggal menyediakan fasilitas. Baik dermaga dan alat transportasi. Stasiun pengisian bahan bakar juga harus dibangun, agar BBM lebih murah. 

“Karena pemicu mahalnya transportasi air ini adalah, susahnya mendapat pasokan bahan bakar dan mahalnya bahan bakar itu sendiri,” katanya.

Masalah keamanan dan kenyamanan transportasi air juga masih perlu perhatian. Pasalnya, kasus tabrakan antara speed boat dan kapal motor pernah terjadi. Sementara penumpang tidak diasuransikan.  

“Itu karena tiketnya tidak resmi dari pemerintah. Tapi karena tidak ada pilihan bagi masyarakat, mereka tetap menggunakan transportasi air itu," jelasnya.

Maka, transportasi air resmi dari pemerintah untuk menyaingi transportasi swasta diperlukan. Dengan demikian, swasta mau tidak mau akan ikut aturan pemerintah, seperti asuransi tiket,  dan kenyamanan pengguna transportasi air terjaga.

“Anak-anak sekolah terlambat hanya karena menunggu transportasi, ibu-ibu yang akan melahirkan terlambat dibawa ke rumah sakit, karena kesulitan transportasi air,” sebutnya. 

Masyarakat lain, Saidina Ali berujar, masih banyak masyarakat bertumpu pada jalur air. Misalnya, mereka yang tinggal di pesisir Sungai Landak dan Sungai Kapuas. Tak kalah penting adalah ketersediaan dan harga BBM.

"Karena bahan bakar minyak inilah yang mempengaruhi biaya angkut transportasi air," ujar dia.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Kubu Raya, Damhuri mengatakan, sementara pihaknya baru menjangkau transportasi jalur darat. Bahkan dari enam trayek yang dikerjasamakan dengan Damri, baru satu terealisasi.

Namun jika di dalam perkembangannya banyak masyarakat membutuhkan transportasi air, dinas akan berupaya mengadakan.

"Makanya untuk sungai ini kita masih tahap penjajakan dan observasi, daerah mana yang perlu jangkauan transportasi air," tutur dia. 

Pihaknya sudah menginstruksikan kepada jajarannya untuk melakukan observasi. Akan tetapi, dia belum mendapat laporan secara rinci hasilnya. 

Salah satu opsi yang bisa dijajaki adalah, dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dibantukan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Desa akan diberi ruang gerak berkaitan transportasi air.

"Saat ini kita belum punya transportasi air yang khusus untuk itu. Kita hanya mengurus trayek dan izin transportasi pihak swasta. Kita mengimbau pemilik motor untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada pelanggan," jelasnya. 

Di tahun depan, belum ada anggaran untuk penyediaan tranportasi dari Pemda. Kecuali, bantuan transportasi untuk BUMDes, itu pun dari dana pusat.

Dia menegaskan, sejatinya Pemda sudah mempersiapkan. Namun belum tahu kapan terealisasi.

"Kami ada menargetkan kapal itu dapat terealisasi. Di mana itu tercantum dan dimasukan di dalam RPJMD Kubu Raya," ujarnya. 

Bus Perintis

Sebelumnya, Pemda Kubu Raya membuka enam rute trayek angkutan perintis bekerja sama dengan Damri. Namun hingga kini baru satu rute yang jalan, yakni rute Terminal Antar Lintas Batas Negara (ALBN) Sungai Ambawang-Terminal Rasau Jaya-Terminal Sungai Raya.

Sementara rute yang belum terealisasi, Terminal Sungai Kakap-Terminal Punggur Kecil-Terminal Sungai Raya-Terminal ALBN Sungai Ambawang; Terminal Sungai Kakap-Jeruju Besar-Sungai Rengas-Terminal Nipah Kuning; Dermaga Suka Lanting-Terminal Sungai Raya-Terminal ALBN Sungai Ambawang; Terminal Sungai Ambangah-Terminal ALBN Sungai Ambawang-Terminal Sungai Raya, dan; Kuala Mandor A-Terminal ALBN Sungai Ambawang-Terminal Sungai Raya. 

Selain berhenti di terminal, pihaknya juga akan menyediakan tempat pemberhentian bus di beberapa titik. Khususnya untuk mengangkut penumpang yang menunggu di pinggir jalan. Diyakini, trayek bus tidak akan mengganggu trayek opelet yang lama beroperasi.

Bupati Kubu Raya, Rusman Ali mengatakan, pembukaan trayek angkutan perintis dilakukan seiring terbangunnya sebagian besar infrastruktur jalan di Kabupaten Kubu Raya. Dengan kondisi itu, Pemkab berkomitmen membangun kesejahteraan, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. 

“Di mana salah satunya membuka trayek angkutan perintis, guna meningkatkan arus lalu lintas dan percepatan perputaran ekonomi masyarakat,” ujar Rusman Ali.

Rusman mengatakan, saat ini tuntutan masyarakat akan pelayanan angkutan yang baik, murah, dan nyaman kian tinggi. Hal itu berdampak pada maraknya kehadiran angkutan umum taksi, dan ojek dalam jaringan (online).

Namun begitu, di era keterbukaan dan persaingan sehat, keberadaan angkutan massal tetap jadi perhatian pemerintah daerah, untuk memacu optimalisasi pelayanan transportasi.

“Hal ini agar semua moda transportasi angkutan orang, baik angkutan orang dalam trayek maupun non-trayek, bisa hadir bersama bergandeng tangan membantu pemerintah dalam pelayanan transportasi,” sebutnya. (iat/bls)

Tunggu Terobosan

Angota DPRD Kubu Raya, Hamdan mengatakan, Kabupaten Kubu Raya yang dikelilingi oleh sungai termasuk laut, harus memperhatikan ketersediaan transportasi air. Sejauh ini sudah ada dorongan. Selain itu, perbaikan dan pembuatan dermaga sudah dilakukan. 

Selama ini ketersediaan transportasi air hanya dipenuhi pihak swasta. Sementara pengawasan yang dilakukan masih kurang. 

"Mungkin nanti Pemda juga mempunyai terobosan baru untuk memperbanyak penyeberangan feri, seperti ke Padang Tikar yang belum ada, makanya ke depan harus ada transportasi sebagai penyambung antara pulau ini," tuturnya.

Anggaran besar tentu akan tersedot. Namun hal itu tidak bisa jadi alasan Pemda untuk tidak menyediakannya. Pemda bisa melakukan lobi ke pusat untuk membantu menyediakan transportasi air.

Selain melakukan observasi lapangan terkait kebutuhan dan rute, Pemda harus memberikan pencerahan kepada masyarakat. Sehingga keamanan dan kenyamanan transportasi air yang selama ini jadi masalah dapat diperbaiki. Harus ada sinergitas antara Pemda dan perusahaan membenahi keselamatan para penumpang.

"Jangan sampai terjadi musibah baru ribut. Inikan harus ada aturan yang diperjelas, misalnya kapasitasnya berapa, inikan perlu dorongan pemerintah untuk croschek di lapangan," ujarnya.

Tidak ada salahnya Pemda menyediakan transportasi air yang sepadan dan memang dibutuhkan oleh masyarakat. Karena selama ini transportasi air tidak jelas pengaturannya. Orang dan barang dimuat jadi satu.

"Kalau misal swasta transportasi barang, Pemda bisa transportasi untuk orang, motor dan sebagainya. Inikan lebih efektif dan aman ke depan, saya pikir ini harus menjadi poin perhatian Kabupaten Kubu Raya," ujar dia.

Dia yakin Pemda memasukan transportasi air dalam RPJMD, karena ini berkaitan dengan penghubung. Apalagi transportasi bukan hanya program jangka pendek namun juga panjang. 

"APBD kita memang belum bisa untuk meluas transportasi air ini. Tapi kita akan tetap mendorong, apalagi ketika saya lihat liburan atau hari besar ketergantungan terhadap tranportasi air sangat tinggi. Saya rasa ini harus terprogram dan menjadi hal yang utama," katanya. (iat/bls)